Fellexandro Ruby Bahas Pentingnya Reputasi Digital dalam Seminar Nasional

Creativepreneur sekaligus penulis, Fellexandro Ruby, tampil sebagai pembicara dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Yayasan EL JOHN Indonesia dan EL JOHN Academy di Merlyn Park Hotel Jakarta. Seminar ini dihadiri seluruh finalis Miss Chinese Indonesia 2025 dan masyarakat umum.
Dalam paparannya, Ruby menekankan pentingnya membangun dan menjaga online reputation di era digital yang serba cepat dan terbuka. Di hadapan peserta, Ruby menjelaskan bahwa materi yang ia bawakan bukanlah pelatihan teknis, tetapi berbasis pengalaman pribadi yang dapat memberikan perspektif berbeda bagi setiap orang.
“Saya ingin berbagi dari pengalaman pribadi. Teman-teman bebas bertanya atau mencatat hal yang dianggap penting. Karena ini bukan training yang punya SOP, setiap orang pasti akan pulang membawa takeaway yang berbeda,” ujarnya mengawali sesi.
Ruby mengajak peserta memahami alasan mengapa reputasi digital harus dikelola dengan serius. Ia mencontohkan situasi yang sering terjadi: seseorang pernah membuat unggahan negatif tentang sebuah brand, namun bertahun-tahun kemudian melamar kerja ke perusahaan tersebut.
“Jangan sampai ada postingan kita sepuluh tahun lalu marah-marah soal brand X, lalu suatu hari kita apply kerja ke brand X. HRD tinggal lihat histori kita dan selesai sudah,” jelas Ruby.
Ia juga menegaskan bahwa reputasi digital bukan hanya soal media sosial, tetapi seluruh jejak digital yang dapat muncul melalui mesin pencari.
“Walaupun social media bukan segalanya, faktanya kalau belum posting itu kayak belum kejadian. Tapi yang penting adalah: ketika kita posting, apa cerita yang ingin kita bangun? Itu menentukan reputasi kita.”

Uji Cepat Reputasi Online Lewat Google
Ruby kemudian mengajak peserta melakukan tes sederhana: melakukan pencarian nama mereka sendiri di Google. “Langsung cari nama kalian. Lihat apa yang muncul di hasil pertama. Itu reputasi paling jujur,” katanya.
Ia memperingatkan bahwa ketika orang mencari nama seseorang dan menemukan kata-kata yang berkaitan dengan “kasus”, hal itu berpotensi menghambat banyak peluang, mulai dari karier, kerja sama, hingga kepercayaan publik.
Dalam sesi interaktif, Ruby juga menunjukkan auto-suggestion Google menggunakan nama peserta. Hal itu menggambarkan bagaimana reputasi digital seseorang bisa terbentuk secara organik berdasarkan pencarian publik.
Membangun Jejak Digital yang Positif
Ruby menekankan pentingnya menentukan sendiri bagaimana seseorang ingin dikenal di dunia digital. “Kalau kalian ingin dikenal sebagai penyanyi, pembicara, atau profesional di bidang tertentu, pastikan kata itu muncul di pemberitaan atau di profil kalian. Biarkan Google merekamnya.”

Menurutnya, membangun identitas digital adalah investasi jangka panjang yang penting, terutama bagi generasi yang berkarier di era online.
Ruby juga memberikan tips praktis untuk menghapus atau meminta penarikan konten pribadi yang tidak sesuai atau merugikan. “Kalau ada konten yang tidak kalian inginkan, kalian bisa mengajukan permohonan ke Google untuk menariknya. Tapi tentu harus ada bukti,” jelasnya.
Ia menunjukkan jenis-jenis konten yang dapat diajukan untuk dihapus, termasuk informasi pribadi sensitif, konten yang menyesatkan, hingga materi yang melanggar privasi.

Jaga Keamanan Siber: Password Jangan Sembarangan
Masuk ke isu keamanan siber, Ruby memperingatkan bahwa banyak kasus reputasi buruk bermula dari kelalaian dasar, seperti password yang mudah ditebak. “Siapa di sini passwordnya masih 123456 atau pakai tanggal lahir? Itu rawan sekali kena hack,” ujarnya.
Ruby kemudian membagikan cara membuat password aman menggunakan rangkaian kalimat sebagai dasar, yang menurutnya efektif dan mudah diingat.

Menutup sesi, Ruby menyinggung soal cyberbullying dan bagaimana seseorang harus merespons komentar negatif.
“Jangan pernah membalas komentar ketika kita sedang marah, sedih, atau tidak stabil. Itu hampir pasti berujung buruk. Kadang lebih baik diam, tau jawab hanya ketika kita bersama lawyer,” tegasnya. Ruby mengingatkan bahwa di era UU ITE, respons yang terburu-buru dapat berakibat fatal.
