Kuliner dapat Membentuk Jati Diri dan Identitas Suatu Bangsa

0
Kuliner dapat Membentuk Jati Diri dan Identitas Suatu Bangsa

Gastronomi pada prinsipnya adalah “The Art Of Good Eating” (seni akan makan yang baik) yang melihat dan mengkaji makanan (boga) dari sejarah dan budaya. Pelakunya disebut sebagai “Gastronom” yang dalam tindakannya melakukan penilaian. Seorang gastronom tidak harus pandai memasak atau ahli dalam sejarah dan budaya makanan, namun cukup sekedar mengenal secara umum

Gastronom harus punya passion terhadap makanan karena yang bersangkutan adalah food connoisseur (pecinta, pemerhati dan penikmat makanan). Gastronomi bagi Indonesia merupakan topik yang menarik karena negara ini sangat kaya akan makanan yang tersebar di kepulauan Nusantara dari Sabang sampai Merauke.

Presiden IGA Indrakarona Ketaren mengatakan, sekian ratus tahun gastronomi telah berjalan menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Indonesia yang diimplementasikan ke dalam tata krama hidangan berbagai budaya bangsa budaya kepulauan nusantara sampai kepada budaya suatu negara

“Keanekaragaman makanan di bumi pertiwi Indonesia masih seperti harta karun terpendam, masih banyak yang langka dan relatif belum dikenal atau jarang dipresentasikan secara nasional maupun internasional,” kata Indrakarona pada Seminar Nasional Gastronomi Indonesia, yang diselenggarakan di Lantai 4 Gedung III Kemensetneg, Jakarta, Selasa (23/10).

Meskipun kita tahu hilirnya adalah untuk kepentingan pariwisata. padahal makanan punya perspektif sejarah dan sisi budaya yang didalamnya terkandung cerita atau kisah baik mengenai falsafah dan filosofinya yang lahir dari kearifan lokal suatu bangsa.

“ini penting mengingat berbicara soal makanan ada suatu benang merah yang selama ini tidak pernah menghubungkan beberapa faktor menjadi satu kesatuan. Makanan dianggap sebagai resep Indonesia atau sekedar icip icip atau nama makanan itu sendiri,” pungkasnya.

Direktur Utama TVRI Helmy Yahya mengatakan, “Beberapa waktu yang lalu CNN melakukan voting makanan paling enak sedunia, Indonesia dengan rendang nya berada di peringkat 1 dan nasi goreng di peringkat 2. Betapa hebatnya Indonesia, ini adalah modal untuk mengembangkan perekonomian Indonesia,” ujar Helmy Yahya.

Selain itu, kontribusi perekonomian kreatif di mana kuliner menyumbangkan PDB sebesar 12,4 triliun dan kuliner berkontribusi sebesar 3 persen.

Seminar hari ini berupaya mengubah mindset masyarakat terhadap makanan. Mindset itu dengan memberikan nuansa lebih luas terhadap makanan itu, mindset itulah yang selama ini menjadi ciri khas gebrakan IGA.

Menurut Indrakarona, branding diartikan sebagai identitas nasional prestige atau kekuatan image suatu bangsa. Branding itu bukan diartikan suatu logo tapi adalah emosi, personality, visi, misi yang ingin dikomunikasikan secara luas. Dengan branding ini banyak negara negara lain mendapatkan faedah keekonomian yang selama ini tidak pernah di branding di Indonesia, padahal itu sudah ada tapi tidak terintegrasi sama sekali.

“Selama sekian tahun IGA memperjuangkan makanan dengan mindset idiosingkatis branding enterpreneurship. pendekatan itu baik kepada Kementerian, lembaga, pemerintah, pemerintah daerah perguruan tinggi. Namun masih terasa diartikan mereka makanan sebagai icip-icip,” ungkapnya.

Sesuai arahan Bapak Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas September 2016 dan Februari 2017 mengenai tingkat diplomasi yaitu, diplomasi kebudayaan, olahraga, film, dan makanan. IGA menyimpulkan bahwa Bapak Presiden ingin mendapatkan masukan apa yang  menjadi branding dari makanan Indonesia, apa nama makanan yang bisa dijadikan ikon nation branding Indonesia baik di dalam negeri maupun di dunia internasional.

IGA memperlebar arahan diplomasi makanan yang diputuskan bapak presiden mengenai branding disampingkan dengan entrepreneurship yang diperkirakan dapat berkontribusi terhadap pengembangan ekonomi.

“Hari ini IGA bersama Sekkab mencoba mengajak seluruh pihak terkait baik dari kalangan pemerintah non pemerintah dan swasta meluruskan potret makanan Indonesia dari 3 koridor idiosinkratis. untuk branding power akan dicari referensi untuk membangun suatu image nation branding Indonesia di dalam negeri maupun di dunia internasional, apa itu dengan menggunakan nama makanan atau non makanan dan lain sebagainya,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *