Culinary TourismTourism

Kopi Ijo dan Cethe Khas Tulungagung Jawa Timur

Kopi Ijo dan Cethe

Soal Tulungagung rasanya nggak lengkap tanpa ngomongin yang namanya cethe dan kopi ijo. Ya, kopi ijo dan cethe adalah kopi khas kota Tulungagung. Kopi Cethe adalah kopi hitam murni sedangkan kopi ijo adalah kopi hitam yang dicampur dengan bubuk kacang hijau dan diolah dengan cara tertentu yang menghasilkan warna hitam kehijauan pada kopi sehingga disebut kopi ijo/ hijau. Aromanya pun beda, aroma kopi seperti dibakar. Mungkin proses pengolahannya juga berbeda sehingga rasa dan aroma yang dihasilkan juga berbeda. Cethe, dari asal katanya, “cethe” sebenarnya adalah limbah dari seduhan kopi atau biasa disebut ampas kopi yang biasanya mengendap di bawah setelah beberapa saat kopi didiamkan. Baik kopi cethe maupun kopi ijo, keduanya bisa dijadikan bahan untuk nyethe asalkan memiliki ampas kopi dan ampas tersebut halus.

Warna kopi yang hitam kehijauan konon katanya merupakan hasil dari racikan kopi yang dicampur dengan kacang hijau dan rempah-rempah khusus yang diramu dengan resep tertentu sehingga menghasilkan cita rasa kopi ijo yang khas dan membudaya di kota Tulungagung. Bermula dari secangkir kopi cethe panas, lalu diseduh dengan sendok kecil, tunggu beberapa saat setelah bubuk kasarnya agak melarut. Kemudian tuang kopi tersebut pada sebuah piring kecil. Sekitar 5 menit kembalikan lagi air kopi ke dalam cangkir, sehingga tinggallah bubuk kopi yang paling lembut di atas lepek. Nah, itu dia cethe-nya. Cethe dikeringkan dengan kertas koran atau tisue, lalu tuangi susu kental seperlima sendoh teh. lalu diaduk kedua adonan tersebut hingga menjadi satu dan kita oleskan pada sebatang rokok. Akhirnya jadilah rokok cethe khas Tulungagung.

Kopi cethe ini hampir mirip dengan kopi lelet yang ada di daerah pesisir timur Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ampas kopi yang mengental ditambah susu lalu dioles-oleskan ke batang rokok dengan motif-motif tertentu. Kegiatan nyethe tersebut bervariasi cara mengendapkan kopi setelah diaduk dengan sendok, dituangkan ke lepek dan ditunggu beberapa menit, kemudian diminum sedikit demi sedikit airnya kopi atau air kopinya dituangkan kembali ke cangkir, lalu diletakkan potongan kertas kecil-kecil diatas ampas kopi yang telah diendapkan di lepek untuk menyerap sisa air kopi, setelah kertas diambil semua kemudian ditambah susu kental sedikit dan air kopi sedikit atau ditambah vanili sedikit biar harum baunya lalu diaduk di lepek tadi dengan sendok kecil tipis.

Ada juga dengan cara tanpa diberi campuran susu kental ataupun vanili. Selanjutnya siap untuk nyethe. Ada kalanya si penjual ( pemilik warung kopi ) sudah menyediakan cethe ( ampas kopi ) yang sudah siap untuk dioles-oleskan pada batang rokok. Adapun cara mengoles-oleskan juga beraneka ragam dan bervariasi sesuai inspirasi orangnya, ada yang dilukis dengan motif-motif batik, ada yang dilukis abstrak, tulisan atau huruf-huruf, ada yang diblock tipis, dan sebagainya. Kopi Cethe atau Kopi Ijo sebuah istilah untuk menyebut jenis kopi bubuk yang terkenal di daerah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Kopi yang satu ini unik karena memiliki warna kehijau-hijauan jika air kopi dituang ke dalam lepek (piring kecil).

Kopi Ijo memang mempunyai rasa dan juga tekstur yang berbeda dari kopi lainnya. Rahasianya bukan dengan memberikan campuran bahan lain saat pembuatan kopi, ini murni tanpa zat pewarna. Tetapi pada proses pengeringan biji kopi. Kopi Ijo ini disangrai dengan menggunakan kayu bakar yang terpilih dan juga wajan dari tanah liat. Saat proses biji kopi ini disangrai dilakukan dengan telaten dengan menjaga besarnya api agar tetap stabil sehingga biji kopi bisa matang dan kering dengan merata.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button