Gunung Kidul Tawarkan Pengelolaan Air Asin Jadi Air Tawar Kepada Investor
Warga mengambil air dari ceruk yang dibuat di dasar Telaga Banteng, Desa Melikan, Rongkop, Gunung Kidul, DI Yogyakarta, Selasa (25/8). Air tersebut digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga serta minuman ternak sedangkan untuk air minum mereka tetap harus membeli dengan harga Rp 130.000 per tangki kapasitas 5.000 liter. Kekeringan menjadi permasalahan tahunan bagi warga setempat meski Pemerintah telah berupaya menanggul sekeliling telaga tersebut. Kompas/Ferganata Indra Riatmoko (DRA) 25-08-2015
Ironi jika melihat Kabupaten Gunung Kidul yang menjadi daerah langanan akan musibah kekeringan, namun di lain sisi salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini, memiliki sumber mata air yang berkualitas namun posisinya yang berada jauh di dalam tanah, sehingga sulit untuk mengaksesnya. Agar musibah kekeringan ini tidak terulang lagi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunung Kidul menawarkan kepada pihak swasta untuk berinvestasi pada sektor desalinasi atau pengolahan air asin menjadi air tawar.
Wakil Bupati Gunung Kidul Immawan Wahyudi mengatakan dengan memanfaatkan teknologi dapat memaksimalkan apa yang dikehendaki termasuk dalam mengelola ari laut menjadi air tawar. “Saya akan sangat terbuka dengan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi kekeringan. Program pengolahan air laut menjadi air tawar bisa saja dilakukan,” kata Immawan di Gunung Kidul, Senin, 7 Agustus 2017.
Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), membuka kesempatan bagi pihak swasta untuk berinvestasi pada sektor desalinasi atau pengolahan air asin menjadi air tawar sebagai solusi kekeringan.
Dia mengatakan solusi pemanfaatan air laut menjadi air tawar merupakan alternatif mengatasi kekeringan, selain menggunakan sumber mata air. Yang jadi masalahnya ada terbentuk anggaran sehingga tidak bisa berbuat apa-apa, jika ingin anggaran tersalurkan maka harus mengajukan terlebih dahulu. Sebenarnya solusi tersebut harus segera dilakukan mengingat musibah kekeringan selalu menimpang Kabupaten Gunung Kudil setiap musim kemarau tiba.
“Kami sangat menyambut baik jika ada swasta yang bisa mengembangkan teknologi tersebut. “Pada dasarnya, Gunung Kidul bukan kekurangan air, namun kesulitan dalam mengakses air,” ujarnya.
Dia mengatakan pemkab setempat berupaya memanfaatkan sumber air di dalam tanah salah satunya terus mencari sumber air.
“Kami berupaya melakukan pencarian mata air baru,” katanya.
Sementara itu, Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunung Kidul Sutaryono mengatakan sampai saat ini sebanyak delapan kecamatan dengan 137.000 jiwa mengalami kekeringan.
“Kami setiap hari mengirimkan bantuan sebanyak 28 tangki air. Saat ini sekitar 800-an tangki yang sudah disalurkan. Untuk masyarakat atau instansi yang ingin menyalurkan bantuan bisa meminta data ke kami, sehingga tidak bertumpuk satu titik,” katanya menambahkan.
