Culinary TourismTourismTravel

Geliat Bisnis Olahan Rinuak Saat Pandemi

Olahan ikan rinuak juga banyak dilirik sebagai salah satu usaha yang cukup menjanjikan. Kuliner ini diminati masyarakat dan wisatawan karena rasanya gurih nan lezat.

Di tengah mewabahnya Covid-19, pelaku usaha yang menjual olahan Rinuak, tak gentar menghadapi dampak dari pandemi tersebut. Mereka tetap eksis memasarkan produknya secara dalam jaringan atau online.

Salah satunya, Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) dengan merek dagang Bagonjong. UMKM ini mampu mengolah sekitar lima kilogram dendeng rinuak setiap hari.

“Jika dikatakan tidak terdampak sama sekali oleh pandemi, ya tidak seperti itu juga, tentu ada dampaknya,” kata pemilik UMKM Bagonjong, Fitria Amrina.

Secara keseluruhan, UMKM yang dibangunnya itu masih bisa berproduksi setiap hari demi memenuhi permintaan pasar.

Saat ini permintaan pasar terhadap dendeng rinuak masih terbilang tinggi. Dalam sehari, rata-rata Fitria mampu memproduksi 40 bungkus dendeng rinuak seberat 100 gram.

“40 kemasan itu diolah dari lima kilogram rinuak, yang memakan waktu produksi kurang lebih delapan jam,” jelasnya.

Saat ini, Fitria mematok harga Rp18 ribu per 100 gram dendeng rinuak, untuk pasaran lokal Kabupaten Agam dan sekitarnya. Harga tersebut akan berubah untuk pasar di luar daerah, tergantung daerah pemesan karena ongkos kirimnya berbeda-beda.

Ia mengakui ketika pandemi Covid-19 mulai mewabah, produksi dendeng rinuak yang dirintisnya sejak tiga tahun lalu mengalami pasang surut. Namun, terhitung sejak Ramadan 2020 produksi dendengnya kembali menggeliat.

Soal pemasaran, ia mengaku cenderung lebih melirik sistem online. Selain itu dirinya juga memaksimalkan jaringan dagang yang sudah terbentuk.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close