Geliat Industri Manufaktur Nasional Semakin Ekspansif
Pertumbuhan industri manufaktur nasional semakin ekspansif karena didorong permintaan baru yang mengalami pertumbuhan paling cepat sejak Juli 2014. Di samping itu, produksi manufaktur dalam negeri terus menunjukkan kenaikan selama empat bulan terakhir dan menjadi periode perluasan usaha yang terpanjang sejak lima tahun silam.
Capaian tersebut berdasarkan indeks manajer pembelian (purchasing manager index/PMI) Indonesia pada Mei 2018 yang menyentuh di level tertinggi dalam 23 bulan, yakni sebesar 51,7 atau naik dari bulan sebelumnya 51,6.
“Kenaikan PMI ini sangat positif, membuktikan bahwa industri manufaktur kita sedang bergeliat. Untuk itu, kami terus dorong agar lebih produktif dan berdaya saing,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Rabu (6/6).
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal I tahun 2018, industri manufakur nasional skala besar dan sedang di dalam negeri mengalami peningkatan produksi sebesar 0,88, industri pengolahan nonmigas tumbuh sebesar 5,03 persen di kuartal I/2018, kemudian diikuti industri makanan dan minuman yang menempati angka pertumbuhan hingga 12,70 persen, dan industri logam dasar 9,94 persen, industri tekstil dan pakaian jadi 7,53 persen, serta industri alat angkutan 6,33 persen.
Menperin menegaskan, selama ini pihaknya fokus menjalakan program hilirisasi industri yang konsisten memberikan efek berantai terhadap perekonomian nasional. Dampak positif itu antara lain peningkatan pada nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa dari ekspor.
“Kami juga aktif mendorong peningkatan nilai investasi dan ekspor terutama di sektor manufaktur,” ujarnya.
Airlangga mengatakan, sektor pengolahan ini mampu memberikan kontribusi yang besar bagi seluruh nilai investasi di Indonesia. “Rata-rata kontribusi investasi di sektor industri selama periode tahun 2011-2017 mencapai 45,8 persen,” ungkap Airlangga.
Bahkan, industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar dalam penerimaan pajak berdasarkan sektor usaha utama pada periode Januari-April 2018. Sumbangan sektor manufaktur ini mencapai Rp103,07 triliun dengan mencatatkan pertumbuhan double digit sebesar 11,3 persen. “Jadi, pelaku industri kita telah menunjukkan kepatuhannya sebagai wajib pajak,” tuturnya.
T.M. Zakir Machmud selaku Peneliti Senior dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat, Universitas Indonesia menyampaikan, tren kenaikan indeks manufaktur sejak Januari 2018 karena ditopang oleh peningkatan permintaan domestik, kendati di tengah order ekspor yang melemah karena kondisi global yang kurang menentu.
“Di sisi lain, depresiasi nilai Rupiah terhadap Dollar mendorong kenaikan biaya input atau bahan baku, sehingga berimbas pada tekanan inflasi. Namun demikian, para pengusaha kita tetap optimistis bahwa output akan tetap naik dalam 12 bulan ke depan,” paparnya.
Langkah strategisnya, antara lain membuka pasar negara tujuan ekspor yang nontradisional, seperti Timur Tengah, Amerika Latin, dan Eropa Timur. “Selain itu, perlu percepatan penyelesaian kerja sama yang komprehensif dengan negara-negara potensial serta penetrasi ke pasar Asean terus didorong dan diperbesar,” imbuhnya.
Upaya yang penting dalam menjaga keberlanjutan industri nasional, lanjut Zakir, di antaranya dengan mengupayakan penurunan harga gas dan listrik di sektor energi. Kemudian, faktor tenaga kerja dengan kenaikan upah yang terukur serta terjaminnya ketersediaan bahan baku industri yang esensial seperti gula dan garam.
