Ini Hasil Kongres ASTINDO 2017 di Balikpapan
Kongres ASTINDO adalah perhelatan setiap empat tahun sekali yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Nasional (DPN), yang pada tahun ini diselenggarakan di Platinum Balikpapan Hotel & Convention Hall, Balikpapan, Kalimantan Timur. Acara ini diselenggarakan bertemakan DIGITALISASI PARIWISATA, yang dibuka oleh perwakilan dari Kementerian Perhubungan dan juga dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Pariwisata, Walikota Balikpapan, dan juga para anggota dari tiap DPP ASTINDO.
Dalam sambutannya Ketua ASTINDO, Elly Hutabarat, menyampaikan bahwa pesatnya kemajuan tekhnologi sangat berdampak terhadap semua industri dan tidak terkecuali terhadap bisnis Travel Agent. Pesaing Travel Agent-pun sudah sangat beragam, mulai dari Travel Agent tanpa izin hingga Travel Arranger ataupun penjual tiket perorangan, bahkan airlines yang juga sudah menjual langsung kepada pelanggan melalui website-nya dengan harga yang lebih murah.

Namun bukan hanya itu saja, ternyata masih ada lagi yang lebih mengancam kelangsungngan bisnis, yaitu pemodal raksasa asing yang masuk kedalam bisnis Travel Agent di Indonesia, akan tetapi mereka tidak mencari keuntungan dari menjual komoditas produk Travel Agent, melainkan kearah jual beli perusahaan melalui peningkatkan nilai atau “valuation” dari perusahaanya. Kondisi ini sangat merubah paradigma, sekalipun mereka hadir dengan tampilan Online Travel Agent.
Elly juga memaparkan hasil kerja para pengurus dibawah kepemimpinannya dalam periode 2012 – 2016, diantaranya telah diupayakannya adanya proteksi jaminan keuangan Travel Agent dengan menggandeng pihak Asuransi Raya dan CIU Insurance; berhasilnya negosiasi dengan IATA untuk meniadakan persyaratan DIP dari United Insurance Services berupa Performance Bond senilai Rp 2 Milyar yang akan dikeluarkan oleh Mega Pratama, dengan premi sebesar Rp 100 juta untuk 2 tahun pertama dan menggantikannya dengan premi DIP sebesar 0,05 % yang jauh lebih ringan; berhasilnya negosiasi untuk memundurkan berlakunya Single BSP Calendar yang telah diwacanakan oleh para International Airlines, sejak tahun 2013; ASTINDO juga berhasil mengusung Net Remitance on Credit Card (NRCC), yang kelihatannya masih mendapat kendala. Akan tetapi Garuda Indonesia sebagai National Carrier sudah dapat menyetujui penerapan Credit card on Ticket (COT) yang juga hampir seperti NRCC. Dimana kedua hal terakhir tersebut adalah upaya ASTINDO untuk membela anggotanya dalam menjaga “cash flow”-nya.
Disamping paparan di atas, masih terdapat beberapa hasil kerja pengurus ASTINDO dalam periode kepemimpinan Elly Hutabarat, yaitu diciptakannya ASTINDO Hub sebagai konsolidator, yaitu menyatukan anggotanya dengan suatu fasilitas bersama, yang dapat menghasilkan bargaining power yang besar terhadap suatu principal atau maskapai dan ASTINDO Hub ini juga sebagai suatu system yang akan memberikan fasilitas kepada anggota ASTINDO untuk tetap dapat bersaing dengan adanya Online Travel Agent.
Elly juga menyampaikan mengenai adanya Penyesuaian Anggaran Dasar ASTINDO; Penambahan Dewan Pengurus Provinsi (DPP) ASTINDO yang baru, diantaranya adalah Nusa Tenggara Barat, Riau, Bengkulu, Kalimantan Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Utara; adanya Pengakuan dari instansi pemerintah dan lembaga lain, diantaranya Kementerian Pariwisata.
“Sekalipun ASTINDO bukan binaan Kementerian Pariwisata, akan tetapi program kerja dan kiprahnya dirasakan sangat membantu mendinamiskan Pariwisata Indonesia. Sehingga keberadaan ASTINDO dianggap menjadi bagian dari program kerja Kementerian Pariwisata. Oleh karena itu, ASTINDO selalu dilibatkan pada setiap program kerjanya” tambah Elly.
Selain Kementerian Pariwisata, pengakuan didapat dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bank Indonesia (BI) dan Direktorat Jendral Pajak Kadin Indonesia.
Hasil Kerja yang telah dicapai lainnya adalah sehubungan dengan Sumber Daya Manusia (SDM), yaitu dengan dibentuknya ASTINDO Training Center (ATC), Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dengan nama Air Transport Distribution Services & Agencies (ATDA), Sertifikat Kompetensi Profesi BPW.
“Hingga Kongres ini dilaksanakan, sertifikat kompetensi yang telah diterbitkan berjumlah 239 (dua ratus tiga puluh sembilan) yang terdiri dari 11 (sebelas) Okupansi Job title” tambah Elly.
Keberhasilan kegiatan lain yang juga merupakan hasil kerja ASTINDO periode ini adalah dengan diselenggarakannya ASTINDO Fair di tingkat Nasional dan di tingkat Propinsi, yaitu DPP Jatim dan DKI yang tidak lepas dari supervisi dan pantauan DPN.
“ASTINDO Fair sudah menjadi event calendar routine tahunan sejak tahun 2011, dan juga telah dijadikan kalendar agenda oleh para anggota dan para exhibitor khususnya National Tourisim Organization (NTO) dari beberapa negara. ASTINDO Fair yang akan datang adalah pelaksanaan yang ke 7 kalinya, yang akan diadakan pada tanggal 24 – 26 Maret 2017 di Jakarta Convention Center (JCC). dan akan mengambil tempat yang lebih luas lagi yaitu 9.000meter persegi yang terdiri dari Assembly dan Plenary Hall” papar Elly
Dari segi keuangan, Dewan Pengurus Nasional ASTINDO periode 2012 – 2016 cukup merasa bangga, karena telah dapat membantu membebaskan setoran 25 % dari iuran anggota yang diterima DPP, yang seharusnya disetorkan kepada DPN, seperti yang diatur dalam Anggaran Rumah Tangga, pasal 44 butir 3, membiayai tiket dan akomodasi para Ketua DPP atau yang mewakilinya, dalam menghadiri setiap acara ASTINDO Fair, Rakernas dan Kongres, yang seharus menjadi beban masing-masing, melaksanakan Corporate Social Responsibility (CSR) dengan membiayai finishing training melalui ASTINDO Training Center (ATC) kepada lulusan SMK Pariwisata yang ingin bekerja pada Travel Agent, membayar tunggakan pajak yang belum dibayarkan sejak tahun 2008, memberikan subsidi penyelenggaraan training kepada DPP-DPP yang mengajukan training bagi anggotanya, dan adanya Pembelian Kantor untuk Sekretariat DPN ASTINDO.
“Pembelian kantor untuk sekretariat dilakukan dengan maksud agar uang asosiasi dapat bermanfaat bagi kepentingan anggota, pengurus dimasa depan tidak dibebani lagi dengan biaya sewa kantor, kegiatan program kerja, seperti rapat-rapat dapat dijalankan tanpa harus menyewa tempat, biaya operasional asosiasi menjadi dapat ditekan, penyelenggaraan Training juga biayanya dapat ditekan, sehingga anggota tidak perlu membayar mahal untuk mengikuti paket training-nya, dan ini menjadikan nilai tambah ASTINDO memiliki gedung/kantor sendiri” tutup Elly dalam pemaparan hasil kerja DPN ASTINDO pada periode 2012 – 2016.
Selain pemaparan hasil kerja DPN ASTINDO, sesuai dengan tema Kongres tahun ini, ASTINDO mengundang pembicara dari perusahaan Alexia yang kompeten dalam bidang IT dan juga Zurich Insurance. Agenda yang tak kalah penting adalah Pemilihan Ketua Umum ASTINDO periode 2016 – 2020 yang akhirnya dimenangkan kembali oleh Elly Hutabarat dengan total suara 63 dari 91 suara yang memiliki hak pilih.
