Alat Musik Modern Dari Bambu Ramaikan Trade Expo Indonesia 2017
Trade Expo Indonesia (TEI) 2017 yang dilangsungkan di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Kota Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, Banten yang dilangsungkan dari tanggal 11 hingga 15 Oktober 2017, ternyata bukan hanya diikuti perusahaan besar milik pemerintah maupun swasta,namun ada juga beberapa booth yang memamerkan produk kreatif hasil kerajinan tangan, salah satunya alat musik yang bahan dasarnya terbuat dari bambu. Produk produk ini dikerjakan oleh sebuah komunitas yang dikenal dengan nama Indonesia Bamboo Community (IBC).
Saat tim redaksi EL JOHN Media mendatangi booth tersebut, terdapat beberapa alat musik modern yang dilapiskan bambu, seperti gitar listrik, drum dan amplifier. Tim EL JOHN Media pun tertarik untuk mengupas proses pembuatan hingga pemasaran alat musik yang unik ini. Kebetulan saat tim EL JOHN Media datang, ketua ICB Adang Muhidin berada di Booth.
Kepada tim EL JOHN Media, Adang mengatakan keinginannya membuat alat musik modern dari bambu berawal dari pengamatan Adang terhadap bambu pada April 2011 lalu. Setelah diamati ternyata bambu memiliki lubang yang serupa dengan jenis alat musik modern yang juga memiliki lubang. Biola menjadi produk pertama yang dibuat Adang dan saat diujicobakan suara biola dari bambu tidak kalah dengan biola pada umumnya.
Akhirnya Adang pun membentuk IBC untuk memperkuat produk-produk yang dihasilkan dan juga sebagai solusi alternatif untuk memberdayakan masyarakat. Bahkan komunitas ini sudah mendapatkan berbagai perghargaan.
“Kami sering mengadakan pelatihan di beberapa provinsi dan kami membentuk Indonesia Bamboo Community. Jadi kami mengumpulkan disinilah para penggiat bambu, para kreator bambu yang ingin maju ingin menaikan nilai ekonomis bambu Indonesia ,” kata Adang.
Produk-produk hasil karya ICB ini kini sudah mendunia. Adang mengaku ada beberapa negara yang menerima kehadiran produk ciptaan IBC ini. “Sampai saat ini produk kita sudah menyebar ke 13 negara, yang terjauh itu di Meksiko dan yang terdekat di Malaysia,” ujar Adang.
Meski demikian ada impian Adang maupun IBC yang hingga kini belum bisa terwujud yakni menggantikan bahan dasar pembuatan alat musik modern dari kayu ke bambu. Menurut adang kualitas bambu tidak kalah dengan kayu.
“Saya lihat untuk kayu itu kan harus 50 tahun pertumbuhannya . Sedangkan bambu hanya tiga sampai 5 tahun pertumbuhannya . Mimpi kami menggantikan hampir semua alat musik modern dengan bambu,” ungkap Adang.
Adang berharap pemerintah dapat memberikan dukungan penuh terhadap manfaat bambu yang kini dapat dipergunakan sebagai bahan dasar alat musik modern. Jika pemerintah turun tangan maka tidak menutup kemungkinan bambu dapat diproduksi dengan massal sehingga menghasilkan harga yang ekonomis dan tentunya juga tahan lama.
” Kekuatan bambu yang dilaminasi itu hampir setara dengan kayu ulin,” tutup Adang.

