BMKG Ajak Dunia Usaha Tingkatkan Ketahanan terhadap Risiko Iklim dan Musim Hujan 2025/2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memperkuat sinergi dengan dunia usaha untuk menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin nyata. Melalui berbagai inisiatif edukatif dan kemitraan strategis, BMKG berupaya meningkatkan pemahaman pelaku industri terhadap risiko iklim serta pentingnya antisipasi dini terhadap potensi cuaca ekstrem.
Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui keikutsertaan Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, dalam Seminar Astra Group yang digelar oleh PT Asuransi Astra Buana di Anaya Azana Boutique Hotel, Karanganyar, Jawa Tengah. Kegiatan tersebut membahas dampak perubahan iklim terhadap sektor usaha dan strategi mitigasi menjelang musim hujan 2025/2026.
Dalam paparannya, Marjuki menjelaskan bahwa fenomena perubahan iklim kini semakin mudah dirasakan. Tahun 2024, kata dia, tercatat sebagai tahun dengan suhu global tertinggi dalam sejarah modern, diikuti dengan peningkatan frekuensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, banjir, dan tanah longsor yang menimbulkan kerugian di berbagai sektor ekonomi.
“Perubahan iklim sudah bukan prediksi, tapi kenyataan yang harus kita kelola dengan cerdas. Dunia usaha perlu memahami risiko iklim agar dapat mengambil langkah adaptif sejak dini,” jelas Marjuki.
BMKG menekankan bahwa informasi iklim memiliki nilai strategis dalam mendukung perencanaan bisnis, terutama bagi sektor yang rentan terhadap perubahan cuaca seperti pertanian, energi, transportasi, keuangan, dan asuransi.
Menurut Marjuki, memasuki musim hujan 2025/2026, pelaku usaha diharapkan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi curah hujan ekstrem yang dapat mengganggu operasional, rantai pasok, hingga kestabilan aset bisnis.
“Bagi sektor keuangan dan asuransi, pemahaman terhadap pola iklim sangat penting untuk manajemen risiko dan perlindungan aset. Perencanaan berbasis data iklim dapat mengurangi potensi kerugian sejak tahap awal,” paparnya.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi nasional, BMKG menyediakan beragam layanan iklim terapan, seperti prakiraan musim, peringatan dini cuaca ekstrem, serta layanan informasi berbasis sektor.
Marjuki menegaskan bahwa sinergi antara lembaga penyedia data iklim dan pelaku industri menjadi langkah penting dalam mewujudkan adaptasi yang efektif terhadap dampak perubahan iklim.
“Informasi iklim bukan hanya untuk pemantauan, tapi harus dijadikan dasar pengambilan keputusan strategis. Kolaborasi lintas sektor akan memperkuat daya tahan ekonomi nasional terhadap risiko iklim,” tegasnya.
BMKG berharap, kemitraan dengan dunia usaha seperti yang dilakukan bersama Astra Group dapat menjadi contoh penerapan nyata pemanfaatan informasi iklim untuk membangun bisnis yang berkelanjutan dan tangguh terhadap perubahan iklim.
