Keraton Kasepuhan Cirebon Hadirkan Museum Cave AI

0
IMG-20241028-WA0013

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Center of Excellence Smart Tourism and Hospitality, PT Grhayasa Nusacitra Estima, dan PT Curaweda Palagan Innotech (Curaweda) meresmikan Museum CAVE AI LOTUS (Artificial Intelligence Lorong Waktu Sejarah) di Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (26/10/2024).

Museum Cave, atau CAVE Automatic Virtual Environment, adalah sebuah atraksi wisata edukasi yang memanfaatkan teknologi proyeksi cahaya untuk menyajikan konten sejarah dan budaya yang kaya. Dengan menggunakan teknologi Generative AI, semua elemen dalam museum ini—mulai dari gambar, gerakan, hingga suara—diciptakan oleh tim kreatif yang terdiri dari para pengembang lokal, memberikan nuansa otentik dan kekinian pada pengalaman belajar.

Salah satu sorotan utama dari museum ini adalah video berdurasi empat menit yang di produksi oleh tim LOTUS. Video ini mengisahkan perjuangan Sultan Matangaji, pahlawan dari Cirebon yang dikenal karena perlawanan heroiknya terhadap penjajahan Belanda pada tahun 1770-an.

Dengan menggunakan teknik AI, cerita ini “dihidupkan” kembali, memberikan gambaran yang lebih mendalam tentang konteks sejarah dan semangat perjuangan masyarakat Cirebon di masa lalu.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf Hariyanto menjelaskan, museum AI ini merupakan wujud konkret pengembangan atraksi untuk memastikan para pengunjung merasakan pengalaman dan sensasi yang berbeda.

Dengan adanya teknologi AI ini, pengunjung dapat belajar tentang sejarah Cirebon dengan visualisasi yang menarik dan mudah dimengerti.

“Kita boleh bersyukur dan berbangga Indonesia khususnya Cirebon memiliki potensi wisata budaya yang kuat, termasuk wisata alamnya. Itulah kekuatan pariwisata Indonesia, culture and nature, tetapi tidak boleh berhenti di sana karena kompetitor kita sudah bergerak cepat dengan memanfaatkan teknologi informasi. Itulah karakteristik era modern, di mana perkembangan teknologi informasi termasuk perkembangan sosial budaya yang sangat cepat,” ucap Hariyanto.

“Di Museum Cave AI ini kita berbangga, Cirebon menginisiasi dengan dukungan para pihak khususnya Telkom University. Ini adalah milestone. Kita berharap ini terus dikembangkan,” tambahnya.

Hariyanto bersama pihaknya mendorong penuh penerapan AI di daerah-daerah lain yang ada di Indonesia, khususnya keraton-keraton lain di bawah Keraton Kasepuhan Cirebon dan FSKN.

“Tantangannya adalah bagaimana proyek dan program ini terus dikembangkan, dan Cirebon adalah yang menjadi pilot projek di sini,” kata Hariyanto.

Patih Anom Keraton Kasepuhan Pangeran Raja Muhammad Nusantara mengaku senang dengan kehadiran Museum Cave AI yang memiliki dampak positif untuk edukasi sejarah kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

“Harapannya dengan terciptanya Museum Cave AI di Keraton Kasepuhan ini, untuk yang pertama kalinya bisa menjadi manfaat secara edukasi sejarahnya dan juga bermanfaat nantinya untuk diterapkan di keraton-keraton lain didukung oleh Ketua Umum FSKN langsung. Semoga ini bisa terlaksana dan bisa mendapat dukungan dari segala pihak untuk kita laksanakan lebih luas dan lebih bagus lain, lalu kita kembangkan kembali,” ujar Pangeran Raja Muhammad Nusantara.

Ketua Umum Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) Brigjen Pol (P) Dr. A.A. Mapparessa, M.M., M.Si mengungkapkan, FSKN mengapresiasi adanya Museum Cave AI.

“Ini merupakan satu pilot proyek kita untuk bagaimana supaya direplikasi oleh keraton-keraton yang lain karena pemahaman sejarah bagi anak-anak kita sangat perlu. Kecepatan informasi juga sangat perlu. Jadi akurasi, informasi, alatnya canggih, sampai kepada pemirsa, ini luar biasa dampaknya nanti. Kita berharap Cirebon sebagai mercusuarnya Nusantara untuk penyebaran informasi,” kata Mapparessa.

Hal senada juga diungkapkan oleh Wakil Rektor Telkom University Dr. Ir. Rina Pudji Astuti, M.T. Ia berharap, Musem Cave AI ini bisa dikembangkan di tempat lain, sehingga masyarakat dapat mengenal lebih dalam mengenai sejarah Indonesia.

“Ini adalah sejalan dengan visi misi Telkom University memberikan kontribusi untuk nasional dan dunia. Mudah-mudahan tidak sampai di sini kolaborasinya, tapi mungkin dengan yang lain-lain,” pungkas Rina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *