Avtur di Bandara Internasional Soekarno Hatta Masih Mahal
Dalam rapat yang diselenggarakan di Kemenko Kemaritiman pada 2 Agustus 2016 lalu, Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Budi Karya Sumadi menyampaikan bahwa harga avtur di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, masih lebih mahal sekitar 26% dari Bandara Internasional Changi di Singapura.
Akibatnya, biaya penerbangan tidak efisien. Banyak maskapai-maskapai penerbangan dari Indonesia yang kerap transit di Singapura untuk mengisi bahan bakar karena di sana lebih murah.
PT Pertamina (Persero) mengaku telah berupaya melakukan efisiensi, misalnya dengan memperpendek rantai suplai avtur. Solusi-solusi lain untuk menekan harga avtur akan dicari bersama dengan pemerintah.
“Dari sisi internal, kami tentunya memaksimalkan rantai suplai yang paling efisien agar kompetitif harganya, dan kami siap kerja sama dengan pemerintah untuk solusi terbaik,” kata VP Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, pada hari Minggu (21/8).
Dalam waktu dekat ini, Pertamina dan pemerintah akan kembali rapat membahas apa saja upaya-upaya yang perlu dilakukan agar harga avtur bisa semakin efisien.
“Kami dalam waktu dekat akan hadir rapat bersama Pak Menko Kemaritiman dan di sana tentunya akan diupayakan solusi-solusi terbaik untuk kepentingan masyarakat,” ucapnya.
Sebelumnya, Menko Kemaritiman Republik Indonesia, Luhut Binsar Pandjaitan, mengungkapkan bahwa dirinya menerima komplain dari Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Budi Karya soal harga avtur yang masih tinggi.
Luhut menyatakan, perlu segera dilakukan kajian untuk mencari biaya-biaya apa saja yang dapat ditekan supaya harga avtur di dalam negeri turun.
“Kita review semua, dari komplain Pak Budi Karya kenapa harga avtur di Bandara Soetta ini harganya 26% lebih mahal dari di Singapura. Intinya kita dengan sekeliling ini bersaing, jadi tidak boleh mahal-mahal, bersaing murah-murahan. Untuk itu efisiensi menjadi kata kunci,” tegasnya.
