Early Warning System Akan Dipasang di Wisata Pegunungan Dieng

0
kawah-sileri-dieng-kabupaten-banjarnegara_20170702_140138

Hari Minggu, 2 Juli 2017, bencana datang dari kawasan wisata Pegunungan Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah. Salah satu kawah yang terdapat di kawasan wisata Dieng yakni  Kawah Sileri tiba-tiba menyemburkan erupsi atau yang disebut letusan freatik setinggi 50 hingga 150 meter. Belasan orang yang kebanyakan adalah pengunjung wisata Dieng mengalami luka-luka akibat kejadian ini. Yang sangat disayangkan tidak ada peringatan dini dari pihak pengelola wisata maupun pemerintah daerah akan aktivitas  Kawah Sileri.

Namun setelah  bencana ini terjadi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM mengeluarkan siaran berita yang menyebutkan telah  memberikan rekomendasi kepada pihak pengelola lokasi wisata Kawah Sileri di kawasan Dieng, Jawa Tengah untuk mensterilkan radius 100 meter dari bibir kawah dari kunjungan wisatawan. Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas di Kawah Timbang karena adanya ancaman gas CO2 dan H2S yang berbahaya bagi kehidupan, dan bagi wisatawan yang mengunjungi kawasan wisata kawah disarankan tidak terlalu mendekat.

Sebelum letusan freatik terjadi Kawah Sileri sudah  mengeluarkan  letusan freatik tgl 30 April 2017 pada pukul 13:03:08 WIB, berupa 1 kali semburan lumpur dengan ketinggian kl 10m dengan jarak lontaran hanya lk.1m dari bibir kawah dengan ketebalan 1-2mm. Gempa letusan memiliki amplituda maksimum 7.2 mm, lama gempa 48.1 detik. Terjadi letusan freatik berikutnya pada tanggal 24 Mei 2017 pukul 09:41:10 WIB yang menyebabkan luapan air lk.1-2 m dari bibir kawah.

Untuk mengantisipasi bencana ini terjadi lagi, Pemerintah akan menyiapkan sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) di kawasan Wisata Dieng.

Menteri Sosial (Mensos)  Khofifah Indar Parawansa  mengatakan  kawasan Wisata Dieng masuk kategori 323 kabupaten/kota di seluruh Indonesia yang rawan bencana alam. Mensos mengaku telah berkoordinasi baik dengan Tim Tagana maupun Dinas Sosial dari tiga kabupaten di sekitar kawasan wisata Dieng, yakni Temanggung, Banjarnegara dan Wonosobo untuk melakukan langkah antisipasi agar bencana ini tidak terulang.

“Sekarang bagaimana ada early warning system yang bisa disiapkan di daerah wisata Dieng. Early warning system itu wilayahnya BMKG, tapi koordinasinya memang harus terintegrasi,” kata Khofifah Indar Parawansa, sebelum acara halal bi halal di Kementerian Sosial, beberapa waktu lalu.

Menurut Mensos sudah ada tim yang disiapkan untuk bertugas  mengkomunikasikan tiga kabupaten di sekitar Dieng untuk menyiapkan Kampung Siaga Bencana. Tim tersebut akan membantu menentukan titik atau lokasi mana yang memungkinkan untuk disiapkan sebagai Kampung Siaga Bencana.

Jika lokasi Kampung Siaga Bencana siap, Khofifah melanjutkan, masyarakat di sekitarnya akan dilatih secara khusus selama empat sampai lima hari. Di titik tersebut juga akan disiapkan lumbung sosial. Lumbung sosial ini untuk menyiapkan kebutuhan-kebutuhan ketanggap daruratan yang setiap saat bisa diakses oleh para relawan yang sudah dilatih.

Menurut Khofifah, skema ini sudah dilakukan di banyak titik, terutama daerah-daerah yang memang terdeteksi rawan bencana alam. Ada 323 kabupaten kota rawan bencana menurut pemetaan BNPB. “Early warning system menurut diskusi saya dengan beberapa tim itu memang sesuatu yang perlu disegerakan,” ujarnya menegaskan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan potensi erupsi freatik di Kawah Sileri masih dapat terjadi, namun tidak dapat dipastikan kapan. Umumnya, erupsi freatik akan disusul dengan erupsi berikutnya dalam rentang waktu tertentu. Apalagi karakter Kawah Sileri memiliki sejarah erupsi freatik yang sering terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *