Dinobatkan Sebagai Putri Olahraga Indonesia 2025, Dea Febrianti Akan Kampanyekan Gerakan Masyarakat Melalui Pariwisata Olahraga
Dea Febrianti, wakil dari Kalimantan Barat, berhasil meraih gelar Putri Olahraga Indonesia 2025 dalam ajang Putri Pariwisata Indonesia 2025. Prestasi ini diumumkan pada malam grand final EL JOHN Pageant Festival, yang diselenggarakan di Multifunction Hall Kemenko 3, IKN.
Sebagai Putri Olahraga Indonesia 2025, Dea Febrianti tidak hanya tampil memukau di atas panggung, tetapi juga membawa misi yang kuat untuk membangun budaya hidup sehat melalui olahraga, dimulai dari komunitas di sekitarnya.
Dea menyampaikan bahwa olahraga bukan hanya sekadar aktivitas fisik, tetapi bisa menjadi gerakan sosial yang membawa dampak positif bagi kesehatan masyarakat dan sektor pariwisata. Salah satu langkah nyata yang ingin segera ia realisasikan adalah menggerakkan ibu-ibu di lingkungannya untuk mulai aktif bergerak.
“Saya ingin mengajak ibu-ibu sekitar untuk melakukan senam, jogging, atau aktivitas ringan lainnya. Selain untuk menjaga kebugaran, ini juga sebagai upaya pencegahan terhadap penyakit seperti diabetes, yang kini makin banyak dialami,” ungkap wanita cantik kelahiran Tembaga, Kalimantan Barat ini.
Namun, yang membuat visinya unik adalah pendekatannya yang menggabungkan olahraga dan pariwisata lokal. Dea menilai bahwa tempat-tempat wisata di daerah memiliki potensi besar untuk dijadikan lokasi olahraga komunitas yang menyenangkan dan mudah diakses masyarakat.
“Saya rasa tempat-tempat wisata bisa dimanfaatkan sebagai lokasi yang menarik untuk aktivitas olahraga. Orang-orang bisa melihat, merasakan suasana, lalu ikut bergerak. Ini cara yang lebih fun untuk membangun kebiasaan sehat,” tambahnya.

Dorong Generasi Muda dan Sport Tourism yang Realistis
Selain komunitas ibu-ibu, Dea yang pernah meraih 2md runner up Duta Anti Narkoba Kalimantan Barat 2024 ini, juga menaruh perhatian besar pada generasi muda. Ia berharap anak-anak muda bisa menjadi motor penggerak dalam mempopulerkan gaya hidup sehat sekaligus mendukung promosi pariwisata melalui kegiatan olahraga.
Dalam jangka panjang, Dea ingin memperkenalkan konsep sport tourism yang lebih luas namun tetap realistis, tidak harus selalu lewat fasilitas besar seperti sirkuit balap atau stadion. Menurutnya, rute trekking, jalan santai, atau kegiatan outdoor di alam juga bisa menjadi bentuk wisata olahraga yang menarik dan sesuai dengan karakter banyak daerah di Indonesia.
“Di daerah saya belum ada fasilitas besar seperti sirkuit balap. Tapi bukan berarti kita tidak bisa mempromosikan sport tourism. Kita bisa mulai dari jalan-jalan santai ke pegunungan, taman, atau kebun wisata. Yang penting konsisten dan mengajak orang untuk ikut,” jelasnya.
Dea percaya bahwa kombinasi antara gaya hidup sehat dan pariwisata berbasis komunitas bisa menjadi salah satu solusi untuk membangun masyarakat yang lebih aktif, sehat, dan juga memperkuat ekonomi lokal melalui kunjungan wisata.

Dukungan, Persiapan, dan Rasa Syukur Dea
Terkait gelar yang diraihnya, Dea menyatakan rasa bangga dan antusias yang besar atas pencapaian ini.
“Jujur, saya merasa sangat excited. Sejak SD saya memang suka olahraga — voli, badminton — jadi ketika akhirnya mendapat gelar ini, benar-benar sesuai dengan keinginan saya,” ujar dia.
Untuk meraih gelar ini, Dea telah mempersiapkan diri sejak lama. Ia aktif dalam berbagai kegiatan olahraga dan mulai membangun kehadiran publik melalui media sosial, terutama Instagram.
“Saya sudah mulai posting kegiatan olahraga saya, ikut event, dan fokus ke sorotan terkait olahraga agar publik bisa melihat antusiasme saya,” terang Dea.
Selain itu, ia juga mempelajari aspek lain yang diperlukan dalam dunia pageant—seperti catwalk, public speaking, dan kemampuan komunikasi, agar tampil komplet dalam setiap tahap kompetisi.
Dea menyebut bahwa persaingan di kompetisi bukanlah hal yang menegangkan secara individual, melainkan sebuah motivasi dan dukungan dari teman-teman finalis.
“Teman-teman saya sangat mendukung. Mereka selalu berkata ‘ayo, kita pasti bisa’. Karena itu, kita merasa seperti keluarga, bukan lawan,” lanjutnya.

Setelah acara, hubungan antar finalis tetap terjalin erat. Dea dan teman-temannya sudah merencanakan reuni ke destinasi wisata, salah satunya Labuan Bajo, sebagai bentuk mempererat silaturahmi.
Dea menyebut bahwa dukungan terbesar datang dari orang tua, pemerintah daerah (termasuk bupati dan gubernur Kalbar), teman, sahabat, dosen, dan rekan-rekan dari ajang PPI.
“Tanpa dukungan kalian, doa dan support dari kalian, saya tidak mungkin sampai di sini,” kata Dea dengan penuh rasa terima kasih.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Yayasan EL JOHN, khususnya Deddy Joni, yang memberinya kesempatan serta ruang untuk berkembang, bertemu tokoh-tokoh baru, dan memperoleh pengalaman berharga dalam public speaking dan interaksi dengan berbagai pihak.
