BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah Indonesia Sepekan Kedepan

0
IMG_20241219_190612-3633374954

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi di berbagai wilayah Indonesia selama sepekan ke depan.

Peningkatan aktivitas atmosfer di kawasan regional dan global menyebabkan naiknya potensi curah hujan dengan intensitas tinggi yang dapat memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menyampaikan bahwa hasil analisis menunjukkan adanya kombinasi faktor cuaca berskala luas yang tengah aktif di wilayah Indonesia.

“Sejumlah faktor global dan regional, seperti Siklon Tropis FUNG-WONG, aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO), serta gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby Ekuator, berkontribusi terhadap peningkatan potensi hujan lebat di sebagian besar wilayah Indonesia hingga pertengahan November 2025,” jelas Guswanto dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (10/11/2025).

Menurut BMKG, Siklon Tropis FUNG-WONG, yang saat ini berada di timur Laut Filipina dan bergerak ke arah barat laut menuju Luzon, memberikan dampak tidak langsung terhadap cuaca di Indonesia. Fenomena ini memicu peningkatan pertumbuhan awan hujan dan memperkuat kecepatan angin di sejumlah wilayah seperti Kalimantan Utara, Sulawesi, Maluku, dan Papua bagian utara.

Selain itu, keberadaan MJO fase 5 (Maritime Continent) yang bersamaan dengan gelombang Rossby Ekuator dan Kelvin, memperkuat aktivitas konvektif di atmosfer, memicu pembentukan awan hujan tebal di wilayah Indonesia bagian barat, tengah, dan timur.

“Gabungan fenomena atmosfer tersebut berpotensi meningkatkan curah hujan yang signifikan dalam beberapa hari ke depan,” ujar Guswanto.

Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, memaparkan bahwa periode 10–16 November 2025 diprediksi menjadi fase dengan tingkat risiko tinggi terhadap cuaca ekstrem di sebagian besar wilayah Indonesia.

Pada 10–12 November 2025, potensi hujan sedang hingga lebat dapat terjadi di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, DKI Jakarta, DIY, Bali, dan Nusa Tenggara.

Sementara itu, kategori hujan lebat hingga sangat lebat (status Siaga) berpotensi melanda:

Aceh, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur

Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Sumatra Barat

Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur

“Selain curah hujan tinggi, potensi angin kencang juga meningkat di wilayah Banten, Bengkulu, Lampung, NTB, dan Sumatra Barat,” tambah Andri.

BMKG juga memperingatkan bahwa pada 13–16 November 2025, kondisi cuaca ekstrem masih berlanjut di beberapa wilayah dengan curah hujan kategori lebat–sangat lebat (Siaga). Wilayah yang perlu mewaspadai potensi tersebut meliputi:

Bengkulu, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

Sementara itu, potensi hujan sedang–lebat juga masih bisa terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk Aceh, Sumatra Utara, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Tengah, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

“Potensi angin kencang juga masih cukup tinggi di Jawa Tengah, Kalimantan, Sulawesi, Bali, DKI Jakarta, dan Banten,” jelas Andri.

BMKG meminta masyarakat untuk tetap tenang namun waspada, terutama terhadap perubahan cuaca mendadak seperti hujan deras disertai petir dan angin kencang.

“Jika terjadi hujan lebat, hindari aktivitas di ruang terbuka, jangan berteduh di bawah pohon besar atau bangunan rapuh. Pastikan juga saluran air di sekitar tempat tinggal berfungsi dengan baik agar tidak terjadi genangan,” imbau Guswanto.

Selain itu, nelayan dan pengguna transportasi laut diminta untuk memperhatikan potensi gelombang tinggi, terutama di Samudra Hindia barat Sumatra–selatan Jawa, Laut Banda, Laut Flores, dan Laut Arafura, yang dapat membahayakan pelayaran.

BMKG menjelaskan bahwa periode November–Desember merupakan masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Periode transisi ini biasanya ditandai dengan meningkatnya ketidakstabilan atmosfer yang memicu fenomena cuaca ekstrem.

“Cuaca ekstrem seperti hujan intensitas tinggi, petir, dan angin kencang adalah karakteristik umum masa peralihan. Karena itu, kewaspadaan masyarakat menjadi faktor penting untuk meminimalkan risiko bencana,” ungkap Guswanto.

BMKG mengingatkan bahwa informasi ini bersifat umum dan bertujuan memberikan panduan kewaspadaan. Untuk mengetahui detail prakiraan cuaca harian, peringatan dini, dan pembaruan terkini, masyarakat diimbau memantau secara berkala kanal resmi BMKG: situs http://www.bmkg.go.id, akun media sosial @infoBMKG, dan aplikasi InfoBMKG. Tetap waspada, siaga, dan pahami langkah keselamatan jika cuaca ekstrem terjadi di wilayah Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *