CultureHeadline NewsPageants

Karantina Virtual Miss Chinese Indonesia 2021 Resmi Dimulai

Masa karantina pemilihan Miss Chinese Indonesia (MCI) 2021,  Jumat  (4/6/2021) resmi dimulai. Karantina yang digelar secara virtual ini, diawali dengan perkenalan dari  masing-masing  finalis. Tahun ini, kontes paling bergengsi di Indonesia itu diikuti 21 finalis dan mereka akan menjalani karantina hingga tanggal 23 Juni 2021.

Setelah perkenalan, dilanjutkan dengan pembekalan dari Founder Yayasan EL JOHN Indonesia Martinus Johnnie Sugiarto, sekaligus membuka karantina perdana ini. Pembekalan yang diberikan mengangkat tema “The Power of Chinese Culture” 

Dalam pembekalan ini, Martinus Johnnie Sugiarto menekankan  tiga unsur yang melekat pada budaya Tionghoa, yakni respect, loyal dan  smart 

Untuk respect, Martinus Johnnie Sugiarto menjelaskan, bahwa orang-orang Tionghoa sangat mengedepankan respect terhadap orang yang dituakan, baik itu orangtua, kakek dan neneknya atau leluhurnya serta pemimpin.

“Orang-orang Tionghoa kalau dia sukses dalam suatu kegiatan, dia berhasil sekolahnya lulus dari zaman nenek moyang kita itu pulang ke rumah, pertama dengan gembira, dia lapor ke orangtua, cerita kepada ibu, kepada bapak, kepada akong, kepada amah bahwa dia baru saja sukses mendapatkan sesuatu. Artinya respect ke orangtua diletakan  di tempat yang pertama,” kata CEO EL JOHN Media ini.

Tak hanya dalam kehidupan berkeluarga namun respect juga diaplikasikan orang-orang Tionghoa dalam kehidupan bernegara, contohnya saat Tiongkok dilanda Covid-19.

“Respect itu juga kita dapat  lihat sebagai contoh, bagaimana kemarin urusan Covid tahun lalu, hanya dengan satu perintah semua rakyat di Tiongkok mengikuti lockdown, semua tidak boleh keluar rumah. Satu kota ketika di lockdown tidak ada satu pun yang keluar. Nah itu respect kepada siapa, itu respect kepada atasan, respect kepada pimpinan,” terang Tokoh Pariwisata Nasional ini.

Kemudian  unsur yang kedua yakni Loyal, Martinus Johnnie Sugiarto mengatakan orang-orang Tionghoa memiliki loyalitas yang tinggi, baik dalam keluarga, pekerjaan maupun sebagai warga negara.  Loyal menjadi salah satu landasan seseorang untuk meraih kesuksesan. Jika seseorang tidak loyal maka yang didapat hanya  kesulitan dalam meniti karir.

“Loyal itu dibangun dari diri kita sendiri, itu tidak merupakan eksternal factor, itu adalah internal factor. Muncul dari diri kita, kita lah yang harus mengendalikan diri kita agar kita loyal, loyal kepada keluarga, loyal kepada komunitas kita, loyal kepada suku kita, loyal kepada negara. Nah hal-hal demikian jika kita tunjukan maka komunitas kita akan menjadi besar dan kita dapat diterima oleh komunitas dengan baik,” ungkap Martinus Johnnie Sugiarto.

Selanjutnya unsur yang terakhir yakni Smart Worker. Unsur ini sudah tertanam pada orang-orang Tionghoa. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya orang-orang Tionghoa yang sukses dalam berdagang.

“Jadi di dalam otak orang-orang Tionghoa itu selalu bagaimana cara berdagang dengan kreatif, bagaimana berdagang, bekerja dengan smart, dengan pintar. Yang dia cari apa ujung-ujungnya adalah provit. Dari provit itu dia membangun dirinya, dari profit itu dia bangun keluarga, dari profit itu dia punya uang untuk menyekolahkan anak-anaknya dan dari provit dia membangun masa depannya. Nah hal-hal seperti itulah yang terjadi  di dalam komunitas orang-orang Tionghoa,” tutur Martinus Johnnie Sugiarto.

 Pada kesempatan ini, Martinus Johnnie Sugiarto mengingatkan kepada finalis, bahwa peranakan Tionghoa di Indonesia merupakan warga negara Indonesia, hanya sukunya yang Tionghoa namun benderanya merah putih.  

“Kita adalah suku Tionghoa tetapi orang Indonesia. Jadi harus diingat semua peserta, semua finalis harus diingat, bahwa kita sukunya adalah suku Tionghoa tetapi kita Indonesia. Itu tidak bisa tawar menawar, jadi tidak ada yang berpikir nanti saya sudah besar di Indonesia, saya mau cari makan di negara lain, itu agak sulit ya,” kata Martinus Johnnie Sugiarto.

Selain mendapat pembekalan dari Founder Yayasan EL JOHN Indonesia di hari pertama karantina ini, para finalis juga mendapatkan finalis dari Putri Pariwisata Indonesia 2021 Jessy Silana Wongsodiharjo  dan Miss Chinese Indonesia Culinary 2020 Felicia Ariesandi.

Untuk Putri Pariwisata Indonesia 2021, materi yang dipaparkan mengambil tema “What is The Chinese-Indonesia Acculturation”, sedangkan Miss Chinese Indonesia Culinary 2020, materi yang disampaikan bertajuk “Daya Tarik Kuliner Chinese Dengan Memanfaatkan Konten Digital”.

Masa karantina akan berlangsung hingga tanggal 23 Juni 2021 mendatang. Selain mendapat pembekalan, para finalis akan mendapat tugas berupa pembuatan video campaign tentang akuturasi budaya Tionghoa dan dialog bersama influencer tentang pesona peranakan Tionghoa. Rencananya Grand Final akan diselenggarakan pada 17 Juli 2021 mendatang. 

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close