Harga Minyak Mentah Dunia Menguat, Stok Amerika Serikat Anjlok

Jakarta, El John News – Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (8/1/2026) setelah mengalami pelemahan dua hari beruntun di sesi Asia. Minyak mentah berjangka acuan jenis Brent naik 24 sen atau 0,4% ke level $60,20 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 22 sen atau 0,39% menjadi $56,21 per barel. Pergerakan ini mencerminkan rebound tipis setelah sebelumnya tekanan pasokan global dan sentimen geopolitik membebani pasar.
Secara teknikal, harga WTI diperkirakan akan menemukan support di kisaran $55,80–$53,60, sedangkan resisten berada di $57,80–$60,40, menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase sideways dengan tekanan volatilitas tinggi. Pergerakan ini kerap dimanfaatkan pelaku pasar untuk melakukan buy on weakness saat harga turun.
Katalis utama penguatan tipis kali ini adalah penurunan stok minyak mentah Amerika Serikat (AS) sebesar 3,8 juta barel menjadi 419,1 juta barel menurut data terbaru Badan Informasi Energi AS (EIA). Penurunan ini jauh lebih besar dari perkiraan analis yang memperkirakan kenaikan stok, sehingga memicu kenaikan harga minyak di sesi perdagangan ini.
Namun, sentimen fundamental pasar tetap terbelah. Pasar masih mencermati kebijakan AS terhadap minyak Venezuela, terutama setelah pengumuman pemerintahan Trump terkait kemungkinan impor minyak Venezuela senilai hingga $2 miliar yang bisa meningkatkan pasokan global dan menekan harga minyak. Langkah ini dinilai dapat mengalihkan arus minyak yang semula menuju Asia ke pasar AS, sehingga potensi kenaikan harga menjadi terbatas.

Selain itu, penyitaan kapal tanker yang terkait Venezuela, termasuk satu yang berbendera Rusia, menunjukkan eskalasi geopolitik yang menjadi perhatian pelaku pasar. Ketidakpastian politik dan potensi aliran pasokan baru dari Venezuela menjadi faktor dominan yang masih mengimbangi tekanan fundamental global.
Secara keseluruhan, rebound harga minyak meski tipis menunjukkan pasar sedang mencari keseimbangan antara tekanan pasokan global, data stok AS yang kuat, dan dinamika geopolitik yang terus berkembang.
(Ilustrasi kapal tanker minyak Canva)
Di tengah tarik-menarik geopolitik dan surplus pasokan global, harga minyak kembali bergerak mencari keseimbangan — bukan sekadar soal barel dan dolar, tapi tentang siapa yang mengendalikan arus energi dunia.
