Erupsi Gunung Krakatau, Ditjen Hubud Intensifkan Pemantauan Penerbangan

0
_104933263_volcano_getty1_july18

Meningkatkan aktivitas erupsi Gunung Krakatau membuat status gunung yang berada  di tengah Selah Sunda itu dinaikkan menjadi siaga. Status ini dinaikkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi setelah memantau adanya peningkatan  aktivitas erupsi. Hingga saat  ini,  pantauan terus dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi  untuk mengetahui perkembangan terkini.

Terkait hal ini, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Polana B. Pramesti telah memerintahnya jajarannya untuk intensif memantau operasional penerbangan yang berpotensi terdampak erupsi Gunung Krakatau.  Pemantau secara rutin ini dilakukan mengingat  saat ini sedang dalam moment libur Natal dan Tahun Baru,  yang  biasanya  di moment tersebut penerbangan sedang tinggi.

Bertepatan dengan liburan Natal dan menyambut Tahun Baru 2019 serta libur anak sekolah, moda transportasi udara banyak diminati oleh masyarakat untuk pergi mengisi liburan. Untuk itu saya telah meminta Otoritas Bandara, Unit Penyelenggara Bandar Udara dan semua stakeholder penerbangan untuk terus melakukan koordinasi dan siap siaga jika terjadi hal-hal yang mengganggu aktivitas penerbangan,” ujar Polana dalam siaran pers yang diterima Redaksi EL JOHN News, Kamis (27/12/2018).

Polana mengaku saat ini pihaknya belum mendapat Notam Khusus dari pihak Airnav Indonesia perihal penutupan bandara. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara baru mendapatkan Notam  dari Airnav, perihal penutupan Reroute terdampak Krakatau. Untuk bandara-bandara yang area penerbangannya melintasi Gunung Krakatau hingga saat ini masih berjalan normal,  seperti Bandara Internasional Soekarno Hatta, Banten.

“Sejauh ini abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau tidak memberikan dampak kepada penutupan bandara, untuk bandara terdekat seperti Bandara Soekarno Hatta dan Bandara Radin Inten II Lampung, bandara masih beroperasi normal. Dari Airnav sudah mengeluarkan Notam terkait pengalihan rute penerbangan yang tidak bisa dilewati pesawat,” jelas Polana.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Bandara Radin Inten II Lampung, Asep Kosasih melaporkan bahwa sejak terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau, fasilitas bandara baik sisi darat ataupun udara tidak terdampak dan tetap beroperasi normal.

“Alhamdulillah, pasca erupsi Gunung Anak Krakatau, Bandara Radin Inten II beroperasi secara normal dan tidak terdampak. Namun, kami akan terus memantau perkembangan dan berkoordinasi secara intens dengan BMKG, Airnav dan Direktorat Navigasi Penerbangan,” ujar Asep.

Dalam hal koordinasi dan komunikasi penanganan abu vulkanik, Dirjen Hubud melalui Direktorat Navigasi Penerbangan telah membangun sistem informasi sehingga para stakeholder yakni I-WISH (Integrated Webbased aeronautical Information System Handling). Dalam sistem ini stakeholder terkait menyampaikan informasi yang dikuasai terkait tugas dan fungsi serta kewenangannya dalam hal penanganan abu vulkanik atau yang lebih dikenal dengan CDM (Collaborative Decision Making).

“Saya minta untuk memonitor selalu informasi yang disampaikan baik dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), BMKG maupun dari source lainnya dan Airnav agar mendistribusikan informasi tersebut melalui NOTAM kepada airlines dan bandara”, pungkas Polana.

Berdasarkan informasi BMKG pertanggal 26 Desember 2018 pukul 19.00 WIB sebaran debu vulkanik mengarah ke Barat Daya-Barat dengan ketinggian mencapai lebih dari 10 km.

Seperti diketahui akibat erupsi Gunung Merapi, beberapa daerah di Selat Sunda diterjang tsunami pada Sabtu (22/12/2018) lalu.  Mengetahui bencana ini terjadi dengan cepat Polana langsung terjun ke lapangan untuk meninjau fasilitas pendukung transportasi udara yang ada didaerah terdampak tsunami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *