Kemenpar Dorong Agen Perjalanan Ciptakan Paket 10 Destinasi Bali Baru

0
images-2

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tahun ini  gencar mengkedepankan konsep “selling” untuk mempercepat tingkat konektivitas bagi wisatawan mancanegara (wisman) untuk mengunjungi 10 destinasi Bali Baru. Konsep “branding” dan “advertising” sudah dilakukan kementerian yang digawangi Arief Yahya ini pada dua tahun lalu.

Untuk mengoptimalkan konsep selling itu Kemenpar mendorong agen perjalanan untuk membuat paket wisata 10 destinasi prioritas atau yang dikenal dengan Bali Baru.

Selain konsep selling ada alasan lain kenapa kemenpar harus mendorong agen perjalanan menciptakan pake 10 destinasi Bali Baru. Alasan lain itu yakni ada pembagian pesawat yang mendarat di bandara lain diluar bandara Soekarno Hatta dan bandara Ngurah Rai Bali. Cara ini diyakinkan dapat efisien dalam pengelolahan bandara sehingga jam operasional bandara di 10 destinasi tersebut dapat melayani 24 jam.

“Persoalan konektivitas transportasi udara untuk menjangkau destinasi pariwisata sangat urgen, karena sebagian besar wisman yang datang ke Indonesia memanfaatkan pesawat terbang,” ujar Ketua Tim Percepatan 10 Destinasi Prioritas Kemenpar, Hiramsyah Sambudy Thaib di Jakarta.

Terkait hal ini Kemenpar telah menentukan sejumlah bandara yang diarahkan sebagai hub internasional selain Bali dan Jakarta. Di antaranya Bandara Adi Sumarmo (Solo), Bandara Kualanamu (Medan), dan Bandara Internasional Lombok (Lombok). “Ini peluang besar untuk maskapai dan agen perjalanan. Penawaran paket tur jadi bisa dibalik. Misal yang semula dua hari di Bali dan satu hari di Lombok, menjadi 1 hari di Lombok dan 2 hari di Bali. Dengan begitu, konsentrasi tidak akan terpusat di Bali,” kata dia.

Khusus untuk destinasi 10 Bali Baru, sejumlah bandara baru tengah dikembangkan agar dapat menampung pesawat dengan kapasitas yang besar misalnya di Bandara Silangit (Sumatra Utara) atau Bandara Leo Wattimena (Maluku Utara). Dia memperinci, penyelesaian penambahan kapasitas runaway Bandara Silangit ditargetkan rampung September 2017, sedangkan peningkatan kapasitas di terminalnya bakal selesai pada April tahun ini.

Sebaliknya, saat ini Bandar Udara Leo Wattimena hanya mampu didarati oleh pesawat dengan kelas ATR 72, sedangkan untuk menggenjot jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Morotai dibutuhkan pesawat sekelas Boeing 737. Kementerian Perhubungan menargetkan penyelesaian pembangunan landasan pacu Juni tahun depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *