Kementan, Bentuk SP3T Dorong Petani Ke Industri Pangan
Kementerian Pertanian (Kementan) telah membentuk Sentra Pelayanan Pertanian Terpadu (SP3T) sebagai sarana yang menampung dan memasarkan hasil panen petani. Dengan demikian, SP3T ini merupakan upaya Kementan dalam penanganan pascapanen yang lebih baik.
Seperti haknya di Ciamis, Kerjasama antara SP3T Sukasari Kabupaten Ciamis dengan pihak Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) terjalin baik. Hasilnya, pada saat harga gabah di pasaran melampaui Harga Pembelian Pemerintah (HPP) serta gudang Perum Bulog tak mampu menampung lantaran penuh, pihak SP3T Sukasari Ciamis bisa segera memasok sebanyak 210 ton beras bantuan pangan non tunai (BPNT) kepada pihak Kementerian Sosial melalui Perum Bulog.
“Karena ini kan masih tergolong baru dan masih pengembangan, namun biarlah konsentrasi dulu untuk pemanfaatan alat yang sudah ada semaksimal mungkin,” ujarnya.
Menurut Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Budiawan, ada kewajiban SP3T Darma Usaha Sukasari Ciamis untuk mengumpulkan gabah sebagai cadangan nasional. Khusus untuk kebutuhan BPNT saat ini kembali dipegang oleh pihak Perum Bulog setelah sebelumnya bisa semua pihak yang langsung memasok ke Kementerian Sosial. Kalau untuk memenuhi kebutuhan Bulog masih yang standar premium dengan harga Rp 8.800 per kilogram (kg).
“Pada 2018 para petani di Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis mendapat bantuan fasilitas alsintan berupa alat pemisah warna beras (color sorter, red). Sebab, beras premium terlihat putih mulus tidak ada campuran warna lain, seperti kuning apalagi warna hitam,” ujarnya di Ciamis
Melalui mesin tersebut permintaan pasar atau konsumen bisa dilayani. Beras yang dibutuhkan bisa dipoles karena alat untuk itu sudah tersedia di SP3T Darma Usaha yang dikelola oleh Kelompok Tani Darma Usaha.
“Para petani yang tergabung di Gabungan Kelompok Tani Darma Usaha telah bisa melayani permintaan beras seperti apa saja karena alat sudah tersedia dari Kementan,” beber Budiawan.
“Karena ini kan masih tergolong baru dan masih pengembangan, namun biarlah konsentrasi dulu untuk pemanfaatan alat yang sudah ada semaksimal mungkin,” ujarnya.
