APBN 2025 Defisit di Tengah Lonjakan Investasi, Ini Penjelasan Pemerintah!

Ilustrasi grafik menunjukan defisit APBN 2025 dan melesatnya investasi (Foto: Generated AI)
El John News, Jakarta-Realisasi investasi nasional sepanjang 2025 berhasil melampaui target pemerintah. Namun, capaian positif tersebut belum sejalan dengan kinerja penerimaan pajak yang justru mengalami penurunan. Kondisi ini ikut menekan kinerja fiskal, tercermin dari defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang mencapai 2,92 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), atau nyaris menyentuh batas 3 persen.
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menegaskan bahwa ketidaksinkronan antara peningkatan investasi dan penerimaan pajak merupakan konsekuensi dari karakter investasi yang bersifat jangka panjang. Menurutnya, dampak fiskal dari investasi tidak bisa dirasakan secara langsung.
“Saya yakin ini ke depannya juga akan terus memberikan kontribusi yang positif terhadap APBN kita. Karena memang pajak-pajak yang tercipta dari investasi yang masuk ini itu, karena ini adalah investasi long term commitment, long term investasi jangka panjang,” ujar Rosan dalam konferensi pers di kantor Kementerian Investasi, Jakarta Selatan, Kamis (15/1/2025).
Ia menjelaskan, pemerintah memberikan berbagai insentif untuk menarik minat investor, terutama pada sektor-sektor strategis dan hilirisasi. Meski insentif tersebut berpotensi menahan penerimaan pajak dalam jangka pendek, Rosan meyakini manfaat ekonominya akan meningkat seiring berjalannya waktu.
“Dampak investasi itu tidak bisa langsung dirasakan, tetapi dalam perjalanannya akan terus meningkat sehingga kontribusinya akan makin besar terhadap APBN”
Rosan juga menekankan bahwa investasi tidak semata-mata dinilai dari besaran nilai modal yang masuk, melainkan juga dari dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja dan penguatan sumber daya manusia. Ia mencontohkan sektor pertanian yang nilai investasinya relatif lebih kecil, tetapi memiliki daya serap tenaga kerja yang tinggi.
“Contohnya di hilirisasi di kelapa nilainya US$100 juta dan penciptaan lapangan pekerjaannya itu mencapai 10 ribu orang. Biasanya kan kalau di hilirisasi mineral itu angkanya US$1 miliar, US$2 miliar, US$4 miliar, tetapi memang inilah kita coba cari keseimbangan,” ujar Rosan.
Sepanjang 2025, realisasi investasi tercatat mencapai Rp1.931,2 triliun atau 101,3 persen dari target Rp1.905,6 triliun, tumbuh 12,7 persen secara tahunan. Namun, Kementerian Keuangan mencatat penerimaan pajak neto justru turun 0,7 persen menjadi Rp1.917,6 triliun.
Tekanan pada penerimaan pajak tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat defisit APBN 2025 melebar hingga 2,92 persen PDB. Meski demikian, pemerintah tetap optimistis lonjakan investasi saat ini akan menjadi sumber penerimaan negara yang lebih kuat dalam jangka menengah dan panjang.
