El Nino Mulai Muncul, Indonesia Bersiap Hadapi Musim Lebih Kering

IIustrasi tanah kering akibat kemarau (Foto: Generated AI)
El John News-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengidentifikasi kemunculan fenomena El Niño dengan kategori lemah yang mulai memengaruhi wilayah Indonesia sejak April 2026. Kondisi ini diperkirakan akan berkembang menjadi kategori lemah hingga sedang pada periode Mei hingga Oktober mendatang.
Informasi tersebut disampaikan sebagai peringatan dini kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi perubahan cuaca yang lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya. Indikasi ini menunjukkan adanya pergeseran kondisi atmosfer menuju fase yang cenderung mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah.
Prakirawan cuaca BMKG, Rira Damanik, menjelaskan bahwa fase awal El Niño sudah mulai terdeteksi dan diprediksi akan terus berkembang dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi ini berpotensi memengaruhi pola musim kemarau di Indonesia.
Prediksi tersebut turut diperkuat oleh World Meteorological Organization yang memperkirakan fenomena El Niño akan kembali muncul secara global pada pertengahan 2026. Peluang kemunculan fase ini diprediksi terjadi pada periode Mei hingga Juli.
Kepala Prediksi Iklim WMO, Wilfran Moufouma Okia, menyebutkan bahwa setelah fase netral di awal tahun, terdapat kemungkinan besar El Niño akan berkembang dan menguat.
Secara ilmiah, El Niño terjadi akibat peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Perubahan ini berdampak pada pola angin dan tekanan udara global, yang pada akhirnya menyebabkan penurunan curah hujan di Indonesia.
Selain itu, fenomena ini juga berkaitan dengan tren pemanasan global yang dapat memperparah dampak cuaca ekstrem. Meski El Niño merupakan siklus alami yang terjadi setiap beberapa tahun, peningkatan suhu bumi dinilai dapat memperkuat efeknya.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk mulai mengantisipasi potensi musim kemarau yang lebih kering dan panjang. Pemantauan informasi cuaca secara berkala juga menjadi langkah penting untuk menghadapi perubahan iklim yang dinamis.
