Indonesia Kenalkan Jamu kepada Komunitas Diplomatik ASEAN di Beijing

0
5d6dfba0e43e7-1

Sebagai bagian dari upaya diplomasi budaya, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beijing bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Beijing memperkenalkan jamu tradisional Indonesia kepada perwakilan komunitas diplomatik dalam kegiatan ASEAN Ladies Circle (ALC) yang digelar di Wisma Duta Besar RI, Beijing, belum lama ini.

Kegiatan yang mengusung tema “A Taste of Tradition, Dance, and Culture” ini dihadiri sekitar 150 tamu undangan, terdiri dari duta besar perempuan, istri duta besar, diplomat perempuan dari negara-negara ASEAN, serta perwakilan dari ASEAN-China Center dan sejumlah negara sahabat lainnya.

Acara berlangsung hangat dan penuh keakraban, mencerminkan semangat kebersamaan dan kekayaan budaya negara-negara ASEAN yang dipersatukan melalui tradisi, kuliner, dan seni.

Ketua DWP KBRI Beijing, Sih Elsiwi Oratmangun, dalam sambutannya menekankan bahwa jamu bukan sekadar minuman tradisional, tetapi juga merupakan warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage) yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia selama berabad-abad.

“Dalam program ALC ini, kami ingin memperkuat persahabatan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia. Jamu bukan hanya tradisi turun-temurun, tetapi juga memiliki manfaat kesehatan yang telah diakui luas. Kini, jamu bahkan telah diakui UNESCO sebagai bagian dari warisan budaya dunia,” ujar Ibu Elsiwi.

Ia menambahkan, pengenalan jamu kepada masyarakat internasional menjadi bagian dari diplomasi kebudayaan yang menonjolkan kearifan lokal Indonesia. Melalui kegiatan semacam ini, Indonesia berharap nilai-nilai tradisi dan gaya hidup sehat khas Nusantara semakin dikenal luas oleh komunitas global.

Dalam acara tersebut, para tamu undangan berkesempatan mencicipi langsung aneka jamu tradisional Indonesia, seperti beras kencur dan kunyit asam, yang disajikan secara khusus oleh anggota DWP KBRI Beijing. Kedua jenis jamu ini dikenal memiliki manfaat kesehatan yang besar, terutama bagi kaum perempuan.

Jamu beras kencur, dengan rasa segar dan aroma khas rempah, dipercaya dapat meningkatkan stamina dan menghangatkan tubuh. Sedangkan jamu kunyit asam dikenal sebagai minuman yang membantu menjaga keseimbangan tubuh dan memperbaiki metabolisme.

Beberapa tamu undangan mengaku terkesan dengan cita rasa jamu yang unik. Mereka menilai beras kencur sangat cocok diminum pada musim gugur di Beijing, ketika suhu mulai turun dan udara terasa lebih dingin.

“Jamu beras kencur ini luar biasa, hangat di tenggorokan dan terasa alami. Sangat sesuai untuk cuaca dingin seperti sekarang,” ujar salah satu tamu asal Thailand.

Selain mengenalkan jamu, acara ALC di Wisma Duta Besar RI juga menampilkan kesenian tradisional Indonesia yang dibawakan oleh mahasiswa Indonesia di Beijing. Para mahasiswa mempersembahkan tari daerah dari berbagai provinsi, sementara anggota DWP KBRI Beijing turut memeriahkan acara dengan membawakan medley lagu-lagu tradisional Nusantara.

Penampilan tersebut disambut antusias oleh para tamu, yang tak hanya menikmati pertunjukan, tetapi juga turut berinteraksi dan menari bersama dalam suasana persahabatan yang hangat.

Kegiatan ini menunjukkan bagaimana diplomasi budaya Indonesia mampu menjembatani hubungan antarmasyarakat dan memperkuat persaudaraan antarbangsa melalui kekuatan seni dan tradisi.

ASEAN Ladies Circle (ALC) merupakan forum sosial yang beranggotakan para diplomat perempuan, duta besar perempuan, serta istri dan pasangan diplomat dari negara-negara anggota ASEAN yang bertugas di Beijing.

Forum ini rutin menyelenggarakan kegiatan bergilir di masing-masing kedutaan besar untuk memperkenalkan budaya, kuliner, dan tradisi khas negara-negara anggota ASEAN kepada komunitas diplomatik dan masyarakat internasional.

Melalui ALC, para anggota dapat mempererat hubungan antarpersonal di luar ranah diplomatik formal, memperluas pemahaman lintas budaya, sekaligus mempromosikan nilai-nilai kebersamaan dan harmoni antarnegara di kawasan Asia Tenggara.

“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah saling mengenal budaya, tetapi juga memperkuat jaringan perempuan diplomat ASEAN di Beijing,” ujar Elsiwi Oratmangun.

Upaya KBRI Beijing memperkenalkan jamu di forum internasional ini menjadi bagian dari strategi diplomasi budaya Indonesia yang semakin aktif di berbagai negara. Indonesia memandang budaya tradisional, termasuk kuliner dan pengobatan alami, sebagai kekuatan lunak (soft power) yang efektif untuk memperkuat citra bangsa di mata dunia.

Selain mempromosikan jamu, kegiatan ini juga mendukung pariwisata kesehatan Indonesia (wellness tourism) yang kini tengah dikembangkan sebagai sektor unggulan, sejalan dengan pengakuan UNESCO terhadap jamu sebagai warisan budaya takbenda dunia pada tahun 2023.

“Melalui jamu, dunia dapat melihat bagaimana masyarakat Indonesia menghargai alam, menjaga kesehatan dengan cara alami, dan melestarikan tradisi leluhur,” tutur Elsiwi menutup sambutannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *