IHSG Terjun Bebas! Analis Ingatkan Risiko Indonesia Turun ke Frontier Market.

Photo Wawancara El John Media dengan Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, Kamis (29/01/2026). (Source : Tim Liputan El John Media)
Jakarta, EL JOHN News – Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari terakhir kian dalam dan signifikan. Bahkan, pelemahan tajam tersebut memicu trading halt dua hari berturut-turut, mencerminkan tekanan jual yang kuat di pasar modal Indonesia.
Menurut Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, koreksi IHSG kali ini tidak bisa dipandang sebagai koreksi teknikal semata. Ia menilai pelemahan pasar merupakan refleksi dari perubahan persepsi risiko investor global terhadap Indonesia.
“Koreksi IHSG kali ini bukan sekadar teknikal, tetapi lebih mencerminkan perubahan persepsi risiko investor asing terhadap pasar Indonesia,” ujar Herditya kepada EL JOHN News.
Sentimen utama, kata Herditya, datang dari pengumuman MSCI terkait langkah lanjutan hasil survei Oktober 2025 mengenai struktur kepemilikan efek. Pengumuman tersebut langsung direspons negatif oleh pasar dan menjadi pemicu awal pelemahan IHSG sejak pembukaan perdagangan.
Tekanan semakin berat seiring derasnya arus keluar dana asing (net foreign outflow), terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar dan emiten konglomerasi, termasuk saham yang sebelumnya diproyeksikan masuk atau terdampak penyesuaian indeks MSCI.
“Outflow asing sebenarnya sudah terjadi sebelum pengumuman MSCI, namun setelah rilis tersebut tekanannya menjadi jauh lebih dalam, terutama pada saham-saham dengan bobot besar di IHSG,” jelasnya.
Sentimen negatif kemudian diperparah oleh langkah Goldman Sachs yang menurunkan peringkat pasar saham Indonesia menjadi underweight. Herditya menilai, downgrade tersebut semakin mempertegas sikap defensif investor global terhadap pasar Indonesia.
“Downgrade dari Goldman Sachs menambah tekanan psikologis pasar dan membuat investor asing cenderung menahan diri untuk kembali masuk,” katanya.
Risiko Downgrade Status Pasar
Herditya mengingatkan bahwa MSCI masih memberikan waktu hingga Mei 2026 bagi Indonesia untuk melakukan perbaikan struktural. Namun, jika tidak ada kemajuan signifikan, risiko terburuk yang dihadapi adalah downgrade status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
“Jika hingga Mei tidak ada progres perbaikan struktural, potensi downgrade ke Frontier Market menjadi risiko terbesar yang harus diwaspadai,”
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana

Menurutnya, dampak downgrade tersebut tidak hanya dirasakan di pasar modal, tetapi juga berpotensi menekan arus investasi asing dan prospek pertumbuhan ekonomi nasional ke depan. Karena itu, perbaikan transparansi, struktur kepemilikan, dan tata kelola emiten menjadi pekerjaan rumah utama bagi regulator, SRO, dan pelaku pasar.
Sentimen Domestik Masih Terpinggirkan
Terkait sentimen dalam negeri, Herditya mengakui adanya isu seperti reshuffle kabinet, independensi Bank Indonesia, hingga dinamika politik nasional. Namun ia menilai, faktor-faktor tersebut saat ini masih kalah dominan dibandingkan tekanan eksternal.

“Saat ini fokus investor global masih tertuju pada bagaimana Indonesia dipersepsikan di mata indeks dan institusi global,”
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana
Risiko Tinggi, Peluang Mulai Terbuka
Meski risiko masih tinggi dan volatilitas diperkirakan berlanjut, Herditya menilai koreksi dalam juga mulai membuka peluang selektif bagi investor dengan profil risiko tinggi dan horizon investasi menengah–panjang.
“Harga saham saat ini memang belum tentu murah, tetapi sudah jauh lebih rendah dibandingkan saat IHSG reli di akhir tahun hingga Januari,” ungkapnya.
Ia menyarankan investor untuk mulai mencermati emiten berfundamental kuat yang terdampak sentimen, saham-saham non-MSCI yang relatif defensif, serta sektor komoditas tertentu seperti emiten terkait emas, seiring tren harga emas global yang masih menguat.
“Selama sentimen MSCI belum jelas, volatilitas pasar masih akan tinggi. Kunci pemulihan IHSG ke depan ada pada perbaikan struktur pasar dan upaya mengembalikan kepercayaan investor asing,” pungkas Herditya.
