Indonesia Manfaatkan Kesempatan Untuk Promosi Terpadu UKM di Georgia

0

Sejak beberapa tahun terakhir, Indonesia selalu mencatatkan surplus neraca perdagangan, yang pada tahun 2015 lalu mampu mencapai surplus US$40 juta atau sekitar Rp 528 Miliar. Komoditas utama yang diekspor Indonesia antara lain adalah minyak kelapa sawit, kopi, teh dan juga karet. Indonesia diharapkan bisa terus melakukan diversifikasi produk ekspornya di negara-negara pecahan Rusia seperti Armenia, Ukraina dan tentunya Georgia. Diversifikasi yang dilakukan terutama untuk produk penunjang pariwisata seperti furniture, confectionary, dan consumer goods lainnya. Sebaliknya, negara seperti Armenia, Ukraina dan khususnya Georgia yang kaya akan tradisi industri wine dan buah-buahan kering bisa memanfaatkan Indonesia untuk menembus pasar kawasan ASEAN. Terlebih pemerintah Georgia telah memberikan respon positif terkait wacana ini.

Pemerintah Georgia sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan Duta Besar RI untuk Georgia, Niniek K. Naryatie,  untuk lebih meningkatkan hubungan bilateral walaupun Kedutaan Besar tidak berkedudukan di Tbilisi tapi berkedudukan di Kyiv, Ukraina. Wakil Menteri Luar Negeri Georgia, David Jalagania, sependapat  bahwa penting bagi kedua negara untuk mendorong pelaku usaha bertemu sehingga terbuka peluang untuk melakukan perdagangan.

Salah satu langkah besar kerjasama pihak KBRI untuk Georgia yang berkedudukan di Ukraina dan pemerintah Georgia adalah saat berlangsungnya pameran Windows To Indonesia (WTI) pada 13-16 April 2016 juga berbarengan dengan penyelenggaraan Caucasus Tourism Fair (CTF) 2016 yang dibuka secara resmi oleh Menteri Ekonomi dan Pembangunan Berkesinambungan Georgia, Dimitry Kumsishvili di Expo Georgia, Tbilisi.

Pertumbuhan pariwisata Georgia dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 20% menjadikan Georgia sebagai pasar yang menarik bagi pemasaran produk pernak-pernik pendukung industri hospitality asal Indonesia. Handicraft, kerajinan, kopi dan teh berpeluang besar untuk ditingkatkan ekspornya ke negara tersebut. Selain itu, dengan diberikannya fasilitas bebas visa kepada warga negara Georgia menjadi peluang tersendiri bagi tour operator Indonesia dalam menjaring wisatawan asal Georgia dan negara-negara lain di kawasan.

“Bagi pelaku usaha Indonesia yang umumnya belum mengenal Georgia, WTI dianggap telah bermanfaat dalam memperluas jejaring dan peluang ekspansi usaha. Seminar bertajuk “Indonesia: Your Trading Partner” yang menjadi acara pembuka WTI 2016, telah membuka peluang perdagangan dan kiat-kiat untuk menembus pasar Indonesia,” seperti dikutip dari keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri RI, Sabtu, (16/4)

WTI yang berlangsung selama tiga hari adalah pameran terpadu yang diadakan setiap tahun oleh KBRI Kyiv untuk memperkenalkan produk ekspor andalan Indonesia, potensi wisata, dan peluang investasi kepada kalangan luas di negara diadakannya pameran ini. WTI pertama kali diadakan di Kyiv, Ukraina tahun 2013, kemudian di Yerevan, Armenia pada 2014, dan di Kyiv, Ukraina pada 2015. WTI 2016 turut diikuti oleh Kementerian Industri dan Kementerian Pariwisata serta 8 perusahan nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *