Geopolitik Global Memanas, Amran Pastikan Stok Pangan RI Aman 324 Hari
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan keterangan pers tentang stok pangan (Foto: tangkapan layar Youtube Kementerian Pertanian)
El John News, Jakarta-Di tengah memanasnya situasi geopolitik global akibat konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, pemerintah memastikan kondisi ketahanan pangan nasional tetap dalam keadaan aman.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa pemerintah telah melakukan perhitungan menyeluruh terhadap ketersediaan pangan nasional. Hasilnya menunjukkan cadangan pangan Indonesia masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.
Dalam konferensi pers di kantor Kementerian Pertanian Republik Indonesia di Jakarta, Amran menyebutkan bahwa stok pangan nasional saat ini mampu mencukupi hingga lebih dari 300 hari ke depan.
“Kami sudah menghitung kekuatan cadangan pangan nasional. Dengan kondisi geopolitik dunia yang memanas, alhamdulillah stok pangan Indonesia saat ini masih tersedia hingga sekitar 324 hari,” ujar Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementan, Jakarta, belum lama ini.
“Kami sudah menghitung kekuatan cadangan pangan nasional. Dengan kondisi geopolitik dunia yang memanas, alhamdulillah stok pangan Indonesia saat ini masih tersedia hingga sekitar 324 hari,” ujar Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementan, Jakarta, belum lama ini.
Ia menegaskan bahwa angka tersebut bukan berarti cadangan akan habis setelah periode tersebut. Produksi pangan nasional tetap berlangsung setiap bulan sehingga pasokan terus bertambah.
“Perlu dipahami, 324 hari itu adalah cadangan yang tersedia saat ini. Sementara produksi kita berjalan setiap bulan, minimal sekitar 2,6 juta ton dan bisa mencapai 5,7 juta ton,” jelasnya.
Cadangan pangan tersebut berasal dari berbagai sumber, mulai dari stok pemerintah hingga ketersediaan pangan di sektor hotel, restoran, dan katering atau Horeka. Selain itu, terdapat pula produksi yang masih berada di tahap penanaman atau standing crop.
Amran merinci, cadangan beras yang berada di gudang Perum Bulog mencapai sekitar 3,7 juta ton. Sementara stok di sektor Horeka diperkirakan lebih dari 12 juta ton, dan potensi produksi dari tanaman yang sedang ditanam berkisar 10 hingga 11 juta ton.
Menurutnya, kebutuhan pangan nasional saat ini sekitar 2,5 juta ton setiap bulan. Dengan produksi yang masih berjalan, ketersediaan pangan dipastikan tetap terjaga.
“Produksi kita tiap bulan di kisaran 2,6 juta sampai 5,7 juta ton, sedangkan kebutuhan hanya sekitar 2,5 juta ton. Artinya, stok pangan kita aman,” kata Amran.
Ia juga menekankan bahwa komoditas paling strategis dalam ketahanan pangan Indonesia adalah beras, karena menjadi makanan pokok mayoritas masyarakat.
“Beras adalah komoditas paling vital. Kalau beras tidak tersedia, itu bisa menjadi persoalan besar bagi negara, karena konsumsi masyarakat kita sebagian besar berasal dari beras,” ujarnya.
Selain situasi geopolitik global, pemerintah juga mengantisipasi potensi dampak fenomena El Niño yang diperkirakan akan muncul pada tahun ini.
Namun Amran menilai Indonesia telah memiliki pengalaman menghadapi kondisi serupa, terutama saat fenomena El Niño kuat terjadi pada tahun 2023.
“El Niño tahun 2023 jauh lebih berat dibandingkan prediksi tahun ini. Saat itu kita bisa mengatasinya, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir,” pungkasnya.
