Catatan Perjalanan Pelawat Asing ke Nusantara Akan Dibahas di BWCF 2018
Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) 2018 akan kembali dihelat pada 22 hingga 25 November 2018 mendatang. Event ini, akan digelar di berbagai tempat yakni Hotel Grand Inna (Garuda) Malioboro Yogyakarta, kawasan Hotel Manohara Borobudur dan Lapangan Kenari Borobudur.
Tahun ini, BWCF mengusung tema “Traveling & Diary”. Tema ini diangkat, untuk membaca kembali catatan perjalanan para pelawat asing ke nusantara atau sebelum Indonesia merdeka.
Pendiri BWCF, Seno Joko Suyono mengatakan, BWCF menjadi event pertama yang membahas catatan para pelawat asing. Selama ini, belum ada seminar atau simposium yang membahas catatan para pelawat asing.
Seno menilai, catatan para pelawat asing menarik untuk dibahas, karena para pelawat asing menceritakan perjalanannya saat datang ke nusantara, pada abad ke 16 hingga abad 20.
“Ini menarik sekali kita bahas, karena ini catatan-catatan yang sangat berharga sekali bagi kita, misalnya catatan harian Tomy Pirez, catatan harian I Tsing atau Yi Jing, catatan harian Ibu Batuta. Itu catatan-catatan terkenal semua, para musafir-musafir asing yang melintas di nusantara,” kata Seno dalam jumpa pers BWCF di Jakarta, Selasa, 12 November 2018.
Seno mengatakan, event ini akan diikuti para penulis. Ada sekitar seratus penulis aktif yang diundang pihak penyelenggara BWCF. Di luar itu, ada penulis lain yang terus mendaftar menjadi peserta BWCF yang ke tujuh ini.
“Jadi penulis yang datang diharapkan setelah mengikuti simposium di Borobudur Writer ini mendapat inspirasi untuk menulis karena dia mendapat informasi-informasi yang menarik dan unik,” ujar Seno.
Sementara itu, pendiri BWCF yang lain Romo Mudji Sutrisno mengatakan tema ini dibahas agar bangsa Indonesia dapat mencintai kebudayaan sendiri.
“Kalau catatan para pelawat asing saja begitu mencintai nusantara Indonesia ini, dan mengatakan bahwa saya kembali melihat lagi, India yang hilang ketemu di sini sebagai yang purba, kenapa kita malah sudah menumpang ini lalu menghilangkannya. Satu karena lupa-lupa kita, karena sistem pendidikan sejarah kita, karena kita tidak mencintai sungguh-sungguh. Itu satu, lalu yang kedua sekarang inilah saatnya kita betul-betul mencintai tanah air ini secara kultural, kenapa, karena kebudayaan itu adalah memaknai hidup kita dengan makna itu sendiri,” kata Romo.
Selain membahas catatan pelawat asing, BWCF 2018 juga akan menggelar pentas tari dan teater selama dua malam dengan koratorial bertema Migrasi. Tak berhenti disitu, BWCF juga akan menyajikan pemutaran film pendek. Ada tiga film buatan Nurman Hakim tentang ajaran Islam yang kultural siap ditayangkan di Pondok Pesantren Pabelan, Magelang.
BWCF juga memiliki agenda tentang mendongeng yakni Workshop Dongeng Kreatif dengan mengusung topik “Mendongeng dan Membuat Alat Peraga” serta “Dongeng Anak Tentang Borobudur” pada hari kedua dan ketiga perhelatan tersebut.
