DestinationHeadline NewsSportsTourism

Bromo Tengger Semeru Ultra 100 Sukses Hadiri 1000 Lebih Pelari

Bromo Tengger Semeru (BTS) Ultra  100 berhasil menggoda para pelari. Hal itu dibuktikan dengan banyanya pelari yang ikut di event sport tourism ini. Mendekati hari pelaksanaan,  yakni tanggal 3 November 2017, peserta yang daftar sudah mencapai 1000 lebih pelari, baik dari dalam negeri maupun dunia. Lomba yang digelar hingga tanggal 7 November 2017 itu, dijadikan event menantang oleh para peserta, pasalnya medan yang dilintasi cukup curam dan menanjak.

“Ini menunjukkan tren positif. Lomba lari bertema “Wonderful Challenge” masuk kategori ultra karena memperlombakan jarak lari di atas jarak lari maraton atau di atas 42 km,” ujar Hendra Wijaya, Gerneral Advisor lomba lintas alam BTS Ultra 100, Kamis, 2 November 2017.

Event tahun ini bisa disebut sebagai event yang jumlah peserta terbanyak dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan kenaikan jumlah peserta  cukup signifikan disbanding event tahun 2016 lalu. Di 2017 ini, jumlahnya sudah tembus di atas 1000 orang.

“Sebenarnya ada 1.303 pelari. Namun, banyak yang belum memenuhi persyaratan kualifikasi untuk ikut berlari di nomor yang mereka kehendaki. Dan kita sangat tegas soal ini. Peserta yang tidak memenuhi persyaratan kualifikasi tidak boleh ikut lomba. Ini demi keamanan dan kenyamanan seluruh peserta,” tegas Hendra.

Sementara itu Race Director Rudi Rohmansyah menyampaikan, kategori yang dilombakan sangat beragam. Dari mulai kategori 170 kilometer, 102 kilometer, 70 kilometer dan 30 kilometer, semuanya ada. “Semuanya kelas Open untuk pria dan wanita,” ujar Rudi.

Untuk jarak yang terjauh 170 km, akan diikuti 42 pelari laki-perempuan. Jumlahnya memang sedikit lantaran kualifikasinya menyaratkan harus sudah pernah finis lari ultra-trail 100 km dalam lomba sebelumnya. Hampir seluruh pelari elite ultra-trail Indonesia turun di nomor ini.

“Berikutnya jarak 102 km ada 143 pelari. Syaratnya harus sudah finis lomba lari ultra-trail 50 km. Untuk 70 km ada 338 pelari, syaratnya harus pernah finis lomba lari ultra-trail 21 km atau full maraton 42 km. Dan 30 km ada 454 pelari. Ini tanpa kualifikasi,” sambung Race Director BTS Ultra Rudi Rochmansyah.

Untuk rute 170 km start-nya dimulai di Lava View Cemoro Lawang lalu turun ke lautan pasir Bromo dan naik ke bukit B29. Selanjutnya menuju Ranu Pane, dan masuk ke jalur pendakian Gunung Semeru mulai Ranu Kumbolo hingga Kalimati.

Kemudian peserta turun menuju ke jalur Ayak-Ayak, Ngadas. Jalak Ijo, Kandangan, Pananjakan, Jetak, B29, Jemplang, Bromo. Batok, dan finis di Cemoro Lawang. Jalur tersebut diberi pertanda (marking) dan ada marshall (penjaga) di beberapa titik demi keamanan peserta.

“Lomba ultra-trail tentu lebih berat dibanding lari di jalanan datar atau road makanya kualifikasi dilakukan dengan ketat mengingat keselamatan bersama. Untuk jarak 170 km gain-nya (tanjakan) 10.000 m, 102 km gain 5.265 m, 70 km gain 3.000 m, dan 30 km gain 1.332 m,” kata pria yang juga Race Director Rinjani.

Untuk pelari yang berhasil menyelesaikan lomba, mereka akan mendapatkan poin. “Poin itu dapat digunakan sebagai salah syarat untuk ikut lomba lari serupa, yaitu di UTMB (Ultra-Trail du Mont Blanc),” tandasnya.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button