Desa Wisata Wanurejo, Menyentuh Langsung Nuansa Pedesaan Jawa Dwipa

0

Desa Wisata Wanurejo

Dari megahnya monumen Buddha terbesar di negeri ini, yaitu Candi Borobudur, sekira 2 km ke arah timurnya dapat Anda temukan sebuah desa wisata bernama Wanurejo. Di antara lereng pegunungan Menoreh dan diapit dua buah sungai (Sungai Progo dan Sungai Sileng), inilah sebuah kawasan dimana Anda dapat menikmati suasana pedesaan yang memikat. Pastinya desa wisata ini akan menyempurnakan plesiran Anda di sekitar candi kebanggaan Indonesia tersebut. Desa Wanurejo merupakan desa subur di kawasan Candi Borobudur dan masuk wilayah Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Ada sembilan dusun di Desa Wanurejo dan semuanya memiliki potensi wisata seni budaya, kerajinan, dan religi.

Desa Wisata Wanurejo banyak dikunjungi wisatawan yang ingin melihat langsung rumah-rumah tradisional yang tidak banyak berubah sejak dahulu. Bangunan tradisional rumah joglo kuno berusia lebih dari 1 abad begitu menarik untuk diamati. Beberapa memiliki perbedaan satu dengan yang lain, antara yang dimilik rakyat biasa, pemangku adat, hingga milik bangsawan. Suasana ini mengingatkan kejayaan Jawa Dwipa pada masa kerajaan silam. Desa ini nyatanya memang memiliki beragam potensi wisata. Sebut saja untuk menikmati alamnya, mencicipi kuliner khas, membeli dan atau produk kerajinan setempat, hingga bersentuhan langsung dengan kehidupan para petani yang bersahaja.

Pastinya desa wisata ini juga mampu menyajikan atraksi seni tradisional, seperti tempat latihan seni karawitan dari Sanggar Joyowiyatan di Dusun Tingal. Kesenian tradisional Wanurejo yang umumnya dikenal, yaitu: tontongklek, tari jathilan, pituturan, tari dayakan, tari topeng hitam, serta lagu Dhandang Gulo yaitu lagu yang menceritakan asal-usul Desa Wanurejo. Desa Wanurejo adalah desa wisata dengan berbagai potensi ideal yang lengkap, mulai dari artefak candi, seni dan budaya, bangunan rumah adat, serta alam hijau yang membentang luas. Perpaduan bentang alam yang indah serta budayanya telah menjadi alasan kuat bahwa saat Anda berwisata ke Magelang maka bukan hanya menikmati kemegahan Candi Borobudur, Mendut, dan Pawon saja.

Desa ini awalnya didirikan oleh Kyai Wanu (Bendhoro Pangeran Haryo), yaitu anak lelaki Hamengku Buwono II ke-76. Ia juga yang sekaligus mendirikan Desa Wanurejo. Ia sempat menjadi Adipati Wonorejo yang akhirnya berubah menjadi Wanurejo. Andalan Desa Wisata Wanurejo adalah seni kriya berbahan baku kayu, logam maupun batu. Selain itu, desa ini juga memiliki wisata alam berupa sumber mata air Umbul Tirta dan wisata ziarah Makam Kyai Wanu. Di desa wisata ini Anda juga dapat menyambangi masjid kuno beserta bedug peninggalan Pangeran Diponegoro. Selain menikmati suasana asri pedesaan lengkap dengan rumah penduduk bergaya Jawa kuno. Di desa ini Anda dapat juga belajar membuat anyaman bambu, merangkai janur, atau membuat gerabah. Apabila berminat belajar seni tradisional maka tersedia juga paket belajar seni trunthung atau soreng. Di desa ini Anda dapat pula mempelajari cara budidaya padi dan palawija yang disesuaikan dengan masa tanam.

Di desa ini dimungkinkan pula Anda melihat permainan tradisional anak-anak Wanurejo secara langsung, yaitu dakon, egrang, jengkle, eleng bataan, bababuan, cakoan, dan benteng. Apabila Anda mengajak anak-anak maka ini menjadi kesempatan yang tepat untuk mengenalkan beragam permainan tradisional Nusantara. Nikmati wisata alam berupa pemandangan alam dari tempuran (pertemuan dua sungai) Sungai Progo dan Sungai Elo menyuguhkan pemandangan alam di Dusun Ngentak dan Soropadan yang dapat dinikmati sembari menaiki gajah. Memburu keindahan Matahari Terbit di Candi borobudur atau di sekitar desa wisata ini dapat menjadi hal menarik dilakukan. Apabila Anda memang berminat mengabadikan keindahan Matahari terbit di sekitar desa wasata ini maka perlu mempersiapkan diri sekira pukul 05.30 WIB.

Di Desa Wisata Wanurejo rutin digelar kirab budaya yang ini menampilkan potensi sembilan dusun di Desa wanurejo. Kirab budaya tersebut merupakan rangkaian acara Merti Desa (bersih desa atau sedekah bumi) dari upacara adat Saparan, yaitu mengusung gunungan hasil bumi setinggi 5 meter berupa buah-buahan, sayur-mayur, palawija, dan padi. Anda dapat menyaksikan kirab tersebut yang berangkat dari Candi Pawon melewati jalan di sekitar Borobudur dan berakhir di Lapangan Pondok Tingal. Anda dapat berkeliling desa wisata ini dengan memanfaatkan sepeda onthel yang dapat disewa. Nikmatilah susana pedesaan dengan mengayuh sepeda mengeliling Desa Wanurejo dan desa-desa di sekitar Candi Borobudur dengan jarak 3 hingga 6 km. Untuk berkeliling dengan sepeda onthel, Anda bisa menyewa di tempat penyewaan sepeda di Jalan Balaputra Dewa Desa Wanurejo atau di sebelah timur Pondok Tinggal, Borobudur. (arf)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *