Alimuddin: IKN Bukan Hanya Soal Infrastruktur, Tapi Transformasi Sosial-Budaya
Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) tidak hanya menyangkut infrastruktur fisik, namun juga menekankan penguatan aspek sosial, budaya, dan pemberdayaan masyarakat. Hal ini ditegaskan oleh Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN, Drs. H. Alimuddin, M.Si., dalam wawancara eksklusif bersama EL JOHN Media.
Alimuddin menjelaskan bahwa seluruh langkah dan strategi di bidang sosial dan budaya di IKN dilandaskan pada rencana induk yang telah ditetapkan pemerintah. “Kita bekerja berdasarkan master plan. Ada target-target capaian yang harus kita realisasikan. Ini termasuk bagaimana kita menyiapkan fasilitas layanan pendidikan, fasilitas layanan kesehatan, hingga pendekatan kepada masyarakat secara menyeluruh,” ujarnya.
Salah satu tantangan yang sedang dihadapi adalah bagaimana membangun sense of belonging atau rasa memiliki di kalangan masyarakat terhadap IKN sebagai kota masa depan. Menurutnya, pendekatan partisipatif menjadi penting agar masyarakat tidak merasa terpinggirkan dalam proses pembangunan.
“Kami ingin mengajak semua masyarakat untuk menjadi bagian dari kota ini. Kota Nusantara bukan hanya proyek infrastruktur, tapi sebuah ekosistem sosial baru yang inklusif. Tidak boleh ada sekat-sekat antarkelompok, apalagi pengotakan antara yang lama dan yang baru. Kota ini adalah rumah bersama,” jelasnya.

Smart City Tak Cukup dengan Teknologi, Perlu Warga yang Cerdas dan Peduli
Lebih lanjut, Alimuddin juga menekankan pentingnya mempersiapkan masyarakat agar mampu hidup dan berkembang dalam lingkungan kota kelas dunia. Konsep smart city yang diusung IKN, menurutnya, harus diimbangi dengan pembangunan manusia yang cerdas, atau smart citizen.
“Smart city itu bukan sekadar soal teknologi atau perangkat canggih. Kita ingin ciptakan smart citizen—masyarakat yang cerdas, kritis, melek informasi, dan punya tanggung jawab sosial. Percuma kalau kota ini pakai teknologi canggih, tapi warganya tidak siap. Maka, kita harus mencerdaskan masyarakat lokal,” tegasnya.
Oleh karena itu, Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat tengah mendorong berbagai program literasi digital, pelatihan keterampilan, hingga penguatan nilai-nilai kebangsaan dan toleransi. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari proses transformasi sosial yang berkelanjutan di kawasan IKN.
Kebudayaan Jadi Pilar Utama Pembangunan IKN Berkelanjutan
Alimuddin menambahkan bahwa aspek budaya juga menjadi perhatian besar. IKN sebagai kota masa depan tidak boleh kehilangan jati diri lokalnya. Kearifan lokal dan budaya Nusantara harus tetap menjadi identitas yang mengakar kuat dalam wajah modern kota baru ini.
“Budaya lokal bukan penghalang kemajuan, justru itu kekuatan kita. Maka pembangunan sosial dan budaya harus berjalan beriringan dengan pembangunan fisik. Kita bangun gedung, tapi jangan lupakan manusia dan nilai-nilai yang melekat padanya,” imbuhnya.

Sebagai penutup, ia berharap seluruh elemen bangsa ikut terlibat aktif dalam membangun kota ini, termasuk generasi muda dan pelaku komunitas lokal. IKN, katanya, bukan milik segelintir orang, melainkan warisan kolektif untuk masa depan Indonesia.
“Kota ini akan menjadi kota dunia. Tapi untuk itu, manusianya juga harus berkelas dunia. Kita sedang menciptakan kota baru yang bukan hanya modern secara tampilan, tapi juga kuat secara sosial, budaya, dan spiritual. Itulah Ibu Kota Nusantara yang kita cita-citakan bersama,” pungkasnya.
IKN Bukan Sekadar Pindah Kota, Tapi Strategi Pemerataan Pembangunan Nasional
Lebih lanjut, Alimuddin menjelaskan bahwa salah satu alasan utama di balik pemindahan ibu kota adalah untuk mengurangi ketimpangan pembangunan yang selama ini terpusat di Pulau Jawa. IKN dirancang menjadi super hub ekonomi baru yang tidak hanya menjangkau wilayah Kalimantan, tetapi juga seluruh kepulauan Nusantara.
“Kenapa ibu kota negara harus pindah? Salah satu jawabannya adalah soal kesejahteraan masyarakat. Selama ini kita terlalu Jawa-sentris. Dengan IKN, kita ingin menciptakan pusat pertumbuhan baru yang lebih merata, yang bisa menjadi penggerak ekonomi nasional dari tengah Indonesia,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa lokasi IKN yang berada di tengah kepulauan Indonesia telah dipertimbangkan secara geografis, strategis, dan politis. Hal ini untuk memastikan bahwa pusat pemerintahan benar-benar merepresentasikan Indonesia secara utuh, tidak berat sebelah, dan mampu menjangkau wilayah dari Sabang hingga Merauke.
Namun, Alimuddin mengingatkan bahwa pembangunan fisik dan infrastruktur hanyalah salah satu aspek dari pembangunan IKN. Lebih penting dari itu adalah pembangunan manusianya, yaitu masyarakat yang tinggal, hidup, dan menjadi bagian dari kota ini. “Kita sering terpukau oleh bangunan yang indah, jalan yang lebar, gedung pencakar langit. Tapi kita tidak boleh lupa bahwa tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup rakyat. Infrastruktur penting, tapi membangun manusia jauh lebih penting,” tegasnya
