BusinessDestinationEconomicHeadline News

Bank Indonesia Jadikan Kepahiang Sebagai Andalan Bengkulu Untuk Tarik Investor

Bank Indonesia  (BI) menjadikan Kabupaten Kepahiang, Bengkulu sebagai  kawasan yang memiliki potensi pariwisata yang begitu mengiurkan bagi para investor.  Karena itu BI optimis Kepahiang dapat  menjadi gerbong peningkatan pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu Endang Kurnia Saputra menyambut baik komitmen pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepahiang bersama DPRD yang menyediakan lahan seluas 50 hektare dan diberikan secara gratis kepada investor. Menurut Endang komitmen itu  merupakan langkah yang sangat strategis dalam menarik para investor. Pintu investasi yang dibuka dengan mempermudah sektor perizinan juga merupakan peluang besar bagi para investor untuk masuk ke wilayah itu.

“Untuk Bengkulu baru Kabupaten Kepahiang yang sangat siap, daerah lain masih menunggu kesepakatan antara pemerintah daerah dengan DPRD,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu Endang Kurnia Saputra di Bengkulu, beberapa waktu lalu.

Rencananya BI akan  bersama Pemkab Kepahiang  akan menggelar Bengkulu Investment Day yang akan dilaksanakan pada pertengahan bulan Oktober mendatang di Jakarta. Event ini tidak hanya mengacu pada sektor pariwisata saja, namun ada sektor lain yang juga akan diperkenalkan yakni potensi energi panas bumi atau Geothermal, potensi hasil bumi jenis lain seperti kopi, teh, karet, palawija serta potensi pengembangan kawasan industri baru.

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu pada triwulan kedua tahun 2017 tertahan di tengah penurunan tekanan inflasi. JIka dibandingkan pada triwulan pertama 2017 tercatat sebesar 6,01 persen year on year (yoy) pada triwulan kedua ini mengalami penurunan mencapai angka 5,44 persen (yoy).

Pertumbuhan ekonomi ini dipicu oleh penurunan konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah. Perlambatan ini disebabkan serapan APBD yang masih sangat rendah hingga dibawah 40 persen dari total anggaran yang disediakan.

Sementara itu, penurunan tekanan inflasi terjadi pada komponen Administered Prices yang didorong kendala tarif angkutan udara. Kondisi ini terbantu oleh komponen Volatile Food yang relatif stabil. Inflasi Bengkulu 5,44 persen ini masih berada d iatas rata rata inflasi nasional sebesar 4,37 persen dan inflasi Sumatera sebesar 4,56 persen.

Endang menjelaskan realisasi fiskal seluruh pemerintah daerah dalam Provinsi Bengkulu baru mencapai angka 33,9 persen. Terendah bahkan tercatat dengan serapan hanya 28,35 persen saja. Kondisi ini memang sangat tidak menguntungkan, sebab sektor belanja rumah tangga dan pemerintah memiliki porsi sebesar 87 persen terhadap PDRB.

“Harus ada upaya keras untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari sektor lain,” ujar Endang.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button