Business

Lebih memilih menjadi pengusaha kemasan makan

catur-jatiwaluyo--Tinggalkan Karier, Sukses Bisnis Kemasan Makanan Beromzet Puluhan Miliaran

Catur Jatiwaluyo, merupakan seorang salah satu contoh pengusaha yang sukses saat sekarang ini. Bermula dari melihat kebutuhan akan kemasan pada makanan membuat Catur berani mengambil kesempatan ini dan mengembangkannya hingga mampu masuk ke KFC, Nestle dan Burger King. Siapa menyangka bisnis yang dibantu temannya ini dapat maju pesat disaat sekarang ini. Catur meninggalkan kariernya di Deptack, salah satu perusahaan kemasan dari Australia pada Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 2008 karena permintaan temannya yang sudah hampir bangrut menjadi titik balik kesuksesan Catur Jatiwaluyo dalam dunia bisnis. Pasca krisis ekonomi itu, ia bersama dua orang rekannya mendirikan PT Paperocks Indonesia yang berpusat pada pasar domestik. Beberapa kemasan yang telah diproduksi seperti gelas kertas, kertas pembungkus nasi, kotak kertas, mangkuk sup, gelas es krim dan juga alas makanan. Jika Anda pergi ke salah satu restoran cepat saji, anda bisa menemukan barang-barang tersebut selalu digunakan. Beberapa perusahaan waralaba makanan dan minuman pun ikut menggunakan kemasan miliknya salah satunya Kopi Brontoseno yang berasal dari Kediri.

 

Deptack, beliau menjabat sebagai direktur di dalam perusahaan ini, bukan hal yang mudah untuk melepaskan diri dari jabatan tersebut. PT Paperrock sudah beroperasi sejak tahun 2011 dyang berlokasi di kawasan industri Newton Technopark, Lippo Cikarang, Perusahaannya sekarang telah memasok berbagai kemasan baik dari plastik hingga kertas kurang lebih ke 100 perusahaan di Indonesia. Dia berharap perekonomian baik di Indonesia maupun dunia dapat terus membaik bahkan meningkat. Jika perubahan ekonomi yang terus terjadi dengan adanya ekspansi usaha perusahaan makanan dan minuman, ini akan menguntungkan perusahaan yang ia jalankan. Beliau melihat masyarakat yang tinggal di beberapa negara maju mau menggunakan pembungkus kertas setiap kali berbelanja. Berbeda dengan masyarakat di Indonesia yang masih menggunakan pembungkus plastik.

 

Produksi dari pabrik dengan luas 5.000 meter persegi (m²) tersebut, Paperocks mampu mencetak penjualan di pasar domestik sebesar Rp 18 miliar per tahun. “Jika ditambah ekspor, omzet bisa mencapai Rp 40 miliar per tahun,” ujarnya. Catur mengaku tidak terlalu mengalami kesulitan dalam melakukan pemasaran. Fokus di pasar domestik, pelan-pelan Catur berhasil meningkatkan pangsa pasar di industri kemasan makanan di dalam negeri. Ia tak menampik, banyak yang heran dengan kesuksesannya di pasar domestik dalam waktu yang relatif singkat. “Saya ini sudah 11 tahun di industri yang sama, sebenarnya teman-teman sendiri yang bantuin,” ujarnya merendah. Sukses di bidang pema-saran itu tidak didapat dengan mudah. Catur harus gencar keliling daerah menemui relasi bisnisnya. Bahkan, hingga tahun 2012, ia belum sukses menembus pasar Surabaya. Padahal, Surabaya merupakan pintu masuk pemasaran ke kota-kota lain di Jawa Timur. (arf)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button