Indonesia Fair Cultural Expo Dimeriahkan dengan Performa Budaya

0
__wj-1-1525054473

Kegiatan Business Forum diikuti lebih dari 200 pelaku bisnis kedua negara, yang didominasi pelaku bisnis Bangladesh. Hadir sebagai tamu kehormatan pada acara tersebut adalah Secretary Ministry of Commerce of Bangladesh, Shubhashish Bose mewakili Minister of Commerce of Bangladesh.

Pemerintah Bangladesh terkesan dengan kemajuan perekonomian yang dicapai Indonesia yang saat ini menjadi negara anggota G-20. Bose berharap agar hubungan perdagangan antar kedua negara dapat ditingkatkan, demikian juga dengan perjanjian perdagangan kedua negara sebagai persiapan Bangladesh menjadi negara berkembang.

Sementara itu, hadir sebagai narasumber pada Forum Bisnis yaitu Ketua Komite Bilateral untuk Bangladesh dan Sri Lanka, KADIN Indonesia Deepak Samtani; President of Federation of Bangladesh Chambers of Commerce and Industry (FBCCI), Shafiul Islam Mohiuddin; Head of National Interest Account Department, Indonesia Eximbank, Nilla Meiditha; Gas Sourcing Manager, PT Pertamina, Imam Mul Akhyar; Wakil Presiden Direktur Adaro Power, Dharma Djojonegoro, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Joko Supriyono, Joko Supriyono; dan Kepala Dewan Pengawas Badan Pengelola Dana Sawit, M. Rusman.

Dalam paparannya, Arlinda menyampaikan bahwa Bangladesh yang berpenduduk lebih dari 160 juta jiwa merupakan mitra dagang nontradisional Indonesia yang potensial, dan Indonesia siap membantu Bangladesh yang sedang beranjak menjadi negara berkembang (developing country).

“Negara ini sedang tumbuh dan memiliki kelas menengah baru. Peluang ini yang harus menjadi perhatian pelaku usaha. Ke depan, Indonesia dan Bangladesh perlu merumuskan kerja sama bilateral dalam Preferensial Trade Agreement (PTA). Kami sangat meyakini hubungan kerja sama ini dapat terwujud dengan lebih baik,” imbuh Arlinda.

Arlinda menegaskan Misi Dagang ke Bangladesh memberi kesempatan kepada para pelaku usaha nasional untuk masuk lebih jauh ke pasar Bangladesh. Selama ini Bangladesh mendapatkan beberapa produk Indonesia dari negara ketiga seperti minyak kelapa sawit dan turunannya, pulp and paper, serta rempah-rempah. Dengan misi dagang ini, pelaku usaha nasional dan dari Bangladesh bisa langsung melakukan transaksi.

Pada kesempatan tersebut, Arlinda juga mengundang para pelaku usaha Bangladesh untuk hadir pada Trade Expo Indonesia. “Sebagai upaya peningkatan hubungan ekonomi dan perdagangan kedua negara dan untuk melakukan eksplorasi terhadap produk Indonesia, kami mengundang pelaku usaha Bangladesh untuk hadir pada Trade Expo Indonesia yang diadakan di ICE BSD pada 24–28 Oktober 2018,” kata Arlinda.

Sementara itu dalam kegiatan Indonesia Fair, beberapa produk Indonesia yang diminati antara lain fesyen, makanan dan minuman, serta rempah-rempah. Saat ini sebagian besar masyarakat Bangladesh masih menggunakam gambir dan pinang untuk mempercantik giginya.

Indonesia Fair yang dimeriahkan dengan performa budaya, peragaan busana, pemutaran film, dan demo membatik dipenuhi sekitar 10 ribu pengunjung. Pada hari terakhir pelaksanaan Indonesia Fair juga telah ditandatangani perjanjian kesepahaman (MoU) antara anak perusahaan PT Angkasa Pura I yaitu PT Angkasa Pura Property dengan Zaman Company Limited di bidang pengembangan properti, konstruksi, dan pariwisata. Penandatanganan ini disaksikan Dirjen Arlinda dan Duta Besar RI untuk Dhaka.

Indonesia Fair terselenggara atas kerja sama Kementerian Pariwisata dengan salah satu lembaga seni di Bangladesh Dhakabashi Organization.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *