Dian Kusumaning Tyas (Pemilik De Klappie) : Tanpa Mixer, Peluang Jadi Santer
Karena mixer rusak, maka Dian sukses menjual kue buatannya, De Klappie dengan omzet 16 juta per bulan. Apa yang dilakukannya ?
Usaha kuliner ini awalnya terbuka secara tak sengaja. “Pertengahan 2009, saat Lebaran, aku mudik ke Surabaya. Janjian sama kawan-kawan waktu SMP mau reunian. Mereka milih reunian di rumah ibuku aja, soalnya mereka tahu ibuku jago bikin kue. Cuma celakanya, pas hari H, ternyata Ibu harus pergi karena ada keperluan mendadak dan nggak sempat bikin kue. Bingung aku,” kenang Dian.
Tanpa Kocok
Tentu saja Dian sempat kelabakan. “Selama ini aku nggak pernah masak, soalnya nggak hobi. Bikin kue juga belum pernah. Sekolahku aja di Tehnik Sipil,” ceritanya.
Terbayang bagaimana riuhnya acara reunian nanti, namun apa jadinya kalau sama sekali tanpa suguhan. “Akhirnya aku bongkar-bongkar resep. Eh, masih apes lagi ! Mixer ibu ternyata rusak, nggak bisa dipakai !” tutur Dian.
Namun lantaran nggak ingin rekan-rekannya bengong, Dian menemukan ide, “Aku sengaja cari resep yang nggak usah ngocok pake mixer. Ketemulah resep klapertaart. Aku bikinnya juga sembarangan, yang penting jadi, dan ada yang disuguhkan untuk acara nanti.”
Namun di luar dugaan. Saat teman-temannya mencicipi kue bikinannya, mereka bertubi-tubi memuji. “Kata mereka, kueku enak sekali. Malah ada yang bilang, `Jual saja, nanti kan banyak yang suka`. Ya, aku nggak pede lah. Soalnya ini baru pertama kali bikin. Kalau suruh ngulang lagi, ya lupa resepnya, “kenang Dian.
Ketika balik ke Jakarta, Dian kaget karena teman-teman di FBnya pada memesan kue bikinannya itu. Ternyata acara reunian plus kuenya yang lezat itu di upload facebook.
“Dari situlah aku mulai kebanjiran pesanan dari teman-teman,” ungkapnya.
Modal 100 Ribuan
Dian mulai mencoba jualan. “Modal awalku 100 ribu rupiah, aku buat dengan cup kecil-kecil yang biasa untuk rumahan itu. Aku jual per cup 25 ribu,” ujarnya.
Dian membuat kue hanya berdasar order saja. Tetapi ternyata setiap hari selalu saja ada order yang datang. Dukungan dari teman-temannyalah yang membuat usaha kecil-kecilan ini kian berkembang.
Tambahan lagi, “Pada Januari 2010, aku bergabung dengan komunitas Tangan Di Atas (TDA) Jakarta Barat. Berkat networking dan mentoring, kue ini makin dikenal luas. Aku mulai punya banyak pelanggan,” ujarnya.
Dian memberi label kue klapertaartnya dengan MY Klappy. “MY berarti Memang Yummy. Aku senang karena sudah punya sesuatu yang beda. Eh, setelah itu banyak ternyata bermunculan produk-produk lain dengan label MY. Ada yang MY Macaroni, MY Lapis Keju, MY Lasagna dan lainnya. Wah banyak banget pokoknya,” tutur wanita yang pernah beberapa tahun bekerja di sebuah BUMN ini.
Tak hanya itu. Idenya ternyata juga menginspirasi salah seorang teman dekat Dian, “Tadinya temanku itu meminta resep klappertaartku. Karena dia tinggal di luar Jakarta dan katanya anaknya seneng banget sama kue ini, maka aku berikan resep aslinya,” tutur Dian.
Namun setelah beberapa saat, teman-temannya menanyakan apakah ada cabang MY Klappy di kota tersebut. “Ya, aku kaget. Aku nggak buka cabang dimana pun, kecuali di rumahku aja. Jadi kutelpon teman tadi. Dia Cuma bilang trimakasih dan sama sekali nggak bilang bahwa telah memakai resep dan brandingku, Tapi ya sudahlah, aku berlapang dada. Akhirnya aku ikhlas melepas merk dan resep tersebut. Aku mulai mencari merk lain plus resep lain yang beda. Prinsipku, kalau kita jualan sesuatu, meski namanya sama, tetapi rasa dan tampilan harus beda,” ungkapnya.
Berganti Merk & Resep
Pertengahan tahun 2010 itulah Dian mengganti merk kuenya dengan label `De Klappie. Halal, tasty ‘n’ Delicious`. Bukan itu saja, dia juga mengganti resep kuenya dengan yang baru. “Dan itu butuh puluhan kali eksperimen. Bukan sekali langsung jadi. Ada yang rasanya kurang pas karena lupa memasukkan modifikasi bahan yang sudah direncanakan. Ada yang rusak tidak jadi, ada yang jadi, tapi rasanya tidak seragam. Wah, pokoknya repot sekali!”
