Kemenpar Gunakan Carrying Capacity Dalam Kelola Destinasi

0
FB_IMG_1556252021411

Pariwisata berkelanjutan terus dikembangkan dan diterapkan di berbagai destinasi. Kemenpar gencar mensosialisasikan konsep pariwisata ini.

Kementerian Pariwisata pun menggelar acara bimtek Pengelolaan Destinasi Melalui Carrying Capacity dalam rangka Visitor Management melalui Asisten Deputi Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Pariwisata bertempat di Sylvia Resort Komodo, Labuan Bajo (25/4/2019).

Kasubbidang Kemitraan dan Integrasi Ekosistem Pariwisata, Ibu Anastasia Manuella memberikan laporan pada acara Pengelolaan Destinasi Melalui Carrying Capacity dalam rangka Visitor Management.

Beliau menyampaikan Carrying capacity atau daya dukung sangat lah penting karena Labuan Bajo merupakan salah satu kawasan yang masuk dalam 10 destinasi prioritas bahkan sudah masuk dalam salah satu dari 4 destinasi pariwisata super prioritas

Ibu Anastasia juga menyampaikan pada tahun 2017 telah disusun Kajian Akademik Carrying Capacity Destinasi di 5 destinasi (Toba, Lombok, Bunaken, Labuan Bajo dan Raja Ampat), untuk destinasi di Labuan Bajo, lokasi kajian yaitu Gua Batu Cermin dan Loh Buaya di Pulau Rinca

“Tujuan kajian ini adalah untuk memperhitungkan daya tampung dan daya dukung destinasi yang dinilai berpotensi mengalami kepadatan pengunjung, sehingga dapat ditentukan strategi pengelolaan yang memberikan pengalaman berwisata yang bermakna bagi pengunjung dan berdampak positif bagi masyarakat di destinasi,” ujar beliau.

Acara ini juga dibuka oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat, Bapak Agustinus Rinus, beliau sangat berterimakasih atas seluruh kegiatan ini dan berharap perkembangan pariwisata lebih meningkat lagi dari segi wisatawan dan pelestarian lingkungan yang ada di Labuan Bajo.

Pada acara ini juga menghadirkan narasumber dari Universitas Gadjah Mada selaku Tim Penyusun Kajian. “Upaya pengembangan tidak bersifat maksimalisasi, karena hanya akan mengarah pada pemanfaatan destinasi yang menghabiskan sumber daya. Namun, meskipun minim, perlu disiapkan pola pengembangan yang bersifat optimalisasi sumber daya yang ada,” imbuh Prof. Janianton Damanik mengakhiri paparannya. (Sumber Kemenpar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *