Headline NewsPageantsTourism

Coreta Louise Kapoyos Ajak Finalis PPI 2021 Cintai dan Lestarikan Batik Indonesia

Ketua Harian Yayasan Batik Indonesia (YBI) Coreta Louise Kapoyos mengajak para finalis Putri Pariwisata Indonesia 2021 untuk mencintai dan melestarikan batik Indonesia. Ajakan ini disampaikan Coreta saat memberikan pembekalan pada kegiatan karantina virtual pemilihan Putri Pariwisata Indonesia 2021, Rabu (1/9/2021).

Coreta menjelaskan finalis Putri Pariwisata Indonesia 2021 merupakan generasi milenial yang memiliki peran penting dalam menjaga salah satu warisan budaya Indonesia ini. Ada cara yang dapat dilakukan agar generasi milenial dapat mencintai batik, diantaranya motif batik yang dibuat harus  kekiniaan.

“Batik yang disukai milenial kebanyakan itu yang kontemporer, mereka tidak suka yang terlalu klasik. Dibuat agak modern style, dengan modifikasi motif kemudian dipadukan dengan kontemporer  itu biasanya lebih banyak diminati khususnya oleh milenial,” kata Coreta.

Selain itu cara lain  adalah dengan membuat produk-produk lain   bernuansa batik. Produknya pun yang sedang digemari oleh generasi milenial dan didesain dengan motif batik kekinian. Biasanya, generasi milenial senang dengan produk yang unik dan lucu.

Kita bikin, kita olah kain batik itu untuk jadikan produk, produknya itu ga hanya kain, bisa juga aksesoris. Kalau mereka tidak suka batik ya udah pakai polos aja tetapi ada tas batiknya. Sekarang kan new normal, bisa dibuat master batik,” ujar Coreta.

Coreta yang juga sebagai Ketua Pernik Nusantara ini, mengungkapkan bahwa mengajak seseorang mencintai batik harus dimulai diri sendiri. Jika yang ngajak tidak mencintai batik sepenuh hati maka upaya untuk mengajak orang mencintai batik tidak berhasil. Dengan mencintai batik maka ada pemahaman yang ditanam tentang batik.

“Cara kita mengajak harus dari kita dulu, karena kalau bukan kita yang mencintai batik  siapa lagi. Giliran batik mau diambil negara tetangga, kita marah-marah. Tetapi kita  pernah ga bertanya kepada diri kita sendiri, sudahkah kita mencintai dan menyukai dan bahkan sering menggunakan batik, atau pun tenun, atau pun songket. Jadi kita harus bertanya dulu pada diri kita, jangan sampai udah diambil oleh negara lain,” ungkap Coreta.

Lebih lanjut Coreta menjelaskan bahwa batik merupakan salah satu jenis wastra Indonesia. Selain batik, ada tenun dan songket yang juga menjadi bagian wastra Indonesia. Batik Indonesia telah ditetapkan  oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009 lalu sebagai sebagai warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Penetapan dari UNESCO  ini menjadi kebanggan Indonesia dan perlu dijaga dan dilestarikan. Banyak cara dalam melestarikan batik, salah satunya adalah dengan membeli batik yang dibuat secara benar. Ada tiga cara membatik dengan benar yakni dengan ditulis, dicap dan memadukan dari dua cara tersebut. Namun Coreta menyayangkan, banyak batik yang diperjualkan  dengan hasil printing. Cara tersebut dapat menghilangkan mutu batik dan tidak menghargai jerih payah para pengrajin batik.

“Masalahnya sekarang ini kadang-kadang pengrajin-pengrajin kita kasihan mereka cape-cape membuat batik tulis, membuat batik cap tetapi langsung muncul dengan print-print batik yang ada yang dijual dengan murah. Karena kalau kita berbicara print itu dengan mesin, sementara pembatik-pembatik kita membuat dengan susah payah, mereka membatik dari malam ketemu malam,” ungkap Coreta

“Kalau printing itu dengan mesin bisa beribu-ribu kain yang hanya dijual murah sekali, nah itu lah kalau kita terus menerus menggunakan printing kasian para pembatik-pembatik kita nantinya, lama-lama ga ada yang mau jadi pembatik,” tambahnya.

Karena itu, Coreta berharap para finalis Putri Pariwisata Indonesia 2021 dapat memilih batik yang proses pembuatannya dengan cara yang benar agar mutu batik Indonesia dapat  tetap terjaga. 

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close