Namun, tidak ada usaha yang sia-sia. Setelah belasan kali mencoba sejumlah resep, akhirnya ditemukanlah resep yang pas seperti sekarang ini.
“Sekarang malah aku punya 5 varian rasa, orisinal, rasa pandan, rasa keju, rasa coklat dan rasa durian. Alhamdulillah ini hikmah yang aku dapat dari peristiwa tersebut,” tutur wanita asal Surabaya ini.
Rasa baru ini ternyata dinilai seru oleh para pelanggan. “Yang ini halal, karena nggak pake rhum. Juga nggak pake putih telur. Branding juga aku ganti jadi De Klappie,” tutur Dian dengan riang.
Toh, tetap ada saja pelanggan yang tak puas dengan resep baru ini. “Ada yang bilang kalo nggak pake rhum dan putih telur berarti bukan klappertaart dong. Aku jelaskan memang ini bukan klappertaart. ini De Klappie. Bukan kue khas Manado lagi. Ini kue khas Jakarta,” ungkapnya. Toh, De Klappie tetap merebut hati pelanggan baru dari hari ke hari. Pelanggan ternyata tak surut, bahkan sebaliknya, “Kupikir, wah semua berjalan lancar sekarang. Eh, tetapi ada aja yang terjadi. Suatu saat petugas delivery tiba-tiba bilang kalau hari ini nggak bisa mengantar. Wah, mau tak mau aku harus terjun langsung, mengantar ke pemesan, padahal ada di 20 titik dan lokasinya jauh-jauh. Aduuuuh … ribet banget, tetapi semua aku jalani dengan sabar … ” kenangnya
Peluang Promo
Melihat usahanya makin berkembang, Dian juga tidak tinggal diam. Dia mulai mengepakkan sayap meraih sejumlah peluang untuk berpromosi. Kecuali lewat BBM, Twitter dan media sosial lainnya, Dia melirik ajang pameran. “Pertama kali aku ikut pameran Pesta Wirausaha di SMESCO. Saat itu karyawanku baru 1 orang. Eh, nggak kusangka, disitu De Klappie terpilih jadi produk favorit versi pengunjung. Semua yang mencicipi kue ini langsung suka. Omzet De Klappie yang biasanya 3jt dalam sebulan, dalam dua hari pameran itu, bisa mencapai 5 jt. Dan produk selalu habis sebelum magrib. Bahkan di hari kedua produk habis pada jam 3 siang,” beber wanita yang kini usahanya membuahkan omzet 16 juta per bulan itu.
Hal inilah yang membuat hati Dian kian mantap. Ia mengangankan agar De Klappie menjadi buah tangan khas Jakarta. Hal itu tidak hanya dalam angan-angannya saja, pada kenyataannya, “Mereka yang berangkat dari Jakarta selalu memesan De Klappie untuk oleh-oleh. Ada yang ke Surabaya, Semarang, Yogja, Makassar, Balikpapan, Samarinda, Pontianak, Medan, Palembang, Jambi, Lampung, bahkan hingga ke Singapura, Birmingham, Perth, Hongkong, Qatar, New York. Ini luar biasa sekali, “ cerita Dian, bahkan “Ada pengusaha di Malaysia yang pengen buka franchise De Klappie disana. Waktu itu aku ikut event “Malaysia Intrade Halal Showcase (MIHAS) 2012 di sana.”
Iringan Doa
Melihat produknya mulai sering dibawa terbang ke luar Jakarta, Dian tidak berpangku tangan, “Aku mulai memikirkan kemasan yang aman. Pengalaman pertama kali waktu produk ini dibawa ke New York, aku kalang kabut menyiapkan kotak blue ice yang saat itu sulit didapat dalam jumlah sedikit. Wah, repot sekali. Tetapi aku bersyukur bahwa produkku ini tiba di sana dalam keadaan fresh dan cantik. Pelanggan sangat senang,” ungkapnya
Menurut Dian kue ini laris manis, lantaran banyaknya reseller. “Guruku di BISMA Centre iseng meletakkan gambar De Klappie di BBnya yang berisi full 2000 contact dan menuliskan `dicari reseller`. Besoknya aku kebanjiran 365 add contact dan 10%nya menjadi reseller. Aku sangat bersyukur sekali,” tutur pemilik usaha kue yang harganya berkisar 7 ribu hingga 100 ribu rupiah ini.
Untuk menjadi reseller, tak sulit caranya. Cukup dengan order rutin dan siap mengambil ke workshop untuk mendistribusikannya.
Kini Dian memimpikan untuk mencoba buka outlet di terminal Bandara Soekarno Hatta, agar produknya bisa mendunia dan mengangkat nama negeri ini. Tidak ada yang tidak mungkin, itu keykinan Dian. Apalagi, “Aku selalu menyertakan doa dalam mengawali setiap kerjaku. Mengutip pesan guruku, Doa adalah pengundang keajaiban di tengah kehidupan. Dan kerja adalah pengundang kepastian di tengah keraguan,”tutupnya. (Ade
INFO :
Facebook, twitter, LINE, PATH, KAKAOTalk, : DianDeKlappie





