Dulu Ruang Kerja Pangsar Sudirman, Saat ini Kamar Bertarif 9 Juta
Hari ini, Indonesia memperingati wafatnya satu-satunya Panglima Besar yakni Jendral Sudirman yang gugur tepat 29 Januari 1950. Perjuangan luar biasa Pak Dirman tak lagi diragukan dengan siasat Perang Gerilya, Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat I ini menjadi salah satu sosok berjasa merebut kemerdekaan hingga akhirnya Belanda benar-benar mengakui kemerdekaan Indonesia.
Guna memperingati masa kehidupan Pak Dirman dahulu, KRjogja.com ingin mengulas sisi lain sosok yang identik dengan iket kepala blangkon tersebut. Di salah satu sisi Jalan Malioboro tepatnya Hotel Grand Inna (dahulu Hotel Merdeka 1945-1959), Pak Dirman sempat berkantor kala menjabat sebagai Panglima Besar TKR II
Saat ibukota negara dipindah sementara ke Yogyakarta pada tahun 1946, Sudirman yang menjadi Panglima Besar TKR berkantor di kawasan Jalan Malioboro. Termasuk kabinet pemerintahan lantaran cukup dekat dengan Gedung Agung yang kala itu ditempati oleh Bung Karno sebagai presiden Republik Indonesia. Sebuah ruangan di lantai dua, dengan luas 150 meter persegi di sisi paling luar hotel tersebut akhirnya dipilihkan sebagai kantor sekaligus rumah tinggal untuk Pak Dirman.
Meski hanya beberapa bulan saja tinggal di hotel tersebut, namun ternyata Pak Dirman tetap mendapatkan penghormatan atas jasa-jasannya. Hingga saat ini, pihak hotel yang berganti nama menjad Grand Inna Malioboro tetap mempertahankan ruangan milik Pak Dirman tersebut menjadi kamar super mewah dengan harga paling mahal.
Betapa tidak, untuk bisa merasakan istirahat di bekas kantor dan kamar Pak Dirman tersebut, tamu hotel dikenakan biaya Rp 9.280.000 permalamnya. Kamar yang diberinama Sudirman Suite tersebut memang sangat mewah dengan dua kamar tidur, kasur springbed nyaman lengkap dengan minibar, ruang makan dan ruang tamu plus sarapan pagi.
Public Relations Manager Grand Inna Malioboro Retno Kusuma kemudian menceritakan cukup detail tentang Sudirman Suite tersebut. Menurut Retno, pihaknya tetap mempertahankan beberapa bagian sejak masa dahulu seperti kusen, pintu, serta beberapa jendela.
“Untuk barang-barang Pak Dirman sudah kami berikan kepada Museum Jendral Sudirman untuk dirawat, ada tempat tidur kelambu, meja kursi bekerja, pakaian, sepatu, pin melekat di baju dan patung. Kemudian interior memang sudah kami ubah dan sesuaikan agar mewah namun tetap mempertahankan beberapa bagian yang masih bagus seperti kusen pintu,” ungkapnya Selasa (29/1/2019).
Diakui Retno, selama ini tak sedikit tamu hotel yang memilih Sudirman Suite sebagai lokasi menginap karena sejarah panjang ruangan tersebut. Pihak hotel pun berkomitmen tetap mempertahankan Sudirman Suite tersebut sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa Pak Dirman untuk Indonesia.
