Kemenpar Optimis Dengan Penetapan Jember Sebagai Kota Carnaval

0
Sejumlah peserta anak - anak mengikuti Jember Fashion Carnaval (JFC) Kids di Jember, Jawa Timur, Kamis (27/8).

Sejumlah peserta anak - anak mengikuti Jember Fashion Carnaval (JFC) Kids di Jember, Jawa Timur, Kamis (27/8). JFC Kids ke-14 tersebut diikuti 440 peserta dengan sepuluh defile, yaitu Majapahit, Ikebana, Fossil, Parrot, Circle, Pegasus, Lion Fish, Egypt, Melanesia dan Reog. ANTARA FOTO/Seno/ama/15.

Kekreatifan Kota Jember dalam hal Karnaval sudah menjadi perhatian baik lokal maupun mancanegara. Sejak tahun 2000an dibuatnya event karnaval yang sampai saat ini menjadi event unggulan di Indonesia yaitu Jember Fashion Carnaval (JFC) mengundang rasa penasaran serta sangat ditunggu bagi wisatawan-wisatawan.

Untuk tahun ini akan diselenggarakan JFC 2017 pada tanggal 9-13 Agustus 2017 mendatang, ini semakin menyemarakkan calender of events (COE) Indonesia. Untuk itu Kementerian Pariwisata akan menetapkan Jember sebagai Kota Karnaval.

“Sudah 16 tahun JFC 2017 menginspirasi banyak karnaval di Tanah Air,” ujar Menteri Arief Yahya dikutip laman Facebook Kementerian Pariwisata Kamis 8 Juni 2017.

Menindak lanjutinya, Arief akan segera mengeluarkan Surat Keputusan pengangkatan “Jember Go International”. Untuk kreativitas dari JFC jika dilihat dari cultural value sudah layak dijadikan magnit untuk mendatangkan wisatawan mancanegara.

“Semua orang mengakui, Jember Fashion Carnaval itu berkelas dunia!” aku Arief Yahya.

“Hanya saja, commercial value-nya atau financial value-nya masih belum terlalu menarik. Belum bisa dikapitalisasi dengan baik. Dengan menaikkan status, menjadi event dunia, berstandar internasional, ini akan mengangkat JFC dan Kota Jember itu sendiri,” jelas dia.

Menteri Arief menyebutkan untuk mendorong kemajuan tersebut, harus mendorong “Indonesia Incorporated. Apalagi jika ingin memiliki daya saing di level global makanya dengan mendorong kota Jember menjadi kota Karnaval adalah hal penting.

”Bangsa ini harus bersatu, mensinergikan seluruh kekuatan, memperkuat semua lini. Begitupun di Jember Fashion Carnaval. Jika ingin bersaing di level global harus menyatukan langkah menuju satu cita-cita. Karenanya Kota Jember harus diset menjadi Kota Karnaval,” imbuhnya.

Nantinya ketika mengemas acara yang digelar akan memiliki standar dunia dan tidak dipersulit oleh birokrasi yang sempit. Ini merupakan langkah utama untuk mempromosikan JFC ke seluruh dunia.

 

“Kreasi kostum karnaval Indonesia memang bagus-bagus. Dari Jember Carnaval, Banyuwangi Ethno Carnaval, Malang Carnival, Batik Solo Carnaval, nama-namanya sudah mendunia. Jadi persiapannya harus sungguh-sungguh,” jelas Arief.

Berdasarkan pemetaan Arief bahwa daya tarik industri pariwisata Indonesia bersumber pada 60% budaya, 35% alam, dan 5% meetings, incentives, conferences, and exhibitions (MICE). Dengan adanya festival ini, akan jadi kebangkitan MICE di Jember.

“Jika dihubungkan dengan airlines, Jember sudah sukses menjadi bandara perantara. Jumlah hotel baru sudah ada sekitar 35 unit. Selanjutnya, Jember perlu mengembangkan destinasi-destinasi lainnya karena dunia sudah mengenal JFC. Agustus selalu ramai sekali, lalu kembali sepi sehingga JFC perlu menyiasati untuk menjual paket-paket wisata lainnya,” papar Arief.

Presiden JFC yaitu Dynand Fariz sangat mengapresiasi usulan dari Menpar Arief Yahya terkait menjadikan Kota Jember menjadi Kota Karnaval. Menurut Dynand dengan melekatnya nama Kota Karnaval akan menjadikan Kota Jember semakin kreatif dan lebih bersemangat untuk bersaing di skala internasional.

“Karenanya perhelatan berskala international yang memasuki tahun ke-16 ini mengusung tema ‘Victory’ yang artinya kemenangan. Alasan diangkatnya tema ini tidak lain karena di umur 16 tahun, telah menorehkan banyak kemenangan di tingkat dunia,” ujar Dynand.

Dynand menjelaskan setiap event JFC selalu mengundang perhatian wisatawan mancanegara. Selain itu wajah ceria para kontestan juga menjadi target wartawan mancanegara. Jumlah media, fotografer, dan pecinta hobi fotografi yang mendaftar untuk melakukan peliputan JFC tahun ini bahkan sudah mencapai ratusan. Pada JFC tahun 2015 sebanyak 3.711 fotografer baik domestik maupun mancanegara. Meningkat dari tahun 2014 sebanyak 3.073 media dan fotografer dalam dan luar negeri.

“JFC selalu bisa menarik banyak media untuk meliput, termasuk media asing yang sangat banyak. Yang pasti atmosfer festival ini tak kalah dengan Rio Carnival, Rio de Janeiro, Brazil dan Oktoberfest di Munchen, Jerman,” tutur Dynand.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *