Presiden Prabowo Jawab Kritik Kunjungan Luar Negeri, Singgung Pengalaman Jokowi

0
3403WhatsApp_Image_2026-06-10_at_9.46.14_PM

Presiden Prabowo Subianto kasih kata sambutan pada Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). (Foto: BPMI Setpres)

El John News-Presiden Prabowo Subianto memberikan tanggapan atas kritik yang kerap dialamatkan kepadanya terkait frekuensi kunjungan kerja ke luar negeri sejak menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Menurutnya, kritik semacam itu merupakan hal yang biasa dalam kehidupan politik dan pernah pula dialami oleh presiden sebelumnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden saat membuka Musyawarah Nasional XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Bandar Lampung, Rabu (10/6/2026).

Dalam sambutannya, Presiden menyinggung pengalaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang juga pernah menjadi sasaran kritik karena dianggap terlalu jarang melakukan kunjungan ke luar negeri. Sementara dirinya justru mendapat kritik karena dinilai terlalu sering melakukan lawatan internasional.

“Jadi ada Presiden kayak Pak Jokowi yang jarang keluar negeri, disalahkan. Jokowi tidak pernah keluar negeri, Jokowi tidak peduli politik luar negeri. Saya sering ke luar negeri, ‘Prabowo sering ke luar negeri’, aneh, sebetulnya tidak ada masalah,” kata Presiden.

Presiden menjelaskan bahwa setiap kunjungan luar negeri yang dilakukannya merupakan bagian dari upaya memperkuat hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara sahabat. Menurutnya, langkah tersebut juga menjadi implementasi dari politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif.

Presiden menilai pendekatan diplomasi yang terbuka semakin penting di tengah dinamika global yang saat ini diwarnai berbagai konflik dan ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan dunia.

Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki landasan politik luar negeri yang kuat sejak awal kemerdekaan. Prinsip bebas aktif yang diwariskan para pendiri bangsa memungkinkan Indonesia menjalin hubungan baik dengan berbagai negara tanpa harus berpihak pada blok tertentu.

Menurut Presiden, kebijakan tersebut terus menjadi pedoman pemerintah dalam membangun hubungan internasional yang konstruktif dan saling menguntungkan.

Presiden juga menegaskan bahwa Indonesia harus mampu menjaga hubungan baik dengan seluruh pihak, termasuk negara-negara yang memiliki kepentingan dan posisi geopolitik berbeda.

“Seribu kawan terlalu sedikit. Satu lawan terlalu banyak. Ini adalah garis yang saya tempuh. Sekarang saya baik sama Presiden Putin, baik saya. Tapi saya baik juga sama Presiden Trump. Di sini saya disalahkan, di situ saya disalahkan. Tapi tidak ada masalah,” ujarnya.

Presiden menambahkan bahwa yang terpenting adalah bagaimana diplomasi Indonesia mampu menjaga kepentingan nasional sekaligus memperluas kerja sama internasional demi mendukung pembangunan dan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Melalui pendekatan tersebut, pemerintah berupaya memastikan Indonesia tetap menjadi mitra yang dihormati di tingkat global, sekaligus menjaga posisi strategisnya dalam menghadapi berbagai tantangan dunia yang terus berkembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *