Indonesia–AS Sepakati Reciprocal Trade, 1.819 Produk RI Kini Bebas Tarif

0
5603WhatsApp_Image_2026-02-20_at_11.26.34_AM

Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) sepakat untuk menurunkan tarif hingga nol persen pada sejumlah produk Indonesia, 19 Februari 2026 (Foto: BPMI Setpres)

El John News-Pemerintah Indonesia dan pemerintah Amerika Serikat resmi menyepakati agreement on reciprocal trade (ART) yang membuka akses tarif nol persen bagi 1.819 pos tarif produk Indonesia ke pasar Negeri Paman Sam. Kesepakatan tersebut diumumkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangan pers di Washington D.C., Kamis (19/02/2026).

Airlangga menjelaskan, ribuan produk yang mendapat fasilitas tarif 0 persen mencakup sektor pertanian hingga industri strategis.

“Dalam ART ini ada 1.819 pos tarif produk Indonesia baik itu pertanian maupun industri, antara lain minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, komponen pesawat terbang yang tarifnya adalah nol persen”

Airlangga Hartarto (Menteri Koordinator Bidang Perekonomian)

Menurutnya, kebijakan ini akan memperkuat daya saing ekspor Indonesia di pasar Amerika Serikat sekaligus memperluas peluang bagi pelaku usaha nasional. Produk-produk unggulan seperti sawit, kopi, dan kakao dinilai akan memperoleh keuntungan signifikan karena hambatan tarif yang selama ini menjadi tantangan utama kini dihapuskan.

Untuk sektor tekstil dan produk pakaian jadi, pemerintah AS juga memberikan skema tarif nol persen melalui mekanisme tariff rate quota (TRQ). Airlangga menilai kebijakan ini berdampak langsung terhadap jutaan tenaga kerja dalam negeri.

“Tentunya ini memberikan manfaat bagi empat juta pekerja di sektor ini. Dan kalau kita hitung dengan keluarga ini sangat berpengaruh terhadap 20 juta masyarakat Indonesia,” katanya.

Sebagai bagian dari prinsip timbal balik, Indonesia turut memberikan fasilitas serupa bagi sejumlah komoditas utama asal Amerika Serikat, khususnya produk pertanian seperti gandum dan kedelai. Pemerintah memastikan kebijakan ini tidak akan membebani masyarakat.

“Masyarakat Indonesia membayar nol persen untuk barang yang diproduksi dari soya bean ataupun wheat dalam hal ini, noodle ataupun dalam bentuk tahu dan tempe. Jadi masyarakat kita tidak dikenakan beban tambahan biaya untuk bahan baku yang kita impor dari Amerika Serikat,” jelas Airlangga.

Di ranah multilateral, kedua negara juga menyepakati tidak adanya bea masuk atas transaksi elektronik, sejalan dengan posisi dalam forum World Trade Organization. Selain itu, Indonesia mendorong pengaturan transfer data lintas batas secara terbatas sesuai regulasi nasional, dengan penekanan pada perlindungan data konsumen yang setara.

Airlangga menambahkan, pemerintah akan menerapkan strategic trade management untuk memastikan arus perdagangan tetap aman dan tidak disalahgunakan untuk kepentingan di luar tujuan perdamaian. Perjanjian ini dijadwalkan berlaku 90 hari setelah seluruh proses hukum di kedua negara rampung, termasuk konsultasi dengan DPR RI.

“Dalam perjanjian ini tujuannya juga untuk mencapai Indonesia emas, sehingga perjanjian ini juga disebut sebagai new golden age bagi Indonesia maupun Amerika Serikat itu sendiri,” ucapnya.

Ia menegaskan, kesepakatan ART ini berbeda dari perjanjian Amerika Serikat dengan sejumlah negara lain karena murni berfokus pada kerja sama perdagangan.

“Amerika sepakat untuk mencabut pasal-pasal yang non kerja sama ekonomi, antara lain terkait pengembangan reaktor nuklir, kebijakan Laut Cina Selatan, serta pertahanan dan keamanan perbatasan, sehingga murni ART kita adalah terkait dengan perdagangan,” tandasnya.

Kesepakatan ini dinilai menjadi tonggak baru hubungan dagang Indonesia–Amerika Serikat, sekaligus membuka peluang ekspor yang lebih luas bagi pelaku usaha nasional di tengah dinamika ekonomi global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *