Chinese Bridge 2026 Jadi Ajang Cetak Generasi Berdaya Saing Global Lewat Bahasa Mandarin

0
EJN09995

Penyerahan piala kepada para pemenang Chinese Bridge 2026 (Foto: EL JOHN Media/Sigit)

El John News, Jakarta-Kompetisi Bahasa Mandarin bergengsi tingkat nasional, Chinese Bridge 2026 (Jembatan Bahasa Mandarin), tidak hanya menjadi ajang unjuk kemampuan berbahasa asing bagi pelajar dan mahasiswa Indonesia, tetapi juga menjadi sarana untuk mempersiapkan generasi muda agar mampu bersaing di tingkat internasional.

Ajang bertema Chinese Show & Chinese Proficiency Competition for Foreign Students tersebut berlangsung selama tiga hari, 12–14 Juni 2026, di Ballroom Hotel Merlynn Park, Jakarta. Kompetisi ini mempertemukan peserta terbaik dari berbagai daerah di Indonesia yang telah lolos seleksi tingkat regional.

Para peserta berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Selain kemampuan berbahasa Mandarin, mereka juga menunjukkan keterampilan dalam seni pertunjukan dan pemahaman budaya Tiongkok.

Penyelenggaraan Chinese Bridge 2026 merupakan hasil kerja sama Pusat Kerja Sama dan Pertukaran Bahasa Asing Kementerian Pendidikan Tiongkok dengan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Indonesia serta Badan Koordinasi Pendidikan Bahasa Mandarin (BKPBM) Jakarta sebagai penyelenggara di Indonesia.

Ketua BKPBM Jakarta sekaligus Ketua Panitia Chinese Bridge 2026, Arifin Zain sedang memberikan kata sambutan (Foto: EL JOHN Media/Susilo)

Ketua BKPBM Jakarta sekaligus Ketua Panitia Chinese Bridge 2026, Arifin Zain, mengaku optimistis terhadap perkembangan pembelajaran bahasa Mandarin di Indonesia. Menurutnya, kompetisi ini menjadi salah satu sarana penting untuk meningkatkan kemampuan generasi muda Indonesia agar mampu bersaing di panggung dunia.

“Saya rasa saat ini kami cukup merasakan gembira, tapi tetap kami mengharap untuk ke depannya bahasa Mandarin untuk remaja kita di Indonesia bisa meningkat terus. Jadi bisa bersaing dalam pentas dunia internasional,” ujar Arifin.

Ia menjelaskan bahwa para pemenang kompetisi akan mendapat kesempatan mewakili Indonesia pada ajang Chinese Bridge tingkat internasional di Tiongkok. Kesempatan tersebut dinilai sangat penting karena memberikan pengalaman langsung berkompetisi dengan peserta dari berbagai negara.

“Jadi kalau mereka nanti dikirim ke Tiongkok untuk lomba internasional dari berbagai negara, itu harapan kami. Jadi supaya anak-anak kami bisa tahu kelebihan kita apa, kelemahan kita apa. Jadi supaya meningkat terus, kalau negara lain lebih maju kita mengejar dan kita jangan kalah,” katanya.

Menurut Arifin, keikutsertaan dalam kompetisi internasional bukan semata-mata untuk meraih prestasi, melainkan juga menjadi sarana evaluasi dan pembelajaran bagi generasi muda Indonesia dalam menghadapi persaingan global yang semakin ketat.

Ia menilai Indonesia memiliki modal yang sangat kuat untuk berkembang menjadi bangsa yang lebih maju karena kaya akan keberagaman suku, budaya, dan bahasa. Potensi tersebut perlu didukung dengan penguasaan bahasa asing sebagai bekal menghadapi tantangan global.

Penyerahan sertifikat kepada seluruh peserta (Foto: EL JOHN Media/Susilo)

Salah satu juara pertama kategori mahasiswa Hazel Restia Onny mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam kompetisi bahasa Mandarin tingkat dunia tersebut berawal dari rasa ingin tahu terhadap kemampuan dirinya sendiri.

Hazel menilai, Chinese Bridge bukan hanya ajang perlombaan, tetapi juga ruang untuk mengukur sejauh mana kemampuan bahasa Mandarin yang telah ia kuasai, sekaligus kesempatan untuk bertemu dengan peserta lain yang memiliki kemampuan lebih tinggi.

“Yang memotivasi saya mengikuti lomba Chinese Bridge ini karena saya ingin tahu kemampuan saya sudah sampai di mana. Saya juga tahu pasti ada orang yang kemampuan bahasa Mandarinnya lebih baik dari saya, jadi saya ingin mengukur diri saya,” ujar Hazel.

Selain itu, Hazel juga mengaku ingin memperluas pertemanan dengan peserta lain yang datang dari berbagai latar belakang dan kemampuan. Momen ketika dinyatakan sebagai juara pertama menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Hazel mengaku perasaannya campur aduk antara antusias, gugup, dan tidak percaya.

“Perasaan saya sekarang sangat deg-degan dan antusias karena bisa mendapatkan juara satu. Tapi jujur saya juga sedikit tidak percaya kalau saya bisa jadi juara,” ungkapnya.

Kemenangan tersebut menjadi kejutan besar baginya, mengingat ketatnya persaingan antar peserta dalam kompetisi bergengsi tersebut.

Dalam proses persiapan, Hazel mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang ia hadapi adalah pada bagian ujian tertulis. Menurutnya, bagian tersebut menuntut pemahaman bahasa Mandarin yang kuat serta ketelitian dalam menjawab soal.

Penyerahan sertifikat (Foto: EL JOHN Media/Sigit)

Meski demikian, seluruh rangkaian kompetisi mulai dari pidato, tanya jawab, hingga tes bakat tetap menjadi bagian penting yang harus dipersiapkan secara matang.

Lebih dari sekadar kompetisi, Hazel menilai Chinese Bridge memberikan banyak manfaat bagi pengembangan dirinya. Ia merasakan peningkatan kemampuan bahasa Mandarin secara signifikan seiring proses persiapan yang dijalani.

“Saya merasa kemampuan saya semakin lama semakin bagus dalam bahasa Mandarin. Selain itu saya juga bisa merasakan betapa luasnya dunia ini, karena di Indonesia saja banyak yang kemampuan bahasa Mandarinnya sangat hebat,” katanya.

Pengalaman tersebut juga membuka wawasannya tentang tingginya kompetisi dan kualitas peserta dari berbagai daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *