BMKG Tak Pernah Informasikan Bakal Ada Gempa 8 SR di Selat Sunda dan Lampung

0
ini-jawaban-mengapa-gunung-anak-krakatau-aktif-erupsi
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau  masyarakat untuk tidak mudah percaya dengan rekaman audio yang menginformasikan akan terjadi letusan dahsyat  Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda  dan Lampung Selatan. Jika menerima informasi tersebut, masyarakat diminta untuk tidak menyebarluaskan dan lebih baik di hapus.
Rekaman audio itu menyatut nama BMKG untuk menebar keresahan di masyarakat, seolah-olah isi rekaman itu benar berasal dari BMKG.  Rekaman audio berdurasi 1 menit 34 detik ini,  berbunyi bakal ada letusan Gunung Anak Krakatau yang menghasilkan gempa dengan skala 8 SR di wilayah Lampung dalam waktu dekat atau dalam beberapa hari atau dalam beberapa minggu ke depan.
Pertanyaan tertulis BMKG, Selasa (1/1/2018), menyebutkan BMKG tidak pernah mengeluarkan informasi seperi itu. Semua informasi yang dikeluarkan BMKG hanya disiarkan melalui media resmi BMKG untuk disebarkan kepada publik.
Sampai saat ini terkait gempa bumi terlebih tsunami belum bisa diprediksi, jadi jika banyak beredar terkait prediksi gempa dan tsunami abaikan saja berita tersebut.
BMKG dan juga Badan Geologi terus memantau perkembangan Gunung Anak Krakatau sampai saat ini.
“Jadi pastikan untuk memantau perkembangan beritanya hanya dari aplikasi InfoBMKG dan aplikasi MAGMA INDONESIA,” demikian BMKG.
Untuk memaksimalkan pemantauan keaktivitasan Gunung Anak Krakatua, BMKG telah memasang alat peringatan dini tsunami di sekitar Gunung Anak Krakatau. Teknologi tersebut berupa sensor pemantau gelombang dan iklim.
“BMKG menambah peralatan, saat ini yang sudah terpasang di Pulau Sebesi fungsinya untuk mengukur tinggi gelombang dan cuaca di sekitar gunung,” kata Kepala BMKG Prof Dwikorita Karnawati di Posko Terpadu Tsunami Selat Sunda, Labuan, Kabupaten Pandeglang, Selasa (1/1/2019).
Pulau Sebesi, kata dia, jadi alternatif pemasangan sensor sebagai kawasan paling dekat. Tempat yang paling dekat dengan Gunung Anak Krakatau sebenarnya adalah Sertung, namun Tim BMKG saat ini belum bisa menjangkau Sertung lantaran tingginya gelombang.
Dwikorita menyebut, nantinya alat tersebut akan bekerja memantau pergerakan gelombang dan cuaca yang disebabkan oleh aktivitas Gunung Anak Krakatau. Jika ada gelombang mengalami fluktuasi yang tinggi, maka sensor akan mengirim sinyal ke pusat data yang terhubung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *