Jumlah Titik Panas di Indonesia Akibat Kebakaran Hutan Terus Meningkat

0
Gumpalan asap mengepul dampak dari kebakaran hutan dan lahan di Kerumutan, Pelalawan, Riau,

Gumpalan asap mengepul dampak dari kebakaran hutan dan lahan di Kerumutan, Pelalawan, Riau, Kamis (20/3). Sampai saat ini pemerintah masih terus berupaya memadamkan titik-titik api di Riau, baik dengan cara pemadaman darat maupun udara. ANTARA FOTO/Taufan Razzak/ed/mes/14

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan pihaknya mendeteksi sebanyak 173 titik api (hotspot) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), pada Minggu, 30 Juli 2017.

Satelit mendeteksi adanya 173 hotspot pada 27 Juli 2017 u. Kemudian pada 28 Juli 2017  berjumlah 277 titik panas, Lalu 29 Juli 2017  menjadi 238 titik panas, dan pada 30 Juli 2017 ada 239 titik panas. “Dalam sepekan terakhir sebaran hotspot terbanyak terdapat di Kalimantan Barat, NTT, dan Aceh,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho Dalam seminggu terakhir sebaran hotspot terbanyak terdapat di Kalimantan Barat, NTT, dan Aceh. Demikian disampaikan Sutopo dalam siaran persnya.

 

Karhutla di Kalimantan Barat belum berhasil dipadamkan. Dalam empat hari terakhir kebakaran ini meluas di Kalimantan Barat. Satelit Terra, Aqua dan SNNP pada Minggu (30/7) pagi mendeteksi 126 hotspot di Kalimantan Barat, dimana 77 hotspot kategori sedang (tingkat kepercayaan 30-79%) dan 49 hotspot kategori tinggi (tingkat kepercayaan lebih dari 80%).

Sebaran hotspot di Kalimantan Barat adalah di Kabupaten Sintang 40, Kapuas Hulu 36, Sanggau 26, Landak 10. Malinau 3, Sekadau 3, Bengkayang 2, dan Melawi 2. Sebagian besar lahan yang terbakar adalah lahan gambut.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, sebanyak 126 titik api tersebut terpantau oleh Satelit Terra, Aqua, dan SNNP pada Catalog Modis (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) Lapan mendeteksi adanya peningkatan jumlah hotspot (titik panas) dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah Indonesia.

“Untuk hari ini terdeteksi sebanyak 239 titik api terbanyak di Kalbar, yakni sebanyak 126 titik api, kemudian NTT 42 titik api, Kalimantan Utara 35 titik api, Kalimantan Timur 10 titik api, Kalimantan Selatan lima titik api, Maluku empat titik api, Riau satu titik api, Kalimantan Tengah satu titik api, dan lain-lain,” ujarnya.

Menurut dia, kebakaran hutan dan lahan di Kalbar belum berhasil dipadamkan, malah dalam empat hari terakhir kebakaran hutan dan lahan itu meluas.

Sutopo menambahkan, upaya pemadaman terus dilakukan oleh Satgas terpadu pengendalian Karhutla. BNPB mengerahkan empat helikopter pembom air, yaitu jenis Bell 214B, MI-8, Kamov KA32, dan Bolcow 105. Satgas darat terdiri dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, MPA, Damkar dan masyarakat memadamkan di beberapa lokasi kebakaran itu.

“Kendala Satgas darat adalah luasnya wilayah yang harus dijaga, akses menuju lokasi kebakaran seringkali sulit medannya, terbatasnya sumber air dari lokasi kebakaran, keterbatasan alat, cuaca kering, dan tingkat kesadaran masyarakat untuk tidak membakar masih cukup rendah,” ujarnya.

Puncak kemarau diperkirakan berlangsung hingga September mendatang sehingga ancaman Karhutla dapat meningkat. “Perlu partisipasi semua pihak untuk menjaga lingkungan sekitarnya agar tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan,” kata Sutopo Diperkirakan titik panas akan bertambah jika tidak ditangangi secepatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *