Gotongroyong Bedah 1.600 Rumah
Implementasi nilai-nilai Pancasila di Kulonprogo salah satunya diwujudkan dalam program Bedah Rumah bagi warga berkekurangan secara gotongroyong. Program ini dilaksanakan setiap hari Minggu di berbagai wilayah. Bedah Rumah tidak dibiayai APBD maupun APBN melainkan dari hasil zakat, infak, sodakoh dan sumbangan Corporate Social Responsibility (CSR).
“Selama lima tahun Bedah Rumah sampai hari ini kita sudah menyelesaikan 1600 rumah,” kata Bupati Kulonprogo dr H Hasto Wardoyo SpOG(K) dalam acara ‘Sarasehan Implementasi Nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan Nyata dalam Rangka Memperingati Bulan Pancasila’ yang diselenggarakan Panitia Bersama Bulan Pancasila 2018, di Joglo Jatno Dusun Suren Desa Sukoreno Kecamatan Sentolo Kulonprogo, Sabtu (11/08/2018) malam.
Sarasehan juga menampilkan narasumber Plt Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Dr Hariyono MPd, Kepala Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM Dr Heri Santoso dan dosen Program Studi Magister Ilmu Pemerintahan UMY Dr Zuly Qodir dipandu moderator Ketua Sekber Keistimewaan DIY Widihasto Wasana Putra. Hadir dalam kesempatan tersebut tamu undangan dan warga masyarakat sekitar.
Lebih lanjut Hasto Wardoyo mengatakan, implementasi nilai-nilai Pancasila juga diwujudkan dalam slogan Bela Beli Kulonprogo agar masyarakat bisa mandiri dalam bidang ekonomi. “Kita sudah berdaulat dalam bidang politik, tapi kita belum berdikari dalam bidang ekonomi,” kata Hasto Wardoyo.
Untuk mewujudkan slogan tersebut, PDAM Kulonprogo kemudian memproduksi AirKu (Air Kulonprogo). Dicanangkannya slogan Bela Beli Kulonprogo, harapannya agar perputaran uang untuk belanja barang tetap berputar di Kulonprogo.
Sedangkan Prof Hariyono mengatakan, sebenarnya banyak ajaran maupun praktik nilai-nilai Pancasila yang sudah diterapkan di masyarakat. Salah satu contohnya adalah saling bertukar informasi dan hidup rukun.
Karena itulah, BPIP justru ingin belajar dari masyarakat yang sudah menerapkan nilai-nilai Pancasila. “Salah satu program BPIP membentuk Kampung Nusantara, kampung mandiri yang bisa mengatasi masalahnya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki,” katanya.
Prof Hariyono juga berharap, ke depan di Kulonprogo ada yang bisa dijadikan pilot project Desa Pancasila, desa yang lebih mengembangkan potensi lokalnya untuk bersama-sama membangun desanya. Dalam sarasehan putara terakhir tersebut juga dilakukan pengukuhan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) masyarakat wilayah Sentolo, Nanggulan dan Kokap serta pemberian bantuan sebesar Rp 10.000.000 dari PT Astra Tbk yang diwakili oleh drg Edi Purjanto kepada Dinas Sosial Kulonprogo untuk bantuan Bedah Rumah.
