Delegasi Dagang Jilin Kunjungi ICBC, Bahas Peluang Bisnis di Indonesia

Upaya mempererat hubungan dagang antara Indonesia dan Tiongkok kembali menunjukkan langkah konkret. Delegasi dari Departemen Perdagangan Provinsi Jilin, Tiongkok, melakukan kunjungan resmi ke kantor Indonesia China Business Council (ICBC) di Plaza Maspion, Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada Kamis (5/6/2025).
Kedatangan delegasi yang berjumlah lebih dari 30 orang perwakilan dari Perusahaan di Jilin tersebut disambut hangat oleh jajaran pengurus ICBC. Hadir dalam penyambutan tersebut Wakil Ketua Harian ICBC Hasan Kosasih Ko, Sekretaris Jenderal ICBC Basilio Diaz, dan Wakil Sekjen ICBC Suryawan Wijaya.
Kunjungan ini merupakan bagian dari misi dagang Pemerintah Provinsi Jilin untuk memperluas akses pasar dan menjajaki peluang kemitraan bisnis dengan mitra potensial di Indonesia. Dalam pertemuan yang berlangsung penuh semangat dan keterbukaan itu, para perwakilan Perusahaan di Jilin mempresentasikan beragam produk unggulan mereka, mulai dari produk pertanian, makanan olahan, suku cadang otomotif, hingga teknologi ramah lingkungan.
Provinsi Jilin, yang terletak di wilayah timur laut Tiongkok, merupakan salah satu provinsi strategis dalam perekonomian Tiongkok yang memiliki keunggulan di berbagai sektor. Berbatasan langsung dengan Korea Utara dan Rusia, Jilin memiliki nilai geografis yang penting, sekaligus menjadi bagian dari kawasan yang dikenal sebagai “Sabuk Industri Lama Tiongkok Timur Laut”, kawasan yang sedang didorong kembali menjadi pusat pertumbuhan baru melalui reformasi dan modernisasi industri.
Industri yang menjadi perhatian dunia, salah satunya adalah industri otomotif. Jilin dikenal sebagai salah satu pusat industri otomotif terbesar di Tiongkok. Kota Changchun, ibu kota provinsi ini, merupakan rumah bagi FAW Group (First Automotive Works), salah satu produsen mobil terbesar dan tertua di Tiongkok. FAW memproduksi berbagai merek ternama seperti Hongqi, Bestune, dan juga bermitra dengan merek global seperti Toyota, Volkswagen, dan Audi.


Tak hanya di otomotif, Jilin juga menjadi rumah bagi industri pertanian. Jilin memiliki lahan subur dan iklim yang cocok untuk pertanian. Provinsi ini menjadi salah satu penghasil utama jagung, kedelai, dan padi di Tiongkok. Selain itu, hasil olahan pertaniannya seperti tepung, pakan ternak, dan minyak nabati juga menjadi komoditas ekspor.
Dengan penerapan teknologi pertanian canggih, Jilin juga mengembangkan agroindustri berbasis inovasi, seperti pertanian presisi dan bioteknologi, menjadikan sektor ini salah satu penggerak ekonomi daerah.
Selain itu, Jilin memiliki cadangan energi baru dan terbarukan, terutama di sektor biomassa dan energi angin. Selain itu, provinsi ini juga memiliki sumber daya alam seperti mineral langka, bahan kimia industri, dan kayu dari kawasan hutan di timur laut.
Sekretaris Jenderal ICBC, Basilio Diaz, menyampaikan bahwa kunjungan ini menunjukkan minat serius para pelaku usaha Jilin terhadap pasar Indonesia yang dinilai sangat potensial.
“Kalau mereka datang saja, itu artinya mereka sudah melihat Indonesia sebagai pasar yang besar. Walaupun penduduk mereka lebih banyak, tapi kita juga punya populasi besar, 270 juta jiwa. Potensi konsumsinya sangat besar,” katanya.
Meski demikian, menurut Basilo, ICBC tetap mendorong para pelaku usaha asal Provinsi Jilin, Tiongkok, untuk tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar ekspor, tetapi juga sebagai tempat berinvestasi secara langsung
. “Kami menyarankan agar mereka tidak hanya kirim barang dari Tiongkok, tetapi kalau bisa, membuka perusahaan atau bahkan mendirikan pabrik di Indonesia. Itu akan lebih efisien dan menguntungkan dalam jangka panjang,” ujar Basilio.


Sementara itu, Wakil Ketua Harian ICBC Hasan Kosasih Ko menekankan pentingnya pendekatan strategis dan kolaboratif untuk memaksimalkan potensi kerja sama antara pelaku usaha kedua negara.
Hasan menyampaikan bahwa langkah awal yang dilakukan ICBC adalah memahami secara menyeluruh latar belakang, produk, dan tujuan bisnis dari masing-masing perusahaan Jilin yang hadir.
“Kami ingin tahu dulu ya apa yang mereka mau, produknya jenisnya apa, kelebihan apa. Ini yang tadi sudah kita sampaikan,” ujarnya.
Hasan menyarankan agar masing-masing perusahaan menyusun profil singkat atau Company Profile (CV) yang mencakup pengenalan produk, nilai tambah yang ditawarkan, serta visi dan misi bisnis mereka di pasar Indonesia. Informasi tersebut, menurutnya, penting untuk mengidentifikasi titik temu yang paling cocok dengan kebutuhan dan karakteristik pasar lokal.
“Kita akan mengikuti kemauan mereka, mencari titik mana yang paling cocok, terutama agar tidak membuang waktu,” tegasnya.
Menurut Hasan, Indonesia memiliki daya tarik yang sangat kuat sebagai lokasi investasi, khususnya karena jumlah penduduk yang besar dan pasar domestik yang terus berkembang.
“Kenapa mereka tidak memanfaatkan lokasi Indonesia dengan pangsa pasar kita yang 280 juta orang? Ini sangat menguntungkan, baik bagi mereka maupun bagi kita,” ujarnya.


Dalam konteks ini, ICBC mengambil peran aktif dalam “menjemput bola”. Hasan menekankan bahwa pihaknya terus berupaya meyakinkan pelaku usaha asing agar menjadikan Indonesia sebagai bagian penting dalam rencana ekspansi bisnis mereka.
“Jadi kita memang harus rajin menjemput bola, meyakinkan mereka supaya mereka siap mendarat ke Indonesia,” ucap Hasan.
