Danau Ranau, pesona alam di Sumatra
Danau Ranau adalah danau terbesar kedua di Sumatra. Danau ini terbentuk akibat gempa bumi yang dahsyat dan letusan gunung vulkanik. Sebuah sungai besar yang sebelumnya mengalir di kaki gunung vulkanik berubah menjadi jurang. Berbagai jenis tanaman termasuk semak belukar yang secara lokal dikenal sebagai Ranau, tumbuh di tepi danau dan sisa-sisa gunung menjadi Gunung Seminung, yang berdiri menjulang di samping danau yang memiliki air bersih ini. Danau ini terletak di perbatasan antara Kabupaten Lampung Barat di Propinsi Lampung dan Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan di Sumatera Selatan. Danau ini memiliki cuaca dingin. Untuk memasuki danau ini, pengunjung harus membayar Rp1.000,00 per orang ditambah Rp4.000,00 untuk parkir.
Namun, jika wisatawan berasal dari Pulau Jawa atau dari Lampung menuju Danau Ranau, bisa menggunakan rute Bandar Lampung-Kota Bumi-Bukit Kemuning-Liwa-Kotabatu-Sukamarga atau Banding Agung. Perjalanan dari Bandar Lampung menuju Danau Ranau kurang lebih 6-7 jam. Track yang kami jalani relatif mudah menantang. Kondisi menantang ketika kami mulai memasuki kawasan hutan lindung, dimana kondisi jalannya sangat kecil walaupun sudah diaspal. Dengan keadaan alam hutan di kanan kiri yang pepohonannya cenderung merunduk ke arah jalan, akan sangat rawan longsor.
Jika longsor, maka akses akan secara otomatis tertutup. Tepat Pukul 17.00 WIB kami tiba di villa milik PT Pusri yang terletak persis di sebelah Danau Ranau. Suhu saat itu sekitar 16 derajat, dingin. Nampaknya ini satu-satunya villa yang ada tepat di pinggir Danau Ranau. Sebenarnya ada villa atau penginapan lain, namun lokasinya di atas. Ratenya antara Rp 175 ribu-400 ribu. Kegiatan yang bisa dilakukan di Danau Ranau adalah berenang dan mandi di pemandian air panas. Untuk anak-anak bisa bermain di waterboom yang langsung berada di tepi Danau Ranau. Untuk menuju pemandian air panas dibutuhkan waktu 20 menit dengan menggunakan perahu carteran yang diberangkatkan dari dermaga tempat kami menginap, dan biaya sekitar Rp 50 ribu.
Pulau Marisa terletak di tengah danau. Memiliki mata air panas alami. Pulau ini juga memiliki air terjun dan sawah yang luas, dan sebagian besar lahan ditutupi oleh hutan dan dihuni oleh beberapa primata. Dari bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang, pengunjung bisa menyewa mobil ke Danau Ranau. Jika Anda ingin mengunakan kendaraan umum, Anda bisa mengunakan bus atau jenis transportasi lokal lainnya di Baturaja, namun transportasi umum di Sumatera Selatan biasanya beroperasi hanya ketika pasar buka, yaitu setiap hari Rabu. Danau Ranau terkenal dengan ikan-ikannya yang berukuran besar. Anda bisa membeli ikan langsung dari nelayan dan menikmati keindahan Danau Ranau sambil makan ikan bakar dan menikmati secangkir teh hangat. Jangan lupa untuk mampir di sumber air panas di Pulau Marisa.
Hamparan sawah hijau berpadu dengan air Danau Ranau yang biru seolah menjadi pelataran tempat berbagai jenis ikan berenang. Butir-butir kopi yang merah seakan-akan menjadi pemanis keindahan itu. Keelokan itu menjadi lengkap dengan bingkai indah pantai berpasir dan kerikil putih di sepanjang tepian. Kawasan Danau Ranau belum digarap dengan sungguh-sungguh. Promosi pariwisata yang digalang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, lewat Festival Danau Ranau belum memancing minat investor secara maksimal. Promosi yang digalakkan oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Barat lewat Festival Teluk Setabas pun hingga kini belum mendatangkan investasi. Danau Ranau dari sisi Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan maupun Liwa, Lampung Barat, sama-sama indah. Wisatawan ingin kembali ke sana, meskipun hanya berperahu atau sekadar menikmati deburan ombak. Pesona Danau Ranau tetap mengundang keinginan datang kembali. (arf)

