Kemkomdigi Targetkan Industri Gim Lokal Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia
Pemerintah semakin serius dalam menjadikan industri gim lokal sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional. Melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), negara bersiap untuk menggarap potensi besar sektor gim, yang dinilai mampu menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus memperkuat kedaulatan digital Indonesia.
Dalam audiensi bersama Asosiasi Game Indonesia (AGI) yang berlangsung di kantor Kemkomdigi, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan komitmennya untuk mengakselerasi pertumbuhan industri kreatif digital, termasuk gim, sebagai bagian dari strategi mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen.
“Industri gim berkembang sangat cepat dan potensinya luar biasa besar. Kami ingin memastikan sektor ini mendapatkan dukungan penuh agar bisa menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi digital Indonesia,” kata Meutya.
Berbeda dari pendekatan top-down pada masa lalu, Meutya menyampaikan bahwa pemerintah kini berkomitmen mendengarkan langsung aspirasi pelaku industri. Ia menyadari bahwa pertumbuhan industri kreatif tak bisa digerakkan dengan kebijakan yang tidak kontekstual.
“Kita ingin kebijakan yang hidup, yang dirancang berdasarkan dialog, bukan asumsi,” tegasnya.
Meutya menyebut pelaku industri gim lokal sebagai mitra strategis dalam upaya memajukan ekosistem digital nasional secara berkelanjutan.
Sebagai langkah nyata, Kemkomdigi melalui Dirjen Ekosistem Digital Edwin Hidayat Abdullah mengumumkan akan mendirikan Innovation Hub di tiga kota besar: Jakarta, Medan, dan Surabaya. Fasilitas ini akan berfungsi sebagai pusat inkubasi, pengembangan talenta, dan pendampingan teknis bagi startup pengembang gim lokal.
“Kami ingin lebih banyak studio gim lokal bermunculan dan bertahan. Innovation Hub ini akan jadi tempat bertumbuhnya ide-ide dan talenta baru,” ujar Edwin.
Selain itu, Indonesia Game Developer Exchange (IGDX) 2025 yang akan digelar pada 9–11 Oktober di Bali, disiapkan sebagai ajang puncak konsolidasi dan showcase industri gim nasional, dengan dukungan dari pemain global seperti Sony dan Steam.
Ketua Umum AGI, Shafiq Husein, memaparkan bahwa meski pasar gim Indonesia bernilai sekitar Rp30 triliun, hanya 2,5 persen atau sekitar Rp750 miliar yang bisa dinikmati oleh pengembang lokal. Ia menyebut salah satu hambatan utama adalah minimnya akses ke pendanaan awal (early stage funding) dan keterbatasan kapasitas produksi.
“Indonesia adalah pasar terbesar di Asia Tenggara, tapi sebagian besar nilai itu justru dinikmati oleh produk asing. Kita perlu melindungi pasar kita sendiri,” ujar Shafiq.
Shafiq juga menggarisbawahi pentingnya IGDX 2025 sebagai momentum unjuk gigi industri gim Indonesia di kancah global. Tahun ini, ajang tersebut akan dihadiri langsung oleh Sony PlayStation dan Steam, dua raksasa industri gim dunia yang sebelumnya belum pernah datang ke Indonesia.
Menutup audiensi, Menteri Meutya Hafid menginstruksikan timnya untuk segera memetakan bentuk kolaborasi konkret yang dapat diimplementasikan dalam waktu dekat, termasuk insentif fiskal, dukungan hukum, dan regulasi perlindungan pasar lokal.
“Kita tidak bisa hanya bicara soal potensi. Sekarang waktunya bertindak. Kita sisir dulu bentuk kolaborasinya dan minggu depan saya ingin sudah ada peta jalan bantuan dari sisi pemerintah,” tegas Meutya.
