DEN Ingatkan Risiko Pelemahan Rupiah, Minta Pemerintah Antisipasi Kenaikan Harga Barang

0
4024WhatsApp_Image_2026-06-10_at_6.30.20_AM

Pimpinan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memberikan penjelasan tentang pelemahan rupiah (Foto: BPMI Setpres)

El John News, Jakarta-Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai dampak pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu kenaikan harga barang dan jasa yang pada akhirnya dapat menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.

Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan utama saat jajaran DEN bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (9/6/2026). Pertemuan tersebut dihadiri Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan bersama sejumlah anggota DEN, di antaranya Chatib Basri, Septian Hario Seto, dan Mochammad Firman Hidayat.

Dalam kesempatan itu, DEN menyampaikan sejumlah perkembangan ekonomi nasional serta tantangan global yang diperkirakan akan mempengaruhi kondisi perekonomian Indonesia pada paruh kedua tahun 2026.

Anggota DEN Chatib Basri menilai pelemahan rupiah harus menjadi perhatian serius karena dapat berdampak langsung terhadap harga kebutuhan masyarakat.

“Salah satu isu penting yang harus diperhatikan adalah kemungkinan mengenai risiko kenaikan harga-harga yang bisa terjadi akibat dari pelemahan rupiah. Karena ini tentu akan berdampak pada kelompok menengah bawah,” kata Chatib Basri.

Selain risiko inflasi, Chatib menekankan pentingnya menjaga kepercayaan publik terhadap kebijakan ekonomi pemerintah. Menurutnya, langkah efisiensi anggaran perlu terus dilakukan untuk menjaga kesehatan fiskal sekaligus memperkuat keyakinan masyarakat terhadap arah kebijakan pemerintah.

Ia mencontohkan efisiensi juga perlu diterapkan dalam pelaksanaan berbagai program prioritas nasional, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Termasuk di antaranya di dalam kaitan dengan MBG,” ujarnya.

Meski memberikan sejumlah catatan kewaspadaan, DEN menilai fondasi perekonomian Indonesia saat ini masih berada dalam kondisi yang relatif kuat dan berbeda dibandingkan situasi saat krisis ekonomi 1998.

Anggota DEN Mochammad Firman Hidayat menjelaskan bahwa sejumlah indikator ekonomi menunjukkan kondisi yang cukup stabil. Salah satunya terlihat dari tingkat utang korporasi dalam mata uang dolar yang jauh lebih rendah dibandingkan masa krisis dua dekade lalu.

“Salah satunya kalau teman-teman lihat, utang perusahaan dalam dolar itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan kondisi 1998,” tutur Firman.

Selain sektor korporasi, ketahanan sektor perbankan juga dinilai masih sangat baik. Firman menyebut rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) perbankan nasional masih berada di atas 25 persen.

“Dari sisi perbankan kita juga bisa lihat rasio kecukupan modal di posisi atas 25. Ini menunjukkan sistem perbankan kita cukup kuat,” katanya.

Namun demikian, DEN mengingatkan pemerintah untuk tetap waspada terhadap berbagai risiko global, termasuk ketidakpastian geopolitik dan konflik internasional yang berpotensi berkepanjangan. Kondisi tersebut dapat memicu kenaikan harga energi dunia dan memperbesar tekanan terhadap perekonomian nasional.

Firman juga menyoroti adanya perbedaan antara tingkat inflasi konsumen dengan indeks harga perdagangan besar yang berpotensi menjadi sumber tekanan harga pada semester kedua tahun ini.

“Kalau teman-teman lihat kan Indeks Harga Konsumsi sekitar 3 persen, tapi Indeks Harga Perdagangan Besar itu di sekitar 7 persen. Dan ini yang perlu diantisipasi nanti di semester kedua,” jelasnya.

Untuk menghadapi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, DEN turut memberikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah. Salah satunya dengan meningkatkan penerimaan devisa melalui optimalisasi pekerja migran Indonesia yang bekerja di luar negeri.

“Program-program Bapak Presiden untuk meningkatkan pekerja migran berkualitas seperti perawat, tukang listrik, dan segala macam itu bisa membantu meningkatkan devisa ke depan,” ujar Firman.

Selain itu, sektor pariwisata juga dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat cadangan devisa negara. Firman menilai peningkatan jumlah wisatawan mancanegara dapat menjadi salah satu solusi jangka menengah untuk menopang stabilitas ekonomi nasional.

“Kalau kita bisa meningkatkan wisman lebih tinggi dalam waktu ke depan ini, tentu akan bisa membantu meningkatkan devisa kita,” katanya.

DEN berharap berbagai langkah antisipatif tersebut dapat memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi tekanan global sekaligus menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *