Keunikan Adat & Budaya Minang Yang Bikin Kagum
Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu daerah di Indonesia yang masih memegang teguh adat dan budaya dalam kehidupan bermasyarakat adalah Tanah Minangkabau.
Dikenal dengan sebutan bumi ‘Sitti Nurbaya‘, provinsi Sumatera Barat ini memang sangat erat menjaga kelestarian adat dan budaya daerah mereka hingga dalam menjalankan aktifitas sehari-hari.
Adat dan budaya ini tidak hanya dipegang teguh oleh masyarakat yang tinggal di Tanah Minangkabau saja, namun orang-orang yang memiliki darah keturunan Minangkabau dan tinggal di perantauan pun tidak sedikit yang masih berpegang teguh pada aturan serta tata cara hidup bermasyarakat yang sesuai dengan adat istiadat yang sudah diterapkan oleh anduang puyang atau nenek moyang mereka.
Berikut kami sajikan beberapa adat dan budaya Minangkabau yang hingga saat ini masih terjaga kelestariannya.
Batagak Kudo-kudo
Tradisi unik Minangkabau yang pertama adalah adanya upacara bernama Batagak Kudo-Kudo. Upacara ini merupakan salah satu rangkaian panjang dari tradisi masyarakat Minangkabau dalam membangun rumah. Batagak Kudo-kudo itu sendiri berarti Menegakkan Kuda-kuda yang dilakukan ketika sebuah rumah baru akan dipasangkan kuda-kuda.
Upacara ini biasanya dilakukan dengan mengundang orang-orang dalam satu kampung, atau kerabat dekat yang tinggal berbeda kampung untuk datang dan dengan suka rela membantu Menegakkan Kuda-kuda rumah.
Masyarakat yang datang dan ikut membantu, nantinya akan dijamu dengan makan-makan seperti layaknya upacara ‘baralek’. Kaum bapak akan bersama-sama membantu dalam Menegakkan Kuda-kuda, sementara kaum ibu bertugas di bagian dapur, untuk memasak makanan yang akan dimakan bersama setelah selesai Menegakkan Kuda-kuda.
Dalam upacara ini, para tamu yang datang biasanya akan membawakan sebentuk hadiah atau kado kepada tuan rumah yang menggelar acara Batagak Kudo-kudo. Jenis kado atau hadiah yang dibawa menyesuaikan dengan kebutuhan tuan rumah yaitu material-material untuk membangun rumah. Ada yang memberikan semen, seng, besi, dan material lainnya.
Adat dan budaya seperti ini bertujuan menumbuhkan sifat saling membantu dan gotong royong untuk kebaikan sesama, dan hal seperti ini akan dilakukan saling bergiliran kepada setiap masyarakat kampung yang akan membangun rumah.
Batagak Pangulu
Sebagaimana kita ketahui bahwa masyarakat Minangkabau hidup dalam budaya bersuku dan berkaum. Setiap suku memiliki seorang penghulu suku atau Datuk atau bisa juga disebut dengan orang yang paling dihormati dan paling berpengaruh dalam mengambil keputusan adat dalam menyelesaikan permasalahan keluarga.
Upacara Batagak Pangulu itu sendiri merupakan sebuah upacara adat yang dilakukan untuk mengangkat pimpinan suku atau kaumnya.
Upacara ini merupakan sebuah upacara adat yang sangat besar, karena dalam pelaksanaannya biasanya masyarakat akan melakukan potong kerbau dan acara pesta akan digelar 3 hari hingga satu minggu berturut-turut.
Upacara Turun Mandi
Upacara Turun Mandi merupakan salah satu upacara tradisional masyarakat Minangkabau yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas lahirnya seorang anak ke dunia, sekaligus memperkenalkan sang bayi kepada masyarakat.
Sebelum diadakannya Upacara Turun Mandi ini, biasanya si bayi belum boleh dibawa main keluar rumah. Namun para tetangga tetap bisa melihat si bayi tersebut dengan mendatangi langsung ke rumahnya.

Upacara Turun Mandi ini digelar di sungai (batang aia), dengan prosesi arak-arakan oleh masyarakat setempat. Upacara ini sendiri hanya bisa dilaksanakan di Batang Aia atau Sungai.
Untuk usia anak yang sudah dibolehkan dibawa turun mandi, tidak terlalu terikat dengan hitungan hari, minggu atau bulan. Biasanya acara ini digelar ketika anak sudah berumur 2 minggu – 2 bulan. Namun bisa juga lebih cepat.
Balimau
Istilah ini mungkin tidak terlalu asing bagi kita, terlebih bagi orang-orang yang tinggal di Sumatera, karena tradisi Balimau ini sudah dipakai oleh banyak daerah dalam acara-acara tertentu.
Di Bumi Minangkabau, tradisi Balimau ini biasanya dilakukan menjelang datangnya Bulan Ramadhan. Sehari sebelum masuk bulan puasa, semua masyarakat tanpa terkecuali, akan beramai-ramai turun ke sungai untuk melakukan upacara mandi Balimau dengan tujuan membersihkan diri dalam rangka menyambut datangnya bulan suci.
Selain membersihkan diri dengan cara mandi, tradisi ini juga bertujuan untuk saling bermaaf-maafan kepada sesama agar batin dan hati selalu bersih dalam menjalankan ibadah puasa nantinya dan begitu untuk seterusnya.
Tabuik
Pernah dengar Pesta Tabuik? Perayaan Tabuik sebenarnya merupakan tradisi masyarakat Pariaman, sebuah daerah di provinsi Sumatera Barat. Perayaan ini dilakukan untuk memperingati meninggalnya cucu Nabi Muhammad saw, yaitu Hasan dan Husein. Prosesi upacara ini biasanya berlangsung selama satu minggu dengan perayaan puncak yang dinamakan Hoyak Tabuik, yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram setiap tahunnya.
Pada puncak perayaan Tabuik ini biasanya masyarakat dari seluruh penjuru Sumatera Barat akan memenuhi Kota Pariaman untuk ikut menyaksikan Hoyak Tabuik.
Tidak hanya masyarakat dari Sumatera Barat saja, namun mereka yang menyaksikan prosesi Pesta Tabuik bahkan juga datang dari luar negeri. Event tahunan Kota Pariaman ini memang selalu dinanti setiap tahunnya.
Makan Bajamba
Tradisi Makan Bajamba ini diperkirakan masuk ke daerah Sumatera Barat seiring dengan masuknya Islam ke Tanah Minangkabau pada abad ke-7. Maka tidak heran banyak adab dalam Makan Bajamba yang sesuai dengan syariat Islam.
Makan Bajamba yang juga sering disebut Makan Barapak ini, adalah sebuah tradisi yang sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat Minangkabau. Prosesi Makan Bajamba adalah acara makan bersama di sebuah tempat yang luas, bisa juga di dalam Masjid, dan biasanya dilakukan pada hari besar Islam, upacara adat atau acara-acara penting lainnya.
Pacu Jawi
Jika di daerah Madura ada yang dinamakan Karapan Sapi, maka di Sumatera Barat ada juga tradisi unik yang dilakukan yaitu Pacu Jawi. Pacu Jawi merupakan tradisi unik yang berasal dari masyarakat Tanah Datar khususnya masyarakat di kecamatan Sungai Tarab, Rambatan, Limo Kaum, dan Pariangan. Selain itu Pacu Jawi juga dilaksanakan di wilayah Kabupaten Limapuluh Kota dan Payakumbuh.
Sekilas, Pacu Jawi memang mirip dengan Karapan Sapi di Madura, namun yang membedakan keduanya adalah lahan yang digunakan. Jika Karapan Sapi menggunakan sawah yang kering, maka Pacu Jawi di Minangkabau menggunakan sawah yang basah dan berlumpur.
Selain itu untuk mempercepat lari sapi, joki Pacu Jawi tidak menggunakan tongkat seperti Karapan Sapi, mereka biasanya menggigit ekor sapi. Unik bukan?
9 Pacu Itiak
Pacu Itiak atau Balapan Itik, merupakan salah satu tradisi unik yang berasal dari daerah Payakumbuh dan Limapuluh Kota. Event Pacu Itiak ini biasanya dilaksanakan di 11 tempat berbeda di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota.
Aturan perlombaan Pacu Itiak ini adalah dengan melemparkan Itiak sehingga Itiak pun terbang menuju garis finish. Itiak yang paling cepat mencapai garis finish tentu akan dinyatakan sebagai pemenang. Adapun jarak tempuh satu lintasan Pacu Itiak ini biasanya sepanjang 800 meter.
Penulis: Yulia Gumay

