Kemenkes Sosialisasikan Wisata Kesehatan di Yogyakarta dan Solo
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah gencar menyosialisasikan wisata kesehatan dan herbal di wilayah Yogyakarta dan Solo. Kegiatan yang dilakukan sejak 25-27 November 2019 ini diikuti oleh jajaran Kemenkes serta beberapa dinas pariwisata, pelaku pariwisata dan awak media.
Dalam sosialisasi kali ini, Kemenkes mengunjungi beberapa tempat seperti, RSUP Dr Sardjito, Nurkadhatyan Spa Ambarukmo, Taman Sari Royal Hertage Spa, Merapi Farma Herbal, Candi Borobudur, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) dan Rumah Atsiri untuk mengetahui kesiapan dalam mengembangkan destinasi kesehatan.
Kasubbid Analisis Sosial Ekonomi, Munir Wahyudi mengatakan, Sejak di tetapkannya wisata kesehatan oleh Kemenparekraf dan Kemenkes pada 19 November 2019 lalu, wisata kesehatan ini didorong agar dapat mendatangkan wisatawan asing untuk datang ke Indonesia. Karenanya tindak lanjut dari pertemuan ini adalah untuk mendapatkan informasi dan beberapa masukan kepada destinasi yang telah tercantum di dalam jalur wisata Kemenkes dan Kemenparekraf.
“Sosialisasi determinan kesehatan dalam rangka tindak lanjut peluncuran katalog wisata kesehatan dan skenario perjalanan wisata kebugaran adalah untuk mendapatkan informasi dan output dari kesiapan destinasi. Sesuai arahan dari pimpinan, ini adalah awal dari pengembangan wisata kesehatan yang dimulai dari wisata kesehatan dan kebugaran,” ujar Munir.
Ia menambahkan, kedepannya akan dikembangkan wisata medis, wisata olahraga dan wisata scientific (ilmiah). “Semoga kedepannya kita dapat berkolaborasi antar Kementerian dan Pemerintah Daerah untuk pengembangan wisata kesehatan,” tandasnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Analisis Lingkungan Strategis Pusat Analisis Determinan Kemenkes, Mukti Rahardian menjelaskan, sosialisasi tentang determinan kesehatan yang dilakukan pada 3 hari di Jogja dan Solo merupakan tindak lanjut dari prosesi peluncuran katalog wisata kesehatan untuk chapter wellness and herbal health tourism yang telah di launching oleh Menteri Kesehatan dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Untuk kedepan kami mengharapkan kolaborasi dari seluruh lintas sektor yang merupakan bagian dari tugas-tugas pengembangan wisata kesehatan untuk dapat menciptakan model-model pembangunan di bidang wisata kesehatan yang mampu mendatangkan devisa bagi Indonesia,” kata Mukti.
Menurut Mukti, peluncuran tersebut merupakan tonggak bagi pelaksanaan atau implementasi dari paket wisata wellness and herbal di tiga destinasi yaitu, Joglosemar, Bali dan Jakarta. Pemerintah dalam hal ini Kemenkes dan Kemenparekraf sebagai regulator menciptakan sebuah model pembangunan wisata kesehatan yang terdiri dari 4 chapter yaitu, medical tourism, wellness dan herbal tourism, scientific health tourism, dan sport health tourism.
“Semoga kedepannya ini dapat ditangkap oleh seluruh stakeholder, dalam hal ini sektor bisnis seperti, travel, biro, wisata kesehatan, yang berkolaborasi dengan para akademisi profesional, dokter, rumah sakit, tempat-tempat destinasi wisata lainnya yang melibatkan juga media untuk menyebarluaskan wisata ini. Melibatkan juga kolaborasi dari masyarakat madani dan juga sektor bisnis untuk bisa memulai implementasi dari wisata kesehatan ini, menjual paket-paket ini kepada seluruh travel biro yang ada di Indonesia untuk melaksanakan paket-paket itu dan dipasarkan di luar negeri Maupun untuk wisatawan domestik,” ungkapnya.
Selanjutnya, kolaborasi yang paling penting untuk menciptakan iklim bagi tumbuhnya pariwisata kesehatan di Indonesia sesuai dengan paket-paket yang sudah diciptakan oleh Kemenparekraf dan Kemenkes bersama seluruh stakeholder.
Turut serta dalam kegiatan ini adalah Kepala Pusat Analisis Determinan Kesehatan, Kepala Bidang Analisis Lingkungan Strategis Pusat Analisis Determinan Kemenkes, Kasubbid Analisis Sosial Ekonomi, Kepala Biro Komunikasi Publik dan Pelayanan Masyarakat, Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten Yogyakarta, Dinas Pariwisata Provinsi dan Kabupaten Yogyakarta, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT), serta DPP ASITA Yogyakarta.
