ASMINDO Pastikan Kemitraan Strategis dengan AHEC Berlanjut Pasca Keputusan MA AS

0
WhatsApp Image 2026-02-25 at 14.06.21

Ketua Umum ASMIDO Dedy Rochimat dan sejumlah pihak dipanggil untuk naik ke atas panggung melakukan penndatanganan MoU pada acara roundtable Business Summit yang diselenggarakan di Washington DC, 18 Februari 2026 (Foto: ASMINDO)

El John News-Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) memastikan komitmennya untuk melanjutkan dan memperdalam kemitraan dagang berbasis keberlanjutan dengan eksportir kayu keras Amerika Serikat yang tergabung dalam American Hardwood Export Council (AHEC).

Langkah ini menjadi tindak lanjut dari penandatanganan Agreement on Reciprocal Tariff (ART) antara Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat pada 18 Februari 2026.

Walaupun kebijakan tarif resiprokal tersebut kemudian dibatalkan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat, ASMINDO menilai kerja sama dengan AHEC tetap relevan dan bernilai strategis dalam jangka panjang. Kemitraan ini dipandang sebagai upaya memperkuat integrasi rantai pasok global industri furnitur dan kerajinan kayu kedua negara.

Ketua Umum ASMINDO Dedy Rochimat, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia atas keberhasilan menyelesaikan kesepakatan ART. Ia menilai perjanjian tersebut membuka peluang akses perdagangan yang lebih kompetitif bagi produk furnitur Indonesia di pasar Amerika Serikat.

Menurut Dedy, kolaborasi dengan anggota AHEC diarahkan untuk mendongkrak daya saing serta meningkatkan volume ekspor furnitur dan kerajinan Indonesia, tanpa mengurangi peran kayu domestik sebagai bahan baku utama.

“Kolaborasi ini berbasis prinsip keberlanjutan dan kepatuhan legal, serta bertujuan memperkuat rantai nilai Indonesia–Amerika, bukan menggantikan kayu domestik. Yang diimpor adalah bahan baku, sementara nilai tambah manufaktur, desain, dan ekspor tetap dilakukan di Indonesia”

Dedy Rochimat (Ketua Umum ASMINDO)

Ketua Umum ASMINDO Dedy Rochimat sedang menandatangani MoU pada acara forum roundtable Business Summit di Wangshinton DC, 18 Februari (Foto: ASMINDO)

Ia menjelaskan bahwa penggunaan American hardwood diposisikan sebagai alternatif material premium yang dapat memperkaya pilihan bahan, meningkatkan kualitas produk, serta memenuhi standar dan preferensi pasar global bernilai tinggi. Dedy juga meyakini pelaku industri kecil dan menengah (IKM) nasional dapat memanfaatkan bahan baku tersebut untuk meningkatkan daya saing mereka.

Selama ini, belanja industri furnitur Indonesia terhadap hardwood Amerika diperkirakan sekitar USD 30 juta per tahun. Dengan adanya ART yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekspor mebel ke pasar Amerika Serikat, kebutuhan terhadap kayu keras tersebut diproyeksikan meningkat hingga USD 100 juta dalam beberapa tahun mendatang.

“Dengan demikian tercipta hubungan dagang yang saling menguntungkan atau win-win solution antara Indonesia dan Amerika Serikat. Ekspor furnitur Indonesia meningkat, kapasitas manufaktur nasional menguat, dan pada saat yang sama permintaan terhadap kayu keras Amerika juga tumbuh,” jelasnya.

Ketua Umum ASMINDO Dedy Rochimat sedang berbincang dengan Presiden RI Prabowo Subianto dan Menhko Perekonomian Airlangga Hartarto pada acara roundtable Business Summit yang diselenggarakan di Washington DC, 18 Februari 2026 (Foto: ASMINDO)

Dalam implementasinya, kedua pihak menjajaki pemanfaatan kayu keras Amerika untuk berbagai kategori produk, mulai dari solid wood furniture, komponen interior, hingga kerajinan kayu yang menyasar pasar Amerika Serikat, Eropa, dan segmen premium domestik.

Kerja sama tersebut juga mencakup pertukaran informasi mengenai spesies dan standar kualitas hardwood, dialog teknis terkait pengolahan material berkelanjutan, serta fasilitasi jaringan bisnis antara eksportir Amerika dan produsen anggota ASMINDO.

Pada tahap awal, fokus kemitraan diarahkan pada eksplorasi pasar, peningkatan pemahaman teknis material, serta pembangunan fondasi rantai pasok jangka panjang yang transparan dan legal.

ASMINDO menilai strategi ini sebagai bagian dari visi besar menjadikan Indonesia bukan sekadar basis produksi furnitur dunia, melainkan pusat manufaktur furnitur bernilai tambah tinggi yang terhubung dalam jaringan pasok global.

“Indonesia tidak hanya ingin menjadi basis produksi, tetapi menjadi pusat manufaktur bernilai tambah tinggi yang berbasis keberlanjutan dan kemitraan global,” tutup Dedy Rochimat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